Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Six .. Kucing Dan Tikus Yang Baik


__ADS_3

Sudah lima menit berlalu, namun Mara tidak kunjung keluar sehingga membuat anak laki-laki berusia tujuh tahun itu gelisah karena sudah merasa bosan.


"Kenapa?* tanya Fathia menatap aneh ke arah Yanza yang sejak tadi tidak bisa diam.


"Aku bosan, " hanya dua kata saja yang Yanza lontarkan untuk menjawab pertanyaan Fathia, apalagi Mood-nya sudah tidak terlalu baik.


"Haha ya ampun, yasudah mari aku antar Tuan Muda jalan-jalan ya walau hanya ke taman rumah sakit saja. " ujar Fathia seraya bangkit lalu mengulurkan tanganya ke arah Yanza.


Yanza hanya menatap sinis ke arah tangan yang terulur itu, maka dari itulah Yanza langsung menepis-nya setelah itu dirinya beranjak dari duduknya lalu berjalan mendahului keluar dari rumah sakit Mutiara Bunda.


"Untung aku masih bisa sabar, kalo enggak udah di pastiin dia aku gantung di pohon pisang." ucap Fathia dengan begitu kesal terhadap sikap angkuh yang di tunjukan dengan begitu jelasnya oleh Yanza, beruntungnya bocah itu adalah bosnya jadi ia masih mau berbalik badan untuk mengejar langkah Yanza.


***


Kini, mereka berdua sudah duduk berdampingan di kursi taman rumah sakit namun tetap saja dua manusia itu saling berdiam diri.


Dengan Yanza yang sibuk memperhatikan sekitaranya hingga akhirnya sorot mata tajamnya menangkap satu keluarga kecil yang nampak bahagia, dengan seorang pria duduk di kursi roda dan anak laki-laki seusianya duduk di pangkuan sang Ibunda. Hatinya sepertinya terseset oleh pisau tajam karena merasa iri bahkan sangan iri melebihi apapun itu.


Berbeda dengan Fathia yang tak sengaja melihat seorang pria paruh baya tengah duduk dengan tanganya yang menyuapi seorang perempuan paruh baya yang mungkin saja itu istrinya, dengan satu perempuan muda seusianya yang nampak ser-senyum lebar. Membuat bibir Fathia ikut melengkung membentuk sebuah senyuman yang sangat manis itu namun hatinya terseset pisau tajam, ketika membayangkan jika dirinya ada di posisi mereka dengan keluarga yang lengkap namun itu hanya sebatas angan-angan karena Ayahnya sudah menceraikan Ibunya sebab tak ingin repot merawat sang istri apalagi sudah bangkrut dan itu membuat sang Ayah merasa takut jika harus hidup miskin.


"Hanya angan-angan, ".


Dua mata itu saling bertatapan, karena entah mengapa mereka malah mengucapkan sebuah kata yang sama.


" Ngapain ikut-ikutan? " tanya Yanza dengan mencebik kesal.


"Bukan aku ya, tapi kamu wahai Tuan Muda. " Fathia menjawab dengan tak mau kalah.

__ADS_1


"Alasan, " ucapnya dengan memalingkan muka ke arah lain.


Lagi, mereka kembali berdiam diri saling mengheningkan cipta. Memikirkan banyak hal yang hanya diri mereka saja yang tau, hingga akhirnya Fathia berdehem merasa penasaran apa yang Yanza pikirkan hingga mukanya nampak murung.


"Ehm, "


"Kenapa? sakit tenggorokan ya? "


"Bukan, tetapi aku hanya penasaran apa yang kamu pikirkan Tuan Muda."


"Apa pentingnya? "


"Tidak penting, tapi jika kau ingin bercerita untuk membagi keluh kesah aku akan menerimanya."


Mendengar hal itu, Yanza menghela nafas sebentar dengan berfikir sejenak apakah dirinya harus menceritakan? tapi dirinya merasa gengsi apalagi ia tak pernah sekalipun bercerita tentang apa yang dirinya rasakan walau secuil.


Fathia tersenyum simpul melihat Yanza, dirinya tau kalau bocah di sampingnya itu tengah merasa ragu maka dari itu Fathia harus memancingnya agar mau bercerita.


Yanza menoleh menatap orang yang lebih tinggi darinya, dia mendengar dengan cukup baik dari kata demi kata yang Fathia lontarkan. Hingga ia menunduk.


"Aku juga, aku merasa iri dengan mereka yang mempunyai keluarga utuh dan bisa bahagia. Makanya aku tidak mau sekolah karena itu hanya menyiksa perasaanku saja setiap kali melihat teman-teman di antar jemput oleh kedua orang tuanya bahkan Ibu mereka selalu menyemangati anaknya agar semangat menjalani hari ini. "


Fathia menoleh menatap bocah yang kini tengah menunduk mencoba menahan air mata yang hampir saja menetes tapi Yanza bukanlah seorang bocah yang lemah maka itulah dirinya dapat menahan bendungan agar tidak banjir.


Tanpa ragu Fathia langsung mendekat lalu memeluk Yanza dengan begitu erat, dimana membuat sang empunya merasa kaget sekaligus heran dengan apa yang Fathia lakukan.


Mereka saling diam dengan keadaan saling berpelukan, biarlah hari ini mereka menjadi kucing dan tikus yang baik.

__ADS_1


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


"Saya pamit dulu ya Bu Harra, " ucap Mara setelah tadi mengobrol sebentar dengan Harra.


"Iya Nyonya Mara, terimakasih banyak karena sudah mau menjenguk saya. "


"Sama-sama Bu Harra, " jawab Mara dengan tersenyum lalu berjalan melangkah menuju pintu setelah itu membukanya, matanya menyapu ke sekeliling yang tak nampak sama sekali cucu semata wayangnya. Yanza.


"Apa Yanza sudah menunggu di mobil? " gumam Mara lalu tanpa pikir panjang lagu dirinya langsung berjalan menuju pintu keluar.


Ketika hendak menuju tempat parkiran tanpa sengaja dirinya menoleh ke arah taman rumah sakit, matanya langsung mendapati dua manusia yang ia tahu tidaklah harmonis namun kini dirinya malah melihat Yanza dan Fathia tengah saling berpelukan dengan begitu erat.


Alisnya saling bertautan namun hatinya tersentuh, tak ingin mengabaikan momen yang cukup langka Mara langsung merogoh ponsel yang ada di dalam tas untuk memotret mereka yang tengah akhur.


Setelah itu dirinya berdiam diri terlebih dahulu masih tak mau mengganggu, hingga ketika telah selesai barulah Mara berjalan mendekat ke arah dimana mereka duduk.


"Yanza, "


Yanza yang merasa di panggil seketika menoleh, dirinya langsung turun ketika tahu siapa yang memanggil nya.


"Ayo pulang, " ujar Mara dengan dj balas sebuah anggukan kecil dari Yanza.


"Fathia, terimakasih ya karena sudah menjaga Yanza dengan baik. " tutur Mara.


"Harusnya saya yang berterimakasih kepada Nyonya karena sudah mau menjenguk Ibu saya." balas Fathia yang merasa jika bosnya itulah yang lebih pantas mendapatkan sebuah ucapan terimakasih.


"Iya Sama-sama Fathia, semoga Ibu kamu cepat sembuh seperti sedia kala." doa dari Mara yang di balas anggukan dari Fathia, setelah selesai mengucapkan kata demi kata akhirnya Mara pamit untuk segera pulang ke rumah.

__ADS_1


Fathia menatap punggung mereka berdua yang semakin jauh, namun tiba-tiba Yanza beebalik lalu menjulurkan lidahnya ke arah Fathia.


Merasa tak Terima akhirnya Fathia menatap balik tajam Yanza dengan berkacak pinggang namun bocah itu tidak menghiraukan.


__ADS_2