
Indonesia - Jakarta.
22:30
Seorang wanita dengan pakaian kurang bahan tampak memainkan perannya sebagai seorang Disc Jockey atau Dj yang tugasnya menyetel musik hingga terdengar begitu kencang memekakkan telinga di tambah cahaya lampu yang terang dan berwarna-warni, terlihat juga orang-orang berjoget dengan begitu lincah.
Di sebuah meja panjang dengan kursi tinggi yang berderet rapih dengan orang-orang yang mendudukinya sembari menenggak minuman beralkohol, disana juga terdapat Roder tengah melakukan hal yang sama seperti lainnya.
Pria yang sudah berumur itu sedang menunggu tiga wanitanya yang akhir-akhir ini sikapnya sudah berbeda.
"Madam Lie!" seru Roder saat melihat pemilik bar langgananya lewat di depannya.
Lie yang di panggil seketika menoleh. "Apa?" tanyanya dengan nada yang tidak senang, mungkin ada suatu problem antara keduanya.
"Madam, dimana wanita-wanitaku?" pertanyaan Roder sontak membuat Lie memutar matanya dengan malas, hingga akhirnya ia memilih untuk berjalan pergi. Meninggalkan Roder yang terus memanggil namanya.
"Dasar wanita tua sombong," umpat Roder dengan kesal, seraya tangannya mengambil gelas sloki yang sudah di isi penuh oleh bartender.
Glek!
Glek!
Glek!
Saat ia tengah menenggak minuman beraroma menyengat tersebut, matanya tak sengaja melihat tiga wanitanya sedang berjalan bersama satu seorang pria berumur. Mereka memeluk tubuh pria itu dengan posesif, sesekali juga mereka terdengar bercanda dan tertawa lepas. Membuat Roder seketika emosi.
Tak!
Roder meletakkan gelas yang di genggamnya ke atas meja dengan kasar sampai menimbulkan suara khas yang nyaring, membuat orang-orang yang berada di dekatnya menoleh.
Dengan wajah memerah, Roder menatap punggung empat orang tadi yang barusan lewat. "Pengkhianat!" umpatnya dengan nada yang bisa di bilang kencang, hingga lagi-lagi membuat orang-orang yang berada di dekatnya. Suara bisik-bisik kali ini terdengar.
Seorang pria yang menjadi bartender tampak hendak bicara, namun Roder justru bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan begitu saja menuju pintu utama.
Bartender yang melihatnya dengan cepat lari mengejar, dan secara kebetulan Lie lewat di depannya.
"Madam Lie," sang bertender seketika berhenti saat melihat pemilik tempat dia bekerja kini berada di depannya dengan tangan yang mencekal.
"Ada apa?" tanya Lie.
"Ada satu pelanggan yang kabur tanpa membayar Madam," jawab sang bartender dengan cepat, sementara Lie yang mendengarnya langsung menggeram kesal.
"Penjaga!"
***
Roder terlihat mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, membuat pengendara lain secara bergantian membunyikan klakson. Dan akhirnya terjadi sebuah kekacauan di jalan raya, tetapi walaupun begitu. Roder tetap melajukan kendaraannya tanpa mengurangi kecepatan.
Tin!
Tin!
Tin!
Suara klakson terus terdengar saling bersahut-sahutan, membuat kepala Roder pusing di buatnya. Ingin rasanya ia berteriak memarahi, tapi tak ada waktu untuk melakukannya. Karena di belakang mobilnya terdapat mobil milik Lie yang berjarak kurang lebih sepuluh meter tampak sedang mengejarnya.
Ting!
Sebuah lampu lalu lintas terlihat menyalakan lampu berwarna merah yang mengharuskan para pengendara untuk segera berhenti, tapi tidak dengan Roder. Pria itu malahan menerobos lampu merah masih dengan kecepatan tinggi, tampaknya ia sudah tak perduli lagi dengan yang namanya konsekuensi.
Roder terus menjalankan mobilnya yang kecepatannya sudah ia kurangi karena dirinya harus berpikir akan kemana sekarang, sempat terbesit memang untuk kembali ke rumah yang ia tinggali selama ini. Tapi Lie pasti akan datang kerumah untuk mencari keberadaanya.
"Apa aku numpang di rumah Dodi aja ya? Dulu 'kan kita deket, pasti mau bantu lah." gumamnya yakin, kemudian mulai menambah kecepatan laju mobil. Dan berbelok ke arah kiri, Roder ingin lewat jalan pintas saja supaya cepat. karena memang rumah kawanya berada di kota lain, butuh sekitar tiga jam untuk sampai.
"Sepertinya wanita tua itu..."
Dor!
Dor!
__ADS_1
Prang!
Hanya dengan dua kali tembakan, kaca mobil bagian belakang pecah. Membuat Roder secara reflek menoleh, hingga tak menyadari jika sudah ada satu mobil berwarna merah terang sedang menghadang mobilnya dengan jarak lima meter. Dan karena keadaan itulah Roder yang baru saja kembali menolehkan kepalanya ke depan langsung menginjak rem.
Ciit!
"Sial!" umpat Roder kesal, namun kekesalan itu langsung sirna berganti dengan rasa takut saat matanya sendiri melihat Lie orang yang sedang ia hindari kini turun dari mobil. Wanita yang mengenakan drees ketat berwarna biru tua tanpa motif, sementara rambut pendek sebahunya yang belum terlalu banyak tumbuh uban tersebut dia gerai. Sebuah kacamata hitam juga bertengger di hidungnya, di kedua tanganya juga terpakai sarung tangan putih yang sepertinya sengaja ia pakai untuk maksud tertentu. Dan terakhir sebagai alas kakinya Lie menggunakan sepatu tinggi warna hitam yang ikut serta menambah ketakutan Roder karena suaranya yang terdengar jelas.
Tak!
Tak!
Tak!
Langkahnya semakin dekat, semakin pula Roder panik.
Cket!
Cket!
Cket!
Roder terus mencoba untuk menyalakan mesin yang tak kunjung menyala, sementara itu. Lie sudah berada di pintu samping kemudi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Roder! kau mau keluar dengan cara baik -baik atau sebaliknya?" teriak Lie sembari terus mengetuk kaca mobil.
Sedangkan Roder sendiri tidak menggubris, pria itu justru terus mencoba menyalakan mesin. Hingga akhirnya kaca mobil yang di sampingnya pecah.
Prang!
Seorang pria berbadan besar tampak membuka pintu mobil setelah itu langsung menggeret tubuh Roder yang wajah dan tangannya terluka akibat terkena serpihan kaca, tapi kini malah semakin parah saat kulitnya yang tak tertutup kain terkena gesekan kaca.
Bhug!
Pria tadi yang menggeret tubuh Roder kemudian melepaskannya, sementara Lie yang berperan sebagai Bos. Tampak melihat Roder dengan tatapan jijik.
"Dasar Pak Tua! bisanya hanya membuat orang susah saja." cemooh Lie tersenyum mengejek menatap Roder yang dari raut wajahnya seperti kesakitan.
"Bantu dia berdiri," titah Lie dengan tegas.
"Siap Madam," jawab dua pria berbadan besar dengan kompak yang posisinya ada di belakang Lie.
Dua pria yang tadi di beri titah langsung jalan mendekat ke arah Roder, dan terlihat juga mereka sama-sama mengenakan sarung tangan.
Mereka mengangkat tubuh Roder dengan kasar hingga posisinya berdiri dengan kedua tangannya yang di pegang erat oleh bawahan Lie.
Lie maju.
"Sekarang! saya beri anda dua pilihan. Bayar semuanya atau saya laporkan anda ke pihak berwajib," ujar Lie dengan tegas.
Plak!
Pria yang ada di sebelah kiri, langsung menampar wajah Roder dengan begitu kencang hingga menimbulkan suara yang keras.
"Jawab!" hardiknya kemudian.
Roder yang baru saja kena hardik, hanya bisa mengumpat dalam hatinya. Padahal dia sedang memikirkan jawabanya, di antara dua pilihan tadi yang nyatanya tidak menguntungkan untuk dirinya. Pilihan pertama, Lie bilang harus membayar semuanya. Itu berarti dirinya juga harus membayar wanita-wanitanya, dan tentu saja jumlahnya tak sedikit. Sementara Roder tentu tak punya uang sebanyak itu, ya. Walaupun bisa ia menjual barang mewah miliknya, tapi Roder tidak ingin menjualnya. Sedangkan pilihan kedua jelas Roder sangat menolaknya karena tidak mau menghabiskan masa tua di penjara.
"Pukuli dia sepuas kalian! Tapi jangan sampai dia mati," titah Lie saat tak kunjung dapat jawaban, sementara Roder yang mendengarnya seketika membelalakan mata.
"M-madam!"
Dhugk!
__ADS_1
"Argh!"
Belum selesai ia berucap, salah satu pria yang mengapitnya langsung meninju perut Roder hingga membuatnya mengarang sakit.
Bhug!
Satu bogeman di layangkan lagi ke wajah Roder sampai membuat ujung bibir luka.
"Sst..." desisnya kesakitan sembari menyentuh bibirnya dengan tangannya yang sudah bebas, sementara matanya melirik Lie yang berjalan ke arah mobil merah terangnya. Sebenarnya Roder ingin memanggil wanita yang Ia panggil Madam itu, tetapi baru saja mulutnya terbuka satu tinju kembali melayang ke wajahnya.
Dhug!
"Awh!" erang Roder kesakitan saat tubuhnya jatuh di aspal yang sudah tidak mulus lagi.
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
"Argh!"
Rasa sakit belum juga mereda tapi kini dua pria itu maju dan menampar Roder dengan bergantian sampai wajah yang memang sudah memar kini banjir cairan kental berwarna merah maroon yang bersumber dari kulit yang robek.
Selanjutnya, satu pria yang terlihat paling antusias mengangkat kakinya lalu meletakkannya di bawah tulang dada dan di atas pusar. Tepat di ulu hati, kemudian menekannya dengan sekuat tenaga. Dan hal itu rupanya sukses membuat Roder kesakitan hingga akhirnya-
"Uhuk! Uhuk!" ia batuk darah, tubuhnya bahkan sampai terguncang. Tapi si pelaku tetap meletakkan kakinya pada posisinya semula dengan semakin menekannya membuat rasa sakit semakin menyiksa, Roder yang memang sudah kehabisan tenaga hendak mengangkat tanganya dengan gerakan lamban. Namun, sebuah kaki lain menendang tanganya sampai jatuh. Roder reflek melihat pria yang berdiri kini jongkok lalu kedua tanganya dengan cepat mencekek leher Roder hingga membuatnya hampir kehabisan napas.
"Haah...Hah..." Roder membuka mulutnya yang sudah bercampur darah.
Nyawa Roder sudah di ujung tanduk, sepertinya dirinya akan mati malam ini juga. Tapi dia sendiri belum ingin mati.
"Pion!" panggil pria yang tadi menginjak ulu hati Roder, sementara yang di panggil menoleh dengan menampilkan muka masam. Dia paham maksud temannya memangggil, tapi... ayolah dirinya baru saja mulai. Namun, walaupun belum puas pria yang hampir membuat Roder mati segera melepaskan tanganya dari leher Roder. Setelah itu bangkit dan pergi meninggalkan temannya yang segera menyusul.
.
.
.
.
.
.
.
Halo guys, apa kabar.
Duh maaf yah aku hampir sebulan gak updet karena banyak kendala, jadi sekitar dua minggu lalu atau lebih aku sebenernya mau up loh. Tapi hpku mendadak eror, yaudah aku benerin dulu dengan susah payah sampe tersulut emosi hehe. Dan pas udah bener akunya udah terlanjur kesel berakhir gak jadi nulis.
Kemudian selang beberapa hari aku sakit, tipesku kambuh sampe seminggu. Yaudah aku gak up.
Setelah sembuh aku mulai nulis tuh, nah pas udah ratusan kata tetiba tulisanku kehapus sendiri. Tapi pas itu aku nyoba ngulang lagi dengan coba buat sabar, tapi sayangnya kejadian yang sama keulang lagi. Dan aku yang kesabarannya kayak tisu di bagi dua terus di siram air langsung kesel, akhir-nya berhari-hari lamanya aku mogok nulis.
Tapi tadi malam aku pengen nulis tuh, yaudah aku nulis sampe jam setengah satu. Nah karena gak mau tulisanku kehapus lagi, aku sesekali simpen tuh. Tapi kok seketika loadingnya lama, Yaudah aku cek kuota dan ternyata abis, Dan karena itu aku beli kuota tuh lewat aplikasi, Tapi kok gak bisa-bisa yaudah aku coba terus sampe kesabaranku abis, Yaudah aku tidur karena beberapa jam lagi mau sahur walaupun akhirnya gak sahur juga karena masih ngantuk banget.
Dan hari ini aku up hehe.
Sorry banget ya, cius aku ngerasa gak enak udah gak up lama. Ehm kayaknya sampe sini aja ya soalnya udah kepanjangan.
Oh Iya, aku mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga lancar puasanya ya hehe.
See you at another time.
Jaga kesehatan ya.
__ADS_1