
Di rumah keluarga Marvous, kini di ruang tamu sofa-sofa sudah penuh dengan keluarga Mara yang datang.
Csrti, Son dan puterinya Leyza. Mereka tampak duduk dengan tenang karena mulai saat ini mereka bisa bersantai di rumah megah milik keluarga Marvous.
"Bagaimana? apa tidak keberatan jika Yanza aku titipkan kepada kalian?, " tanya Mara menatap mereka dengan penuh harap, untuk tiga hari ke depan dirinya harus ke luar kota untuk mengurus bisnisnya maka dari itulah Mara mengundang tiga orang itu dengan bertujuan bisa menitipkan Yanza kepada mereka. Memang di rumahnya ada Bibi Pelayan dan Bodyguard yang siap siaga untuk menjaga dan merawat Yanza selama Nyonya Besar mereka tidak ada di rumah, tetapi tetap saja di dalam hatinya merasa gusar dirinya akan tenang jika ada keluarga yang bersamanya.
"Tentu kami akan dengan senang hati menjaga dan merawat Yanza, kamu tenang saja Mara karena sudah di pastikan Yanza akan aman bersama kami. " jelas Certi meyakinkan.
"Iya Tante, Leyza juga akan menjaga Yanza dengan sepenuh hati. " lanjut Leyza mendukung sandiwara sang Mama sementara Sondrik hanya diam karena ia sudah percayakan semuanya kepada anak dan istrinya sehingga dia tidak perlu lagi susah payah berakting di depan kakak iparnya.
"Baiklah, sepertinya aku akan berangkat sekarang karena dua jam lagi pesawat akan lepas landas. " ujar Mara namun sebelum dirinya beranjak dari duduknya, dua menyempatkan diri untuk mengecup wajah Yanza berulang-ulang kali hingga membuat bocah itu mengerang kesal.
"Aku bukan anak perempuan!" ucapnya seraya menjauhkan wajah tampanya dari hadapan Mara, sementara Neneknya itu hanya terkekeh.
"Selama Nenek pergi kamu jadilah anak baik Yanza," nasihat Mara sembari mengusap-usap kepala Yanza lalu mengecupnya satu kali setelah itu Mara beranjak pergi.
"Ingat! jadi anak yang baik Yanza, " pekik Mara ketika sampai di pintu keluar, setelah itu barulah dia membuka pintu.
Cklek!
Hening, tidak ada yang berbicara selepas Mara keluar dari rumah megah itu. Mereka hanya saling tatap-menatap sementara Yanza melihat mereka dengan tatapan sinis.
Cklek!
Pintu kembali terbuka dan kali ini memperlihatkan Fathia yang berdiri di ambang pintu dengan membawa beberapa buku di tanganya, dia memang sudah mulai berangkat bekerja setelah satu minggu mengambil cuti dan kebetulan Harra sudah mendingan bahkan dua hari yang lalu sudah boleh pulang maka dari itulah Fathia sekarang berada di rumah keluarga Marvous. Namun ketika melihat banyak orang tengah berkumpul dirinya sontak saja mengundurkan niatnya untuk terus melangkah.
__ADS_1
"Selamat pagi Nona Tuan, " sapa Fathia seraya membungkukan badanya memberi tanda hormat.
"Siapa? " tanpa menjawab Son langsung bertanya karena jujur sana baginya Fathia adalah orang asing karena tak pernah ia melihat.
"Saya guru privat Tuan Muda, " jawab Fathia dengan seramah mungkin.
"Oh, "
Hanya jawaban itu saja yang di keluarkan oleh Son, lalu dia bangkit dengan gaya angkuhnya tak lupa juga anak dan istrinya juga ikut bangkit untuk menikmati segala fasilitas yang ada di rumah mewah keluarga Marvous. Beruntungnya Mara tidak memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga suaminya karena hanya mereka yang dirinya punya walau suaminya sendiri telah tiada.
Walaupun hampir semua keluarga dari suaminya itu mata duitan tapi tak membuat Mara sedikit-pun merasa benci karena baginya harta dia juga milik keluarga suaminya.
,
Fathia berjalan mendekat ke arah Yanza yang sudah duduk dengan tenang di sofa, tak seperti biasanya Yanza menurut saja saat Fathia mengajari berbagai macam materi. Tapi mungkin Yanza memang sedang jinak.
"Otaku tidak sebodoh otak orang lain yang hanya mementingkan kebahagian dunia, jadi sudah pasti aku paham dengan maksud yang kau jelaskan tadi. " entahlah mungkin saja ucapan Yanza terlalu panjang lebar.
"Baguslah, mungkin aku akan mencoba memberikan soal-soal untukmu. Aku ingin mengetes seberapa paham otakmu itu, " ujar Fathia sementara Yanza hanya berdehem saja dengan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa sementara Fathia duduk di lantai.
"Oke, ini coba kau kerjakan. " titah Fathia sembari menyodorkan sebuah kertas yang sudah terisi beberapa soal yang harus Yanza isi setelahnya.
Yanza membenarkan posisinya, lalu tanganya mulai bekerja dengan di iringi otaknya yang ikut serta dalam berfikir. Nampak bocah kecil itu mengerjakan soal-soal dengan mudah dan serius, dirinya memang siang ini sedang malah bertingkah karena sedang meneratapi nasibnya nanti ketika keluarga dari kakeknya itu mulai menindasnya.
Sementara Fathia hari ini terlihat tenang membuka-buka lembaran yang ada di atas meja dengan menunggu Yanza selesai dari tugasnya.
__ADS_1
"Sudah selesai, " ujar Yanza dengan meletakan pensil di samping kertas soal-soal tadi sementara dirinya kembali menyender di sofa dengan tangan yang di lipat depan dada.
"Bagus, kau sudah paham dengan materinya. " ucap Fathia tersenyum gembira akhirnya dia bisa membuat bocah kecil itu paham.
Fathia melirik jam yang selalu setia bertengger di lenganya, jarumnya sudah jelas menunjukan angka sebelas siang. Sudah waktunya dia pulang karena kebetulan Fathia mengajar hanya tiga jam saja sebab Yanza juga harus tidur siang dan kegiatan lainya.
"Kegiatan belajar mengajar hari ini aku tutup sampai sini saja, apa ada pertanyaan dari Tuan Muda? " tanya Fathia memastikan sementara Yanza hanya menggeleng saja dengan matanya yang rapat terpejam.
"Kalau begitu aku pamit pulang ya, " ucapnya seraya membereskan buku-buku yang ada di meja setelah itu dirinya bangkit.
"Selamat siang Tuan Muda, saya permisi undur diri. " pamit Fathia setelah itu melangkah menjauh dari Yanza.
Cklek!
Usai Fathia pergi, di ruang tamu sekarang kembali hening tanpa ada suara sedikitpun namun beberapa menit kemudian terdengar suara memekakan telinga yang berhasil membuat mata Yanza terbuka dari keasyikan pejamanya.
"Enak banget ya! bisa tidur gitu aja, " Carti berteriak dengan menatap tajam tak lupa juga dengan tanganya yang bertengger di pinggang lebarnya.
"Kenapa? ini kan rumah Neneku jadi suka-suka akulah, kecuali jika ini rumah Bibi. " jelas Yanza dengan menatap sinis Carti yang semakin melebarkan tatapanya.
"Beraninya kau! " tanganya hendak melayang namun sebuah tangan lembut yang bertengger di pundaknya berhasil meredakan emosi yang sudah meledak-ledak.
"Tenangkan dirimu Ibu," ucap Leyza dengan suara lembut sembari memberi kode lewat tatapanya. sementara Certi yang sudah paham dari kode puteri semata wayangnya itu langsung melangkah pergi entah kemana.
Setelah Certi pergi Leyza lalu duduk di samping Yanza walah bocah itu menyingkir sampai ujung sofa karena tak mau dekat-dekat dengan wanita ular berbisa itu.
__ADS_1
"Yanza, jika aku menjadi Ibumu aku akan selalu membelamu. "