Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Thirty Four .. Tanpa Gengsi


__ADS_3

"ketemu lagi, "


Bocah dengan rupa tampan itu berucap dengan angkuh, sementara Fathia diam membisu. Bingung juga harus merespon mantan majikannya seperti apa, hingga akhirnya Fathia memilih untuk merespon seperti biasanya.


"Selamat datang di Zoet Brood Enier, apa ada yang bisa saya bantu?"


"Ck,"


Yanza berdecak kesal, dirinya benci dengan orang yang pura-pura tak kenal. Tapi berbeda dengan sang ayah, Arson yang segera menjawab.


"Pilihkan saja menu terbaik," ujar Arson stay cool, kemudian meraih tangan mungil Yanza untuk membawanya duduk di kursi yang masih kosong.


Fathia yang masih berdiri di tempatnya, di balik meja kasir. Terlihat tengah membaca buku menu, mencari menu paling terbaik di Zoet Brood Enier.


"Fathia," Cristi, perempuan berambut pirang itu memanggil.


Fathia menoleh, menatap Cristi dengan tersenyum.

__ADS_1


"Makasih Fa udah gantiin," ujar Cristi tulus.


"Sama-sama, oh iya Cris. Tadi ada pelanggan, katanya mau menu terbaik." tutur Fathia sembari melihat arlojinya yang telah menunjuk pukul satu.


"Oke," saut Cristi seraya menyatukan ibu jarinya denga jari telunjuk, membuat huruf O dengan di barengi senyum andalannya.


Fathia membalas senyuman Cristi. "kalau begitu, aku pamit ya. Jamku sudah habis." pamitnya yang di balas anggukkan kepala karena Cristi sudah kembali sibuk dengan kegiatanya.


Selanjutnya Fathia melangkahkan kaki jenjangnya ke pintu keluar, lalu berbelok ke arah kanan menuju tempat parkirnya sekumpulan sepeda dengan berbagai jenis.


Ctak.


Dia mengayuh sepeda dengan tujuan Warme Draad Harfa yang posisinya memang tidak terlalu jauh dari toko kue milik ibunya Villins.


Di sepanjang jalan, banyak orang yang menggunakan sepeda sepertinya. Mungkin hal itu sudah seperti rutinitas wajib bagi mereka, hanya beberapa segelintir orang saja yang menggunakan kendaraan bermesin.


Ctak.

__ADS_1


Fathia memarkirkan sepedanya setelah itu turun dan berjalan masuk ke dalam toko miliknya yang mempunyai ukuran mini tapi bermodel manis yang membuat pengunjung menjadi nyaman.


"Selamat datang dan selamat sore kakak Fathia," sapa seorang gadis manis bernama Natalina yang merupakan pegawai Fathia.


"Selamat sore juga Lina," balas Fathia ramah seraya mata-Nya menyapu seluruj penjuru dalam toko-nya, senyumnya semakin mengembang tatkala netranya melihat banyak pengunjung yang tengah memilih-milih.


"Akhir-akhir ini pengunjung Warme Draad Harfa melonjak pesat, mungkin karena sebentar lagi musim dingin. Tapi... hal ini justru membuat pegawai di bagian pembuatan jadi kewalahan." tutur Natalina, memang sekarang ini mereka tengah kewalahan. Bahkan sangat, apalagi jumlah pekerja hanya delapan orang saja. Dua orang di kasir, dua orang sebagai pegawai yang bertugas membantu pelanggan. Untuk selebihnya bertugas untuk membuat barang, pegawai di Warme Draad Harfa memang terbilang sedikit karena Fathia sendiri saat itu hanya mempunyai modal yang tidak bisa di katakan banyak.


Fathia kembali menatap Natalina, berpikir sejenak dan setelah yakin barulah Fathia berkata. "Kalau begitu cari pegawai lagi kurang lebih dua puluh orang, nanti aku akan membuat brosur lowongan pekerjaan dan kalian bantu sebarkan ya."


"Baik kak," saut Natalina antusias, setelah itu Fathia menyuruhnya untuk kembali berkerja. Sedangkan ia sendiri menuju belakang, tempat pembuatan barang.


Cklek.


Fathia membuka pintu terbuat dari kayu tersebut dengan kemudian masuk ke dalam.


Para karyawan yang sadar dengan kedatangannya langsung berdiri. "Selamat datang dan selamat sore kakak Fathia,"

__ADS_1


"Selamat sore juga semuanya," balas Fathia, setelah itu mereka kembali duduk di tempatnya masing-masing. Sedangkan Fathia berjalan enam langkah menuju ke arah mejanya, duduk di sana dan mulai berkutat dengan benang wol seperti yang di lakukan para karyawannya dengan begitu telaten tanpa gengsi walaupun dia seorang bos.


__ADS_2