Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Thirty One .. Belanda


__ADS_3

Belanda - Amsterdam


Kurang lebih tujuh belas jam dirinya sampai di Belanda dengan transportasi udara, dan di sinilah mereka berada dengan Fathia yang menatap takjub bangunan megah yang ada di hadapan-nya kini, sebuah rumah khas Belanda bertingkat dengan tembok bercat putih di imbangi warna hitam. Nampak elegan di pandang mata, membuat Fathia terus berdecak kagum.


"Yuk, " ajak Vilins yang di bales sebuah anggukan kepala dari Fathia dengan di lanjutkan tangannya mulai mendorong kursi roda ibunya.


"Lins, "


"Hm?"


"Rumahmu bagus banget, "


"Hehe, makasih. " saut Vilins terkekeh.


Di depan sana, tepatnya di teras rumah. Ternampak satu wanita bernama Reniera dan satu pria yaitu Jeremy, mereka tengah berdiri memandang kedatangan empat orang dengan tersenyum. Dan saat orang yang di tatap telah berdiri di depannya, wanita cantik itu langsung memeluk Fathia dengan penuh kehangatan.


"Wow, je bent erg mooi. " pujinya setelah puas berpelukan.


Fathia yang mendengarnya langsung menoleh pada sahabatnya. "Moeder bilang kamu cantik banget," ucap Vilins mengartikan yang langsung di balas anggukan paham.


"Terimakasih Tante," ucapan Fathia seketika langsung membuat wanita itu terkekeh seraya menepuk jidatnya karena terlupa satu hal.


"Sorry, mulai sekarang ik akan bicara menggunakan bahasa Indonesia kalau sema je. " ucap Reniera tak terlalu fasih hingga mengharuskan Fathia untuk mendengar dengan baik, lalu kemudian menoleh ke arah Harra.

__ADS_1


"Bagaimana kabar ibu Harra?" tanya Reniera dengan ramah.


"Kabar saya baik," jawab Harra dengan tersenyum tulus.


"Syukurlah kalau begitu, ehm oh ya lebih baik kita semua masuk karena sarapan juga sepertinya sudah siap." ajak Reniera yang di balas anggukan oleh semua orang.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Sementara di Indonesia sendiri, sudah waktunya untuk makan siang. Dan di saat itulah kebanyakan orang lebih memilih untuk mengisi perut mereka masing-masing terlebih dahulu.


Akan namun, berbeda dengan Felson Roderick Ardana. Pria itu, menatap rumah tua yang masih terawat dengan bibirnya yang membentuk sabit. Seusai dari club untuk bersenang-senang dari semalam, dirinya langsung melaju menuju rumah mantan istrinya.


"Aku yakin, kali ini akan berhasil. " gumamnya seraya tanganya hendak membuka gerbang rumah setinggi dada orang dewasa yang telah berkarat minta di ganti.


Namun walaupun sudah di cobanya kuat-kuat, gerbang rumah tetap tak bisa di buka. Membuat Roder yang rambutnya mulai memutih menggeram kesal dengan sesekali umpatan kasar keluar dari mulutnya.


Roder menoleh saat merasa ada orang yang memanggil.


"Bapak mau ngapain di depan rumah orang? dorong-dorong gerbang rumah pula. Mau maling ya?!" tuduh pria berperut buncit dengan kumis hitam tebal bertengger di bawah hidung peseknya.


"Heh enak saja kalau ngomong!" sentak Roder merasa tak terima. "Apa Anda tidak melihat mobil mewah milik saya ini?"


Pria yang menuduh tadi langsung melihat ke arah mobil yang di tuju. "Heleh, palingan juga masih kridit. " ucapnya menohok.

__ADS_1


"Ngomong apa kamu hah?!" bentak Roder seraya mendekat dan tangannya langsung mencengkram kerah baju si pria yang mungkin sepantaran denganya.


"Nyamuk gak pake celana," elak pria yang siap untuk di tonjok.


Wajah Roder terlihat memerah, dengan kasar di lepaskan cengkramannya. "Saya itu bukan maling, saya kesini karena ada kepentingan sama yang punya rumah. " ungkap Roder yang tengah malas debat, apalagi perasaannya sedang tidak baik-baik saja.


Sedangkan pria tadi tampak manggut-manggut, seolah mengerti. "Ooo, tapi tadi pagi saya lihat penghuni rumah ini pergi bawa koper di jemput sama mobil yang lebih mewah dari mobil bapak. "


"Terus?" tanya Roder penasaran, mengabaikan kalimat terakhir yang menyinggungnya.


"Teras terus teras terus, emang saya dukun yang tau semuanya!" saut pria itu akhirnya emosi sendiri. dan selanjutnya pergi tanpa pamit.


Roder terlihat tak ambil pusing dengan pria tadi yang ngambek, karena dirinya lebih memilih untuk berpikir dengan siapa mantan istri dan anaknya pergi? lalu kemana mereka pergi.


"Pasti orang itu," gumamnya yakin seraya menatap kembali gerbang rumah, dan mendekatinya dengan tangan yang mencoba untuk membukanya kembali.


"Shiit!" umpatnya kesal.


Akhirnya dengan berat hati, dirinya berjalan kembali mendekat pada mobil miliknya dan masuk ke dalam.


Brak!


Di tutupnya mobil, setelah itu pikiranya mengawang jauh memikirkan darimana lagi dirinya akan mencari uang. Sementara wanita-wanitanya terus merengek meminta uang yang tak sedikit jumlahnya.

__ADS_1


"Duh, Clathria udah di penjara. Sekarang mau minta uang sama siapa lagi aku?" gumamnya frustasi, walaupun jika di pikir-pikir ya masih beruntung. Tak ikut terseret dalam urusan rumit yang berurusan sama pengabdi negara.


Sebenarnya Roder melakukan perjanjian di atas kertas yang di lakukan pula oleh Jeremy semenjak awal, jika namanya akan terus aman. Karena tidak masuk dalam daftar pelaku kejahatan, dan Clathria yang bodoh semenjak mengenal cinta. Setuju-setuju saja.


__ADS_2