Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 20 | Calon ATM Berjalan


__ADS_3

Sesuai perintah, mereka langsung mendekat ke arah Yanza dan hendak membawanya. Tapi suara lengkingan seorang wanita berhasil menghentikan aksi mereka yang hampir saja menyentuh kulit bocah berusia tujuh tahun yang masih bersikap santai.


"Jika kalian menyentuhnya aku tidak akan ragu untuk melapor polisi!"


Fathia berteriak kencang seraya berjalan dan berhenti tepat di depan Yanza, berniat untuk menjadi tameng. Walau bagaimanapun dirinya tetap merasa tidak tega jika melihat bocah cilik di tindas oleh orang yang jelas-jelas lebih dewasa.


"Tidak usah ikut campur! " bentak pria yang memakai masker hitam.


Fathia mendengar perkataan pria tersebut seketika diam untuk sejenak, ia merasa suara itu hampir sama dengan orang yang pernah menjadikan sang ibu mesin ATM dan benda untuk di pamerkan. Namun lebih serak dan dari postur tubuhnya lebih besar.


'Akh itu tidak mungkin,"


Batinya terus mencoba untuk menghilangkan pikirannya, hingga pria di depanya merasa jengah.


"Tunggu apa lagi? cepat tangkap bocah itu! " ujar pria tadi dengan nada membentak, membuat orang-orang tadi yang justru berhenti langsung melanjutkan aksinya. Sementara Fathia yang tau akan hal itu kembali berteriak untuk menghentikannya kembali.


"Kalau kalian beran-"


Bugh!


Dengan kasar, pria tadi langsung menghantamkan sikunya ke arah tengkuk Aleski dengan sangan kencang hingga membuatnya terhuyung dan pingsan.


Yanza yang sedari tadi tenang langsung mengeluarkan sebuah benda kecil mirip seperti batu kerikil, benda yang jika di lempar akan mengeluarkan sebuah suara mirip seperti bom dengan mengeluarkan asap tebal yang mampu membuat penglihatan siapapun akan tidak fokus. Benda yang di berikan oleh ayahnya untuk berjaga-jaga itu kini telah siap untuk ia lemparkan namun pria tadi langsung bisa membaca pergerakanya hingga tanpa ragu langsung melakukan hal yang sama.


Bugh!


Sama seperti Fathia barusan, Yanza terhuyung lalu pingsan. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, dengan samar gendang telinganya menangkap suara pria tadi yang menggelegar memberikan sebuah perintah.


"Cepat bawa mereka!"


Setelah itu Yanza merasakan tubuhnya terangkat namun dengan cepat kesadarannya hilang untuk sepenuhnya.


***


Arson yang baru saja mendapatkan bagian seafood-nya langsung berterimakasihlah dan membayarnya, setelah itu melangkah melewati kerumuman hingga tidak jarang membuat pria duda anak satu itu mengaduh atau bahkan mengumpat saat menabrak seseorang dan kakinya yang tanpa sengaja menginjak kaki seseorang ataupun sebaliknya.


Sampai akhirnya Arson dapat bernafas lega saat berhasil keluar dari kerumunan, namun sebelum melanjutkan langkahnya. Arson menyempatkan diri untuk membenarkan kondisi pakainya yang sedikit acak-acakan.


Setelah selesai, barulah Arson melangkah untuk menuju tempat dimana anaknya tadi duduk manis.


Tap!

__ADS_1


Matanya celingukan mencari seorang anak kecil rupawan yang tidak ia lihat sama sekali, hatinya langsung berdebar tidak karuan. Takut yang ia rasakan jika sampai Yanza hilang.


"Yanza where are you!!" pekiknya dengan suara melengking, namun tidak juga mendapatkan suara maupun raga yang ia inginkan. Justru Arson mendapatkan sebuah tatapan intimidasi dari pengunjung di sana.


"Aah! aku memang bodoh." Arson langsung merutuki dirinya yang terkesan ceroboh karena menuruti keinginan anaknya agar tidak membawa bodyguard untuk berjaga-jaga, dengan sebuah alasan tidak ingin terganggu dan ingin bersama ayahnya hingga mendapatkan momen hangat.


"Tuan Tampan," gerutuan Arson seketika langsung berhenti dan menoleh ke arah wanita blasteran yang nampak tengah mengatur nafasnya yang tersengal-sengal dengan keringat yang membasahi kening.


"Tuan Tampan, apa kau melihat Fathio sahabat gilaku?" tanya Vilins dengan mengerlingkan matanya genit.


Arson bergidik geli, ia memang selalu sadar diri dan tidak mau munafik jika tampangnya memang rupawan. Tapi Arson tidak ingin rupa tampanya menjadi alat kegenitan seseorang.


"Tuan Tampan," panggil Vilins kembali ketika tidak mendapat jawaban apapun.


"Tidak," jawab Arson setelah sadar dari lamunanya, setelah itu dirinya langsung pergi meninggalkan Vilins seorang diri yang wajahnya langsung pucat.


"Fathia alias Fathio kamu dimana? sahabat cantikmu ini sedang khawatir loh. " gumam Vilins dengan mengacak rambut pirang miliknya, tapi setelah itu kembali di rapihkan kembali.


"Apa aku minta tolong sama kakak tiri Jeremy aja ya?" gumamnya berfikir, ingin ia hubungi namun takut jika kakak beda rahimnya itu tengah sibuk dan bisa-bisa dirinya langsung kena omelanys karena mengganggu. Namun jika tidak maka Vilins tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa lagi, hingga akhirnya Vilins merogoh ponsel yang di lapisi silikon berwarna ungu dari dalam tas kecil.


Tut…Tut…Tut…


[Halo Vil]


[Sebenarnya iya, tapi tidak apa-apa]


[Maaf kak, tapi aku mau minta tolong sama kakak boleh gak? ]


[Kalau kakak bisa bantu pasti bakal bantu]


[Kakak masih inget sama Fathia kan? sahabat kecilku yang pernah aku kenalin dulu]


[Yang dulu pernah nangkep tikus terus di kasih ke kucing punya Moeder (Ibu) ]


[Iya yang itu kak, tapi jangan ungkit-ungkit lagi ya Kak. Itu kan karena Fathia masih kecil belum ngerti apa-apa, dia taunya kucing punya Moeder sama kayak kucing punya dia yang suka tikus]


[Lupakan, kamu tadi mau minta tolong apa?]


[Kakak bisa lacak keberadaan Fathia? dia hilang tadi]


[Loh kok bisa]

__ADS_1


[Gak tau juga]


[Ok, kakak akan lacak tapi sebelum itu Fathia pake liontin pemberian kakak apa gak?]


[Aku kurang ta]


Tut.


Tut.


Tut.


"Hais, belum selesai ngomong udah di matiin. Dasar kakak tiri! " geram Vilins seraya menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.


***


Jeremy, kakak tiri Vilins langsung memutar kursinya untuk kembali menghadap ke arah komputer.


Ia langsung memasukkan sandi liontin yang di pakai oleh Fathia, dimana liontin tersebut telah ia pasang pelacak.


Jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard dengan matanya yang menatap fokus ke layar lebar di depanya.


Namun, sesaat kemudian jari Jemery seketika berhenti bergerak saat mendapatkan lokasi Fathia saat ini terdapat di tempat yang sangat ia kenali.


"Loh kok bocah menjengkelkan itu ada disana?" gumam Jeremy mengerutkan keningnya dengan matanya yang memicing guna memperhatikan lebih dalam lagi, namun penglihatanya memang masih normal.


"Gawat!"


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Fathia tersadar dari pingsanya, namun ia urungkan untuk membuka mata saat mendengar suara orang yang dirinya kenal.


"Aku disini dulu, ada yang mau aku urusin."


"Ok Bro,"


Cklek!


Tap! …Tap! …Tap! …


Terdengar langkah kaki dengan di susul suara sebuah kursi yang di seret.

__ADS_1


"Mending kamu ikut kelas ekting, anaku yang sebentar lagi jadi calon ATM berjalan, " mendengar itu, seketika Fathia langsung membuka kedua matanya dengan lebar.


Saat itulah, dirinya melihat senyum smrik dari seseorang yang sewaktu kecil sering ia panggil Ayah.


__ADS_2