Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Thirty.. izin


__ADS_3

Fathia nampak membereskan beberapa buku yang baru saja ia pergunakan untuk mengajar Yanza yang anak itu kini sedang bermain dengan manusia lego miliknya dan satu buah mainan pesawat.


"Huh…" Fathia menghembuskan napas hangatnya seraya menoleh ke arah Yanza. "Yanza, apa kamu masih gak ada keinginan buat sekolah?"


Yanza diam sesaat, memandang wajah Fathia yang entah kenapa hari ini nampak berbeda. Tak seceria seperti biasanya.


"Tidak, " jawabnya kemudian yang kembali bersikap biasa.


"Tuan muda apakah kau punya sebuah cita-cita?" tanya Fathia.


Yanza nampak tersenyum tipis, pikirannya langsung menerawang jauh. "Aku ingin menjadi pilot, "


"Nah, kalau kamu pengen jadi pilot. Harus sekolah setinggi-tingginya, kalau Yanza gak mau sekolah nanti gak bisa jadi pilot. " jelas Fathia.


"Tapi…"


"Abaikan egomu sejenak demi masa depanmu, " ujar Fathia dengan tersenyum tulus, sedangkan Yanza diam.. Memikirkan ucapan Fathia.


"Oh iya, Nyonya Mara dimana Yan?" tanya Fathia yang dari tadi belum juga melihat Mara sama sekali.


Yanza yang hendak menjawab langsung bungkam saat yang di tanyakan kini tengah berjalan mendekat. "Ada apa Fa?"


Keduanya sama-sama menoleh dengan Fathia yang langsung menjawab. "Ada hal penting yang mau saya bicarakan Nyonya, "


Mara yang sudah duduk di singgle sofa menganggukkan kepala, kemudian menoleh ke arah sang cucu. "Yanza kamu main sama Mis Wi dulu ya, " ujar Mara merasa obrolan kali ini serius.

__ADS_1


"Baiklah, " ucap Yanza sembari turun dari sofa, lalu berjalan dengan gagah menuju bodyguard wanita yang di tugaskan untuk menjaganya.


***


"Oke Fathia, sekarang kamu mau bicara soal apa?" tanya Mara to the point.


"Saya ingin mengundurkan diri Nyonya, " jawab Fathia langsung yang membuat Mara jadi salah faham.


"Kenapa? apa Yanza membuat ulah?" tanya-nya.


Fathia menggeleng. "Bukan itu Nyonya, tapi ada hal lain. "


Mara yang mendengarnya jadi penasaran, namun tak mungkin juga bertanya tentang hal yang tak wajib di ketahui-nya.


Sementara Fathia nampak merogoh tasnya dan selanjutnya mengeluarkan sebuah kertas berlamping. "Ini nilai Yanza Nyonya, " ujarnya memberikan kertas tersebut yang langsung di terima.


Beda halnya dengan Fathia yang sibuk melihat jam tangan miliknya, yang tanpa sengaja Mara melihatnya. Hingga membuatnya langsung meletakan kertas yang di genggamnya ke atas meja, setelahnya ia merogoh tas miliknya dan mengeluarkan amplop coklat.


"Fathia, kamu serius?" tanya Mara memastikan yang di jawab anggukan mantap.


"Yasudah kalau begitu, ini uang untuk gajimu bulan ini. " ujar Mara menyerahkan uang yang seharusnya dirinya berikan satu pekan kemudian.


Fathia dengan sopan menerimanya. "Terima kasih banyak Nyonya, " ucap Fathia yang di balas sebuah anggukan kepala beserta senyuman tulus.


Kembali Fathia melirik pergelangan tangannya, lalu kembali menatap bosnya atau bisa di bilang mantan bos. "kalau begitu saya pamit undur diri, "

__ADS_1


"Oh iya Fa, hati-hati ya. "saut Mara yang di iyakan oleh Fathia dan dirinya beranjak dari sana untuk bergegas pulang.


...,━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Tak terasa langit sudah berubah gelap, orang-orang yang semulanya sibuk beraktivitas kini sudah masuk kedalam rumahnya masing-masing. Sama halnya dengan Fathia kini, namun gadis itu nampak tengah sibuk memasukkan baju dirinya dan sang ibu ke dalam koper lama. Karena besok siangnya mereka berdua akan berangkat ke negeri kincir angin setelah semalam penuh ia berpikir berulang kali.


"Fathia, bawanya jangan terlalu banyak ya. Seperlunya saja, " pesan sang ibu yang posisinya tengah duduk di bibir ranjang dengan kakinya yang menjuntai ke bawah.


"Siap Bu, " balas Fathia yang kini beralih mengambil surat-surat penting dari dalam laci yang harus di bawanya dan memasukkannya ke dalam koper pula.


Setelah semuanya dirasa sudah selesai, Fathia beranjak ke atas ranjang dan berbaring di sana dengan di ikuti oleh Harra yang merebahkan diri di sebelah anak gadisnya lalu mendekapnya dengan satu tanganya yang membelai rambut Fathia yang sedikit kekuningan.


"Apa kita gak terlalu merepotkan buat Vilins dan keluarganya?" tanya Harra tiba-tiba.


"Entahlah Bu, tapi Fathia rasa ini keputusan yang baik biar 'dia' gak bisa ngambil hak kita lagi. " tanggap Fathia yang di iyakan oleh Harra.


"Yasudah, mending kita tidur yuk. " ajak Harra.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di sebuah kamar bernuansa luar angkasa dengan koleksi mainan tertata rapih. tampak Yanza yang tidak bisa tidur, terus memikirkan ucapan Fathia tadi siang. 'Abaikan egomu sejenak demi masa depanmu'.


"Hish, " dengusnya sebel dan membalikkan tubuhnya ke kanan, namun Kata-kata Fathia kembali di ingatnya.


Akhirnya dia memutarkan tubuhnya ke arah kiri, tapi tetap sahaja.

__ADS_1


"Apa aku…"


__ADS_2