
05:45
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
Fathia yang tengah mendorong kursi roda yang dimana ibunya duduk disana, namun langkahnya terhenti ketika hendak ke dapur manakala suara ketukan terdengar.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu? " gumam Fathia merasa heran.
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
Lagi, pintu terdengar di ketuk namun Fathia tidak langsung beranjak membukanya tapi mengantar ibunya untuk ke dapur terlebih dahulu.
"Fathia bukain pintu dulu ya Bu," pamit Fathia yang di balas anggukan dari Harra, setelahnya Fathia langsung berjalan menuju sumber suara.
Cklek!
"Tada…! "
Seorang wanita cantik tersenyum manis seraya merentangkan kedua tanganya yang terdapat beberapa paper bag yang ia bawa.
"Siapa? " tanya Fathia mengernyit yang membuat senyum wanita cantik di depanya seketika luntur.
"Hey, sepertinya kepalamu barusan terbentur batu raksaksa saat tidur sampai lupa dengan sahabatmu sendiri." ujar wanita cantik itu dengan wajah kesal.
"Maaf, tapi saya memang tidak mengenal Anda." ucapan Fathia kali ini mampu membuat wanita cantik itu kelimpungan, astaga! apakah wajahnya berubah drastis selama tujuh tahun ini.
"Jeetje, apakah kamu lupa dengan sahabat kecilmu sendiri Fathia!? ini aku Frevilins Arsyia. Uh ayolah aku tahu kita tidak bertemu selama tujuh tahun ini karena aku kuliah di Belanda ta-tapi, " ujar Vilins dengan frustasi.
"Mungkin Anda salah orang Nona eh siapa tadi? Praviliun Arsitektur? " sontak saja Vilins yang mendengarnya tambah menekuk mukanya.
"Mungkin benar aku salah orang," ucap Vilins dengan lesu seraya membalikan badanya hendak pergi namun dengan segera Fathia berlari dan memeluknya.
"Kyaa … kamu tertipu lagi Vilins sahabatku tersayang." ujar Fathia memeluk sahabat kecilnya dengan gemas, namun Vilins langsung melepas pelukan Fathia dengan muka kesal.
"Echt Klote, (Sungguh menyebalksn)"
"Kamu ngomong apa sih Praviliun?" tanya Fathia tidak mengerti yang di balas decihan dari Vilins.
"Sudah lupakan, lebih baik kamu bawa ini karena aku ingin segera bertemu dengan Tante tercinta." ucap Vilins sembari memberikan paper bag ke tangan Fathia setelah itu dirinya langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa menunggu di persilahkan oleh si empunya rumah.
__ADS_1
"Dasar Praviliun!! "
Vilins tidak perduli dengan ocehan sahabatnya, karena dirinya sedang cipika cipiki dengan Harra.
"Ya ampun tujuh tahun berlalu Tante makin cantik aja deh," basa-basinya sementara Harra hanya menggelengkan kepala saja.
"Ya iyalah, Ibunya siapa dulu?" celetuk Fathia dari belakang seraya meletakan beberapa paper bag di kursi meja makan.
"Vilins, mari sarapan bareng." ajak Harra tulus yang langsung membuat senyum Vilins bermekaran dengan di iringi anggukan kepala yang begitu antusias.
"Yeee giliran soal makan aja langsung ngangguk," cibir Fathia sembari menyiapkan makanan di meja makan.
"Kalo di tolak nanti mubazir, " saut Vilins yang langsung duduk di samping Harra dan langsung mengambil banyak makanan ke piringnya.
Fathia tidak ingin menanggapi yang nantinya hanya membuat suasana semakin runyam tiada yang ingin mengalah, akhirnya dia lebih memilih untuk menyiapkan makan untuk dirinya sekaligus untuk ibunya.
"Oh iya, weekend kamu sibuk gak? kalo enggak sibuk aku mau ajak kamu ke festival kuliner." tanya Vilins sembari mengunyah sarapanya.
"Kalo kamu yang bayar semuanya sih aku mau-mau aja,"
"Kalo itu sih gampang, tinggal minta sama Vader (Ayah) " jawab Vilins dengan enteng.
***
"Terimakasih pak," tutur Fathia dengan senyum ramahnya yang di balas oleh ojek online di depanya.
"Iya Neng, sama-sama." sautnya lalu pamit untuk pergi karena ada orderan lain.
Fathia membalikkan badanya menatap gerbang yang menjulang tinggi sehingga menambah kesan mewah, nampak dua security membuka pintu gerbang.
"Pagi Neng," sapa mereka dengan ramah.
"Pagi juga Pak Usman Pak Toyib," sapa balik Fathia dengan senyum ramahnya.
Setelah sedikit berbincang-bincang, Fathia melanjutkan langkahnya menuju pintu masuk rumah Marvous.
Cklek!
Ketika pintu terbuka, terlihatlah Mara yang nampak tengah membaca sebuah majalah namun ketika indra pendengaranya menangkap suara pintu terbuka dirinya langsung mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Selamat pagi Nyonya Mara," sapa Fathia.
"Selamat pagi juga Fathia," balas Mara sementara Fathia mulai melirik kesana-kemari karena sedari tadi tidak juga nampak seorang Yanza.
Mara yang paham dengan apa yang sedang karyawanya cari seketika berdehem, "Yanza sedang bersama ayahnya, oh iya saya mau bicara sama kamu sebentar."
Fathia mengangguk setelahnya duduk di samping Mara dengan bersiap mendengar apa yang akan bosnya itu sampaikan.
"Saya dengar kemarin Yanza mengerjai kamu lagi ya? dengan meminta di traktir di restoran mahal sampai merogoh kocek dua juta," tanya Mara.
"Iya Nyonya, kemarin Yanza memang minta di traktir padahal saya sudah menolaknya." jawab Fathia yang mendapatkan helaan nafas dari Mara.
"Maafkan cucuku ya, tapi ini saya menggantinya." ujar Mara meminta maaf sembari menyerahkan satu amplop berwarna cokelat.
Dengan sopan dan hati yang senang Fathia menerimanya lalu mengucapkan kata terimakasih, akhirnya uang dua juta itu kembali lagi ke genggamanya.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Bau alkohol menyeruak di dalam ruangan tertutup tanpa ada jendela maupun lubang angin sama sekali, dengan asap tipis mengepul dari pria-pria yang tengah asyik bermain kartu.
Nampak satu wanita tengah duduk dengan kakinya yang sengaja ia letakan di atas meja yang terbuat dari kayu jati, tangan kanannya menggenggam sebuah botol berisi minuman keras yang sudah ia tenggak sebagian. Membuat bibir sensualnya basah dan tercium aroma khas alkohol.
"Jeremy? "
Pria berbadan kekar yang tengah memantau komputer di hadapanya seketika menoleh.
"Lusa target akan mendatangi festival kuliner, aku rasa itu waktu yang tepat." jelas pria bernama Jeremy itu.
"Bagus, setelah ini kau hubungi Roder biar dia yang urus." titah wanita itu seraya menenggak habis satu botol alkohol.
"Sialan! aku kalah lagi," celetuk salah satu pria yang tengah bermain kartu, ia nampak mencebik kesal karena yang telah ia keluarkan berjumlah dua puluh juta kini resmi menjadi milik sangat pemenang. Rupanya bukan hanya dirinya saja yang kesal namun yang lainya juga sama.
"Marchi, daripada kau kesal lebih baik antar aku pulang." ujar wanita itu seraya bangkit dan meraih jaket kulitnya yang ia sandarkan di kursi kebesaranya, setelah itu ia pakaikan guna menutupi tubuh bagian atasnya yang sedikit terbuka.
Marchi yang mendengar permintaan bosnya langsung mengangguk lalu menoleh ke arah teman-temanya. "Aku pergi dulu ya,"
"Oke bro, "
Sementara wanita tadi yang bernama Clathria Nandor telah melangkah mendahului dengan tanganya yang mengotak-atik benda pipih miliknya untuk menghubungi orang-orang yang ia anggap dapat membantu.
__ADS_1
'Aku akan mengusik kalian semua dengan tujuan yang tentu saja berbeda'