Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter thirty six ... Pesan Tiket


__ADS_3

Cklek!


Fathia membuka pintu rumahnya, menaruh sepatunya di rak khusus. kemudian berjalan dua belas langkah.


Cklek!


Membuka pintu di depannya yang tak di kunci, di dalam kamar tepatnya di atas ranjang king size terdapat Harra sedang merajut.


"Ibu," panggil Fathia setelah menutup pintu, Harra menoleh. Tersenyum lebar menyambut kepulangan anaknya yang tak ia sadari sangking asiknya merajut.


"Fathia, sini sayang." ujar Harra menepuk pelan sisi sebelahnya.


Fathia mengangguk kemudian naik ke atas ranjang lalu memposisikan dirinya untuk bersandar di kepala ranjang, setelah itu Fathia menatap sang ibu yang tengah menatapnya tersenyum sembari mengelus rambut panjang Fathia dengan lembut.


"Bu, ibu kenapa belum tidur?" tanya Fathia karena hari sudah menunjukan pukul sembilan tapi ibunya belum tidur juga.


"Ibu gak bakal bisa tidur kalo anak ibu yang cantik ini belum pulang," jawab Harra jujur.


Fathia diam mendengar jawaban manis Harra membuatnya ingin membalas tapi suara dering ponsel mengurungkannya dan segera dirinya merogoh tas slempang yang belum ia lepas untuk mengambil ponselnya.

__ADS_1


"Abian?" gumam Fathia lirih seraya mengangkatnya.


"Fathia kamu masih di belanda?" tanya Abian langsung tanpa basa basi.


Fathia mengernyit bingung. "Ya, aku masih di Belanda. Memangnya kenapa?"


Di seberang sana terdengar Abian menghela napas beberapa kali. "Tadi Fa, pas aku pulang dari kota Bogor. Aku gak sengaja lihat Ayah kamu terbaring di jalanan, kondisinya memprihatinkan. Sekarang beliau udah di rumah sakit,"


Fathia mendengar itu biasa saja, tak ada rasa kekhawatiran barang sedikitpun.


"Kalau bisa, kamu pulang ke Indonesia Fa. Soalnya dari tadi Ayah kamu terus ngegumamin nama kamu, kasihan."


"Ta..."


"Maaf Bi," selanya dengan kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Sementara Harra di sampingnya menatap Fathia dengan sendu, sedari tadi dirinya menyimak obrolan Fathia dengan Abian. "Kenapa?"


Fathia menoleh, tersenyum manis. Tanpa ingin menjawab, Fathia langsung saja turun dari ranjang kemudian melepaskan tas lalu berjalan menuju lemari pakaian dan membukanya setelah itu mengambil piyama sekaligus handuk untuk mandi.

__ADS_1


Setelah usai Fathia berjalan ke arah pintu karena kebetulan letak kamar mandi ada di luar kamar, tapi sebelum dirinya menyentuh knop pintu. Harra berucap


"Fathia, coba untuk kali ini saja kamu pandang ayahmu sebagai sosok yang baik bukan jahat. Bagaimanapun sikapnya dia tetap Ayahmu," Harra memberikan sebuah nasihat yang menohok hingga mampu membuat Fathia diam sejenak.


"Maaf, apa Ibu masih cinta sama Ayah?" entah keberanian dari mana hingga membuat Fathia melontarkan 'kan pertanyaan tersebut.


"Tidak," jawab Harra singkat tapi jujur.


Fathia mengangguk kecil. "Aku mandi dulu Bu," pamitnya dan langsung membuka pintu usai mendapat anggukan kepala dari Harra.


Tap... Tap... Tap... Tap... Tap ... Tap... Tap...


Fathia berjalan tujuh langkah kemudian berhenti dan duduk di kursi, meletakkan kedua tanganya di atas meja kemudian menjatuhkan kepalanya begitu saja.


"Hiks..."


Butiran air bening dengan rasa asin seketika menetes begitu saja, mewakili perasaan Fathia yang jelas tidak baik-baik saja.


kurang lebih sepuluh menit Fathia menitikkan air mata, hingga akhirnya ia meraih ponsel kemudian membuka aplikasi pemesanan tiket.

__ADS_1


Oke, untuk kali ini dirinya akan mencoba untuk mendengar perkataan ibunya.


__ADS_2