
"Kalian tidak bisa kabur dsriku!"
Pria itu berjalan mendekat ke arah Fathia dan Toni dengan langkah yang lebar, nampak mimik wajahnya yang begitu murka. Seperti ingin mencabik-cabik apa saja.
Sementara Fathia yang melihat pria itu semakin dekat, langsung mengenali jika itu adalah bosnya sendiri. Mengetahui hal itu, sontak. Fathia langsung merasa senang karena ia berfikir akan segera bebas, sebab. Tak mungkin kan? kalau bosnya itu hanya menyelamatkan anaknya.
Namun kesenangan Fathia tak juga di rasakan oleh Toni, ia justru merasakan ketakutan yang dahsyat.
'Gawat!'
Hingga akhirnya tanpa pikir panjang lagi, pria dewasa berbadan gempal itu langsung menarik tangan milik Fathia. Sedangkan orang yang di tarik, langsung berteriak.
"Hey, kenapa Bapak menariku!" pekik Fathia dengan mencoba untuk melepaskan tanganya dari genggaman tangan lain yang ukuranya lebih besar dari padanya.
Toni yang merasakan sebuah penolakan, langsung berhenti dan menolehkan kepalanya dengan mata menatap nyalang. Sebenarnya Toni yang mempunyai hati lembek tak tega menatap gadis manis di depanya dengan tajam.
Namun, ia mencoba untuk mengesampingkannya untuk sementara. Sedangkan Fathia mengernyit tak mengerti dengan tatapan yang di berikan oleh Toni, hingga akhirnya ia ingin membuka mulut.
"Bapak kenapa sih?" Toni yang mendengar pertanyaan dari Fathia hendak menjawab, namun ia segera mengurungkan niatnya saat melihat Arson telah berdiri di belakang Fathia dan karena itulah Toni lebih memilih menarik tangan Fathia kembali. Namun baru saja ingin melangkah.
Brugk!
"Akhh! " pekik Fathia saat dirinya terjatuh dan merasakan kakinya yang di cekal oleh Arson, Toni yang melihat itu. Langsung saja membantu Fathia untuk bangkit, tetapi. Lagi-lagi langkah mereka harus terhenti saat mendengar ancaman dari mulut Arson.
"Kalau kalian bergerak satu langkah saja, maka saya tidak akan segan-segan untuk menembak kalian."
Deg!
Rupanya, ancaman dari Arson membuat Toni semakin pusing di buatnya. Kini dirinya malah menjadi serba salah, namun tidak dengan Fathia yang langsung berbalik arah.
__ADS_1
"Tuan, " ujar Fathia yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria dengan badan tinggi tersebut, sementara Fathia hanya mengernyit tak mengerti. Sejenak ia berfikir.
"Kalian berdua tidak perlu banyak omong, sekarang! tunjukkan dimana Yanza berada." bentaknya.
Fathia yang telah selesai berfikir dan menyadari satu hal, langsung membuka kain yang menutupi wajahnya. "Tuan, ini saya Fathia."
Arson yang mendengar hal itu, nampak acuh tak memperdulikan. Dan lebih memilih untuk menatap Toni yang saat ini hanya bisa menunduk.
"Apa kau tak mendengar perintah saya? kalau memang tidak mau ya sudah tidak apa-apa karena mungkin kamu telah siap untuk saya tembak dengan ini." ucap Arson dengan nada tinggi sembari menunjukkan sebuah senjata api yang kini berada di genggamanya.
Toni yang kembali diancam, semakin kaku. Kenapa dirinya harus terjebak dalam situasi buruk seperti ini?
Jika ia menurut, apakah akan selamat? Sementara jika ia tidak menurut sudah pasti tidak akan selamat. Hingga akhirnya, di beranikanya untuk mendongak. Walau hanya sedikit saja, namun saat melihat tatapan pria di depanya. Toni kembali menunduk.
"Diamu ku anggap sebagai jawabanya," ungkap Arson dengan tanganya yang siap menarik pelatuk, namun suara tiba-tiba dari Toni membuat Arson tersenyum mengejek.
"Baiklah, saya akan mengantarkan Tuan menemui Yanza." ucap Toni dengan ragu.
Bagaikan seorang bawahan, Toni langsung mengangguk mengiyakan. Setelah itu berjalan di depan dengan di ikuti Arson di belakangnya dan Fathia di belakangnya lagi yang seperti anak bebek.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Clathria memutuskan sambungan telepon secara sepihak setelah menerima telepon dari Jeremy yang mengabarkan tentang kondisi di markas, sementara Clathria yang memang sudah menduga langsung mendekat ke arah Yanza yang tengah diam namun otaknya terus bekerja.
'Sebentar lagi,'
"Hey anak manis? apa yang kau pikirkan hah!" ujar Clathria dengan nada bertanya.
"Oh, pasti kau tengah berfikir bahwa ayahmu itu sedang menjadi pahlawan kesiangan? hehe itu memang benar Zan. Tapi kau harus menjadi barang ancamanku terlebih dahulu, baru setelah itu boleh bebas. Yah kalau beruntung. " imbuhnya, dengan senyum mengejek. Nsmun senyumnya langsung luntur saat tak mendapatkan jawaban apapun dari Yanza, sontak saja itu membuatnya cukup kesal. Hingga tanganya hampir saja mencengkram dagu Yanza jika pintu ruangan tidak segera di buka paksa dari luar.
__ADS_1
"Clathria! " terdengar sebuah suara bariton yang membuat Clathria langsung menoleh.
"Oh Pak Letnan Jenderal Arson!" ujar Clathria tersenyum sinis, namun. Jujur di lubuk hatinya yang paling terdalam cukup senang dapat melihat cinta pertamanya.
"Ck, setelah kau sudah tak menjadi bagian dari militer karena kesalahan besar. Dan aku kira setelah kejadian beberapa tahun silam aku kira kau akan sadar diri, rupanya tidak." ungkap Arson dengan nada datar.
Clathria yang mendengar ungkapan dari Arson hanya bisa tersenyum samar. "Terserah kamu Son, mau mengatakan apa tentangku. Tapi intinya sekarang tujuanku sudah berbeda, aku menginginkan hartamu dan kalau bisa jabatanmu sekalian."
Arson mengangkat sebelah alisnya dengan sebuah senyuman yang seolah-olah mengejek, ia pikir Clathria sudah berubah. Namun, dugaannya ternyata salah besar. Karena sekarang Clathria justru lebih gila dari pada dahulu, bahkan kebodohannya semakin bertambah. Sungguh, ia baru pertama kali ini bertemu dengan orang yang di buat bodoh hanya karena menuruti egonya yang tanpa sadar merusak kepintarannya.
"Sudahlah, hentikan halusinasimu itu. Sekarang kau lepaskan anaku dan Loure!" ujar Arson memberi perintah, namun apa yang ia pinta tak di gubris sama sekali oleh Clathria. Gadis itu justru malah mengambil pisau lipat dari meja di dekatnya, setelah itu di dekatkanya ke leher Yanza tepat di nadinya.
"Aku akan melepasnya setelah kau menyerahkan segala milikmu." tukas Clathria.
Arson yang mendengarnya berusaha menahan tawa, dan lebih memilih menatap Yanza untuk memberi kode lewat kedipanya. Sementara Yanza yang paham langsung melepaskan tali yang mengikat tanganya secara diam-diam agar tidak ketahuan oleh Clathria yang masih menempelkan pisau lipat tersebut di lehernya.
Setelah terlepas, Yanza langsung merogoh saku celananya untuk mengambil bulatan kecil mirip batu kerikil yang bisa membantunya.
"Ap…"
Dom!
Dom!
Dom!
Sebuah suara mirip seperti bom akhirnya terdengar nyaring dengan keluarnya asap tebal yang mampu membuat siapa saja yang menghirupnya akan merasa ngantuk, maka dari itulah Yanza menutup hidungnya dengan pakaian lengan panjang yang ia kenakan dengan tangan satunya yang melepaskan tali di kakinya.
Begitu juga dengan Arson, namun salah satu tanganya menutup hidung Fathia yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Tutup hidungmu kalau tidak mau tidur di sini," ucapnya datar, sementara Fathia dengan cepat menutup hidungnya setelah menyingkirkan tangan Arson.