Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Kedatangan Roder


__ADS_3

Nampak Fathia yang tengah turun dari motor matic yang di kendarai oleh pria berjaket hijau, tangan kananya terulur untuk membayar ongkos. Sementara tangan kirinya nampak menyangking sebuah plastik berukuran sedang dengan berisikan stok makanan.


"Makasih Neng, " ujar pria bertubuh kurus tinggi tersebut.


"Iya, sama-sama Pak." saut Fathia, setelah itu pria yang sudah mengantarnya pulang akhirnya berpamitan lalu melajukan motornya.


Selanjutnya Fathia lalu menolehkan tubuhnya, namun. keningnya langsung mengernyit heran saat melihat mobil putih berjenis Innova tengah terparkir rapih di halaman rumah.


'Ada tamu kah? tapi siapa?' batin Fathia, tapi sedetik kemudian ia langsung berjalan cepat melewati gerbang berkarat rumahnya yang telah terbuka lebar.


Di saat sudah dekat dari pintu masuk, terdengar sayup-sayup suara seorang pria yang Fathia sendiri kenali tengah berbicara serius namun sesekali terdengar tawa mengejek. Terdengar pula suara sang ibu yang seperti menahan amarah, hingga membuat Fathia merasa was-was sekaligus khawatir atas kedatangan orang yang mungkin saja mempunyai niat buruk yang terselubung. Dan maka dari itulah, Fathia langsung bergegas masuk kedalam rumah.


"Kasihan sekali kamu Harra, dulu kau cantik hingga menjadi barang taruhan. Tapi sekarang?! sungguh menyedihkan." ujar Roder mengejek.


"Jangan hina ibuku!" ucap Fathia dengan lantang, matanya menatap sang Ayah dengan begitu tajam. Bahkan kantong belanjaannya jatuh di lantai begitu saja, sementara Roder menatap Fathia dengan tersenyum penuh maksud.


"Akhirnya kau datang juga anak tercinta ku," ujar Roder tanpa rasa malu sedikitpun. "Ayo duduk di samping Ayah," lanjutnya sembari menepuk sofa usang guna mempersilahkan Fathia yang tak merespon sedikitpun, bahkan gadis itu lebih memilih untuk berjalan mendekat ke arah ibunya yang tengah duduk di kursi roda dengan mata sembab.


"Apa tujuan anda datang kesini?!" tanya Fathia dengan penuh penekanan.


Roder nampak terkekeh. "Tentu saja meminta uang untuk bermain judi,"


Mendengar itu, matanya terasa panas. Bahkan hatinya terasa terhanyut dalam lautan larva.


Prang!


"Brengsek!" bentak Fathia setelah barusan melempar sebuah fas yang berisikan bunga hias hingga membuat Harra tersentak kaget, dan karena itulah tanganya reflek mengusap punggung anaknya. Berharap bisa membuat amarah yang di rasakan Fathia dapat menurun, walaupun jujur saja jika dirinya juga merasakan hal yang sama. Namun tenaganya sudah habis setelah berdebat hebat barusan sebelum Fathia pulang.


"Wah-wah-wah apakah ini hasil dari didikanmu Harra? hingga puteriku bersikap kurang ajar terhadap ayahnya?! sampai berani mengeluarkan kata kasar beserta nadanya yang tinggi. Padahal aku datang dengan cara baik-baik," ujar Roder menyalahkan mantan isterinya yang nampak dadanya sudah naik turun.

__ADS_1


Sementara Fathia yang kembali tak terima, langsung mengeluarkan nada tingginya kembali. "Diam kau pria tak tau diri! lebih baik pergi dari sini sekarang juga sebelum aku mengusirmu dengan kasar,"


"Oh ayolah, calm lagipula apa kau tak mau menjadi anak yang berbakti?" tanya Roder menatap anaknya yang sudah beranjak dewasa.


"Aku tak akan sudi berbakti kepada iblis," ujar Fathia penuh emosi.


"Hehe kau ini, padahal ayah hanya meminta uang. " ucapnya dengan menggesekkan jari telunjuk beserta ibu jarinya. "Tapi malah responmu tak mengenakan, yah akupun tau bahwa kalian tak punya uang. Tapi kan kalian masih punya rumah, kalau di jual pasti untung banyak. Dan bisa di berikan untuku juga,"


"Mas!" sentak Harra yang sudah tak bisa bersabar lagi. "Aku tau bahwa darahmu mengalir pada Fathia, dan aku tak melarangmu untuk bertemu dengan darah dagingmu karena itu hakmu sebagai seorang ayah. Tapi untuk meminta uang bahkan menyuruh kami menjual rumah itu bukan hakmu sama sekali!"


Roder nampak terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dengan mata yang menatap mantan istrinya sinis. "Baiklah, kalau kau tak mau menjual rumah ini. Biar aku saja yang menjualnya," ujarnya seraya bangkit dengan di susul oleh Fathia yang berlari mengejar.


"Jangan harap!" teriaknya dengan begitu kencang dan saat posisinya sudah sejajar dengan langkah sang ayah kandung, Fathia langsung menarik tangan kekar tersebut dan memelintir-nya.


"Aw-aw-aw sakit, hahaha!" kelakar Roder sembari kakinya menendang kaki Fathia hingga gadis tersebut jatuh di lantai keramik dengan empuk usai merasakan dorongan yang kuat.


Fathia mencoba untuk bangkit agar bisa mencegah aksi ayahnya, namun sayang seribu sayang saat kakinya terasa terkilir membuatnya tak bisa berdiri.


Cklek!


"Siapa kamu!"


Tepat saat pintu terbuka, terdengar suara pria hingga mampu membuat Roder balik arah. Hingga akhirnya terlihat siapa yang telah berteriak barusan, yaitu seorang pria yang sepertinya seumuran denganya.


"Vilins dan ayahnya kok bisa disini?" gumam Fathia yang mengenal betul sosok lelaki bernama Veenod Jack Mandor yang tak lain dan bukan lagi ialah ayah kandungnya Vilins.


Roder nampak acuh, dan lebih memilih untuk segera masuk ke dalam kamar yang dulunya sempat ia tinggali bersama sang mantan isteri. Dengan langsung dirinya menuju ke arah laci-laci yang ada di sana, Roder harus segera menemukannya dengan cepat. Sebab, sudah ada orang yang minat karena model bangunannya yang terlihat antik.


Sementara Harra langsung mendorong kursi rodanya untuk mencegah kegiatan Roder, bahkan Veen juga dengan cekatan langsung berlari dan masuk ke dalam kamar. Sedangkan Vilins dengan segera mendekat ke arah Fathia dan membantunya untuk duduk sofa.

__ADS_1


***


"Hahaha akhirnya!" Roder tertawa dengan begitu senangnya, namun. Itu hanyalah sementara, karena map yang ada di genggamnya langsung berpindah tangan.


"kurang ajar!" sentaknya begitu emosi yang dapat di lihat dari tatapannya yang mengarah pada Veen.


"Jij (kamu) lebih godverdomme, karena masuk ke dalam kamar orang dengan sembarangan dan tanpa izin. " kecam Veen dengan suara yang tak begitu fasih dalam mengucapkan bahasa Indonesia.


"Hey, dengar yah! masalah aku masuk ke dalam kamar manapun itu bukanlah urusan anda!" ketus Roder.


Veen nampak berdecih kesal, dirinya baru pertama kali ini bertemu dengan orang macam ayah kandungnya Fathia. "Terserah, I (aku) malas berbicara dengan orang sepertimu." ungkapnya seraya beranjak pergi, namun instingnya merasa bahwa Roder akan segera menyerang. Dan karena itulah Veen dengan segera membalikan tubuhnya dan menendang kaki Roder yang sudah melayang.


"I sudah berbaik hati tidak menyerangmu, tapi sekarang rupanya jij ingin menantangku?" ujar Veen, sedangkan Roder tanpa banyak bicara lagi langsung mengepalkan tanganya dan hendak menghantamkan ke arah rahang pria yang mungkin sepantaran denganya. Dan Veen untuk kedua kalinya langsung menelintir tangan Roder dan menonjok rahangnya hingga bibir Roder sedikit pecah, bahkan rahangnya terasa patah.


"Bagaimana? apakah jij masih ingin melanjutkan perkelahian ini?" pertanyaan Veen seketika membuat Roder kembali berpikir, jika ia lihat. Tenaga Veen cukup besar bahkan instingnya kuat, membuat pergerakan Roder dapat di baca oleh pikiranya.


Dan akhirnya Roder bangkit dari jatuhnya, lalu dengan langkah tertatih-tatih dirinya pergi seraya tanganya ia tempelkan pada rahang.


Veen memandang dengan wajah datar, dengan selanjutnya ia juga menyusul keluar karena tak mungkin berlama- lama di dalam kamar seseorang. Sekalipun Veen sudah mengenai baik sang pemilik.


***


Fathia yang melihat ayahnya keluar dari rumah dengan begitu saja, seolah ingin mengucapkan kata-kata yang membuatnya puas. Namun ia urungkan saat melihat Veen, ayahnya Vilins datang dengan membawa sebuah map di tanganya yang langsung di serahkan kepada Harra.


"Terimakasih banyak Pak Veen atas bantuannya," ujar Harra.


"Graag gedaan, " balas Veen, setelah itu dirinya duduk di atas sofa ruang tamu.


Dan jadilah mereka berkumpul berempat, dan mulai saling berbicara menanyakan kabar satu sama lain setelah keadaan terasa sudah kondusif. Bahkan obrolan sesekali di selingi dengan canda tawa, Fathia serta Harra bersyukur karena mereka datang dengan tepat.

__ADS_1


__ADS_2