
"Bos," Reki memanggil Bos-nya yang tengah asyik bermain catur dengan Roder, orang kepercayaannya.
Clathria menoleh ke arah Reki dengan melirik anak kecil yang menatapnya sinis, setelah itu kembali fokus bermain catur.
"Ikat dia di kursi, " ucap Clathria dengan tanganya yang sibuk memindahkan bidak catur.
"Baik Bos!" saut Reki dengan tegas, setelah itu menoleh ke belakang dan memberi kode dengan mata.
Lalu Toni melangkah maju ke arah kursi yang mungkin saja sudah di siapnya, setelah Yanza duduk di kursi dengan tenang. Barulah Toni mengambil tali dan mengikatnya dengan sekencang-kencangnya agar Yanza tidak bisa bebas.
Sementara Yanza nampak tenang, tidak memberontak sedikitpun. Karena dirinya ingat betul kata-kata sang Ayah, jika terjadi hal yang tak di inginkan di sarankan bersikap tenang. Sebab jika tidak, maka tenaga akan habis sia-sia dan waktu juga ikut terbuang tanpa sempat berfikir.
"Sudah selesai Bos," ucap Toni.
Clathria nampak menoleh. "Yasudah, sana pergi!" titahnya dengan ketus.
Toni mengangguk, lalu menyusul Reki yang sudah keluar terlebih dahulu. Pria bertubuh gempal itu sebenarnya merasa tidak tega, apalagi hatinya yang begitu lembut dan lembek.
"Reki," panggilnya yang hanya di balas deheman saja tanpa tolehan kepala, sebenarnya Toni merasa kurang nyaman ketika berbicara dengan Reki, karena pria berkulit sawo matang di sampingnya itu kerap kali mencacinya bahkan nada yang tak pernah lembut. Namun tak apalah, sebab hanya Reki saja yang mau berteman dengan dirinya.
"Sebenarnya aku merasa tidak tega dengan bocah itu, dia tampan dan menggemaskan." ungkapnya dengan membayangkan wajah Yanza.
"Ck, kau itu terlalu lembek Ton! aku heran kenapa pria gempal jelek sepertimu bisa di terima bekerja? Yeah walau aku tahu jika kamu hanya di jadikan babu saja tidak lebih." ucap Reki dengan nada mengejek.
Toni yang mendengarnya nampak menunduk, kalau bukan karena faktor ekonomi. Tidak mungkin ia mau bekerja di tempat yang hanya bisa merusak mental saja.
"Lihatlah lemakmu itu, semakin hari semakin tumpah hahaha." lanjut Reki dengan di akhiri gelak tawa, ia merasa senang mengejek manusia gempal seperti Toni.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Fathia terus menunduk, perutnya juga sedari tadi keroncongan terus menerus. Membuatnya meringis, pasti penyakit Mag yang ia derita akan kambuh. Tapi, semoga saja tidak. Karena dirinya tak mau sakit dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
"Gak mungkin 'kan? kalau aku ngandelin orang-orang itu membebaskan-ku. Udah bisa di tebak kalau mereka paling cuman mau buat aku menghembuskan nafas terakhir disini," gumam Fathia seraya mendongak, menatap langit-langit ruangan kotor tersebut yang sudah terlihat usang.
Lalu matanya melirik kesana-kemari, mencari apapun itu yang sekiranya bisa melepas tali yang mengikat kencang. Ia sudah nertekad kuat jika akan berusaha untuk kabur walau Fathia sendiri tahu. Bahwa mustahil dirinya akan bisa kabur, tapi ia bisa memanfaatkan kemampuan bela dirinya. Ya, walaupun Fathia cukup ragu karena sudah tidak pernah mengasah kemampuannya akhir-akhir ini, jadi sudah sedikit lupa.
Ketika matanya melirik kesegala arah, tanpa sengaja. Fathia melihat pisau kecil dengan gagang yang berlapiskan silikon berwarna biru, posisi pisau tersebut tepat di tempat dimana Yanza tadi terduduk.
Fathia nampak tersenyum, lalu bergumam. "Pasti bocah itu yang sengaja meletakkan pisau untuku, hehe. Tak apalah walau dia menyebalkan, yang penting bisa jadi pahlawan kesiangan."
Setelah bergumam, Fathia lalu mengesot untuk mendekat ke arah pisau berlapiskan silikon.
Tangan yang masih terikat kencang, dengan bersusah-payah meraih pisau walau tanganya harus tergores.
Di geseknya ke tali tebal tersebut.
"Awh!'
Tak!
Spontan, Fathia melepaskan pisau yang sudah setengah memutus tali. Tapi sungguh, telapak tangannya terasa sakit. Hingga membuat Fathia harus meringis kesakitan.
Tak ingin tanganya kenapa-napa, akhirnya Fathia melepaskan tali yang sudah setengah terputus dengan sekuat tenaga. Akhirnya berhasil.
Fathia tersenyum senang, dan setelahnya langsung melepaskan tali yang mengingat kakinya. Sembari meringis karena tanganya yang sudah berlumuran darah.
Srek!
Setelah semua tali terlepas, Fathia langsung menyobek ujung bajunya guna menutupi luka yang ada di telapak tanganya agar darah tidak terus keluar.
Usainya, Fathia lalu bangkit. Dan meraih pisau tajam milik Yanza, sekaligus tali tebal yang ada disana. Ia akan menggunakannya untuk berjaga-jaga saja.
"Huuh," helanya menatap pintu ruangan penuh debu yang ia tapaki. "Semangat Fathia cantik," lanjutnya menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Akhirnya dengan ragu, Fathia meraih knop pintu.
Clek…Clek…
Pintu terkunci.
"Baiklah kalau memang tidak bisa di buka dengan cara baik-baik," gumamnya sebelum ia menubrukan tubuhnya sendiri hingga membuat pintu yang terbuat dari kayu jati itu tumbang.
Dua pria yang sedari tadi terus bercengkrama, langsung menoleh dan menatap Fathia dengan tajam,
"Kau mau cepat mati? hah!" bentak seorang pria berambut panjang.
Fathia sebenarnya merasa sedikit takut, apalagi melihat badan dua pria itu yang sungguh besar.
"Sebelum kita bertindak lebih lanjut, lebih baik kau masuk kembali sampai ajal menjemput. " timpal pria berkepala plontos dengan jenggot lebat yang tumbuh dari dagunya.
Fathia yang tidak bisa menerima ucapan pria berkepala plontos dengan baik, tanpa pikir panjang lagi langsung menendang bagian vitalnya hingga pria itu tumbang dengan meringis kesakitan.
Melihat itu, pria berambut panjang langsung mengambil ancang-ancang untuk menyerang wanita lancang yang ada di hadapanya. Namun, gerakanya kalah cepat dengan Fathia yang langsung menggores leher pria itu hingga darah memuncrat kemana-mana.
Reflek, pria berambut panjang memegang lehernya yang sudah di banjiri oleh darah segar yang terus keluar bagaikan air terjun. Hingga akhirnya tubuhnya tumbang tak sadarkan diri, atau mungkin sudah tidak bernyawa lagi.
"Astaga! apa tadi mengenai nadinya?" gumam Fathia yang merasa ngeri sendiri, sungguh ia merasa sudah gila karena berani menghabisi nyawa seseorang.
"Breng*ek!" umpat pria berkepala plontos yang mencoba untuk bangkit walau harus menahan rasa sakit yang begitu terasa.
Fathia yang sudah bosan, langsung mengeluarkan tali yang ia bawa. Lalu memasangkanya ke leher pria berkepala plontos seraya menariknya kuat-kuat, hingga leher pria berkepala plontos tercekik.
"Le-lepas!" pinta pria itu dengan terbata-bata.
Fathia mendengus kesal, tapi dirinya tetap melepaskan tali yang membuat pria berkepala plontos merasa tersiksa.
__ADS_1
Setelah tali terlepas, pria berkepala plontos langsung tumbang. Namun masih bisa menatap Fathia dengan tajam.
"Ck, sudah aku turuti kemauanmu. Tapi mata sialan milik Bapak masih berani menatap-ku tajam, " ucap Fathia sebelum akhirnya melangkah pergi.