Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Eight .. Tidak Akan Bisa Meracuni Pikiranku


__ADS_3

Malam harinya, dimana waktu makan malam telah tiba sekarang di rumah keluarga Marvous telah berkumpul Certi Son Leyza dan Yanza duduk di meja makan dengan dentingan yang menemani makan malam mereka.


Yanza nampak hanya mengaduk-aduk makanan saja tanpa ada niatan untuk memasukanya kedalam mulut, nafsunya sudah hilang entah kemana hari ini bahkan dirinya ingin cepat-cepat agar hari berlalu namun itu hanyalah sebuah angan-angan.


"Yanza, kalo kamu gak mau makan yaudah pergi aja sana!!. " bentak Certi yang sedari tadi merasa geram dengan apa yang di lakukan Yanza.


"Apa? Bibi mengusir ku? hey tolong ya Nenek Tua agar kau sadar diri kalo ini adalah rumah keluarga Marvous sementara kau hanya menumpang saja di sini! seharusnya kau tau bagaimana Etitude orang menumpang. " balas Yanza yang tidak mau kalah.


"Yanza! kau sekarang sudah kurang ajar ya, apa kau lupa~"


"Lupa apa hah!? dasar Pak Tua, seharusnya aku yang berhak berbicara seperti itu. Sudah di kasih tumpangan malah minta di hormati!, " potong Yanza yang kini sudah turun dari kursi, moodnya sekarang sudah semakin hancur karena keluarga tak tahu diri itu.


"Yanza!, " bentak Son namun segera di tenangkan oleh Leyza yang tidak ingin membuat suasana semakin runyam.


"Ayah sudah ya, lebih baik kita lanjutkan makan terlebih dahulu. " ucap Leyza sembari melihat punggung Yanza yang semakin menjauh dengan suara langkah kakinya yang di hentak-hentakan.


"Kalau bukan karena dia cucu Mara, sudah aku usir dia." gumam Son dengan menggeram kesal bahkan nafsu makanya sekarang sudah hilang hingga akhirnya dia hanya meneguk satu gelas berisikan es jeruk saja setelah itu beranjak pergi.


"Bu, aku mau ke kamar Yanza dulu ya." pamit Leyza kepada Ibunya yang hanya bisa menggangguk, dan setelah itu Leyza berjalan menuju tempat yang akan dirinya datangi.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di sebuah kamar bernuansa luar angkasa dengan berhias beberapa lampu kuning dengan satu foto besar dimana disana terpampang jelas Yanza tengah berpose dengan memakai jaket kulit dan terdapat pistol di tanganya dengan tangan satunya yang memegang kacamata hitam bertengger di hidung mancung. Tampak foto tersebut terlihat keren.

__ADS_1


Kini, Yanza sudah merebahkan dirinya di atas kasur king size dengan memandang langit-langit kamar.yang ber lukisan sebuah luar angkasa.


Cklek!


Matanya langsung melirik ke arah pintu ketika terdengar suara pintu terbuka, nampak terdengar suara helaan panjang setelah tahu bahwa Leyza yang membukanya.


"Hay Yanza sayang, " sapa Leyza sembari berjalan mendekat dan tanpa menunggu lama lagi dia langsung duduk di ranjang hendak memeluk tubuh mungil Yanza, namun dengan cepat Yanza langsung menepisnya seraya menjauh dari Leyza.


"Ada apa? " tanya Yanza dengan sinis menatap perempuan ular berbisa itu yang tengah tersenyum menatapnya.


"Yanza, kau pasti selama ini sangat kesepian ya? kamu pasti menginginkan kasih sayang seorang ibu? hehe karena itulah aku dengan senang hati ingin menjadi ibu sambungmu Yanza sayang." jelas Leyza dengan suara lembut berharap bocah di depanya itu akan luluh namun rupanya tidak.


"Memangnya apa urusanya dengan kau? yang tahu keinginanku hanya aku sendiri orang yang menjalani hidup dunia, dan kau wahai ular berbisa lebih baik naikan harga dirimu jangan malah menurunkanya karena itu hanya akan membuat pandangan orang lain terhadapmu merendah. " ucap Yanza yang malah berbicara panjang lebar membuat perempuan itu mencebik kesal jika bocah pintar di depanya sudah berbicara pasti dirinya tidak akan bisa melawan kata-kata dewasanya.


"Yanza~"


Sementara Leyza hanya bisa menganga, dia kira Yanza akan luluh dengan kata-kata lembutnya namun rupanya Yanza adalah bocah yang agak berbeda dengan anak seumuranya yang membuat niat Leyza semakin sulit.


Namun setelah dirinya puas terbengong-bengong akhirnya Leyza bangkit menuju pintu kamar lalu keluar dari sana untuk beristirahat di kamarnya.


'Walau kau adalah ular berbisa tapi bisamu tidak akan bisa meracuni pikiranku. '


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━*...

__ADS_1


Pagi harinya, usai sarapan pagi kini Yanza tengah bermain dengan lego kesayanganya di ruang tengah. Ya hanya itu saja yang bisa dia lakukan dikala bosan selain membuat onar, namun semuanya akan hancur jika suara yang dirinya benci mulai terdengar.


"Oh pintar ya kamu! hanya bisa memberantaki rumah saja, " bentak Certi yang entah mengapa sangat gemar sekali mencari gara-gara dengan Yanza.


Tangan mungil Yanza yang sejak tadi bergerak-gerak di atas meja seketika berhenti lalu menoleh menatap wajah gembul Bibinya.


"Sebaiknya Bibi cari lakban saja untuk menutup mulutmu yang terlalu banyak berbicara itu," ucap Yanza dengan entengnya dimana mampu membuat Certi semakin naik pitam di buatnya.


"Dasar kau ya! " pekik Certi dengan berkacak pinggang namun Yanza hanya mengacuhkanya hingga membuat Certi ingin mengomeli kembali.


Byus!


"Aakkhh ular!! " pekik Certi saat melihat sebuah ular hitam dengan ukuran lumayan tiba-tiba terdapat di tubuhnya, sementara Yanza hanya terkekeh geli melihatnya namun ada rasa puas di hati paling terdalam ketika melihat Certi berlari terbirit-birit menjauh darinya dengan gaya yang meloncat-loncat tidak jelas. Beruntung ukuran tubuh Certi tidaklah sangat besar hanya saja tubuhnya gembul membuat lemaknya terlihat jelas jadi rumah keluarga Marvous tidak sampai terguncang bagaikan gempa.


Cklek!


Mata Yanza melirik ke arah pintu dan langsung tersenyum miring saat melihat guru privat-nya telah datang dengan keadaan penuh keringat dan di tanganya tercangking sepasang sepatu tinggi, sudah di pastikan bahwa Fathia sangat panik karena waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit.


"Maaf saya telat, " ucap Fathia seraya memperbaiki penampilannya agar tidak begitu menyakitkan mata.


"Lelet, " ketus Yanza seraya membenarkan posisinya agar bergaya layaknya bocah angkuh.


Fathia lebih memilih untuk mengabaikan ucapan Yanza barusan, karena dirinya tidak ingin berdebat pagi ini dengan bocah angkuh itu. Maka dari itu tanpa basa-basi lagi Fathia langsung duduk di lantai lalu mulai mengeluarkan berbagai macam buku pelajaran anak kelas dua.

__ADS_1


Namun belum juga Fathia membuka suara, dirinya langsung di kagetkan dengan kedatangan seorang wanita gembul tengah mengucapkan kata-kata bervolume tinggi membuat tangan Fathia reflek menutup kedua telinganya karena tidak mau gendang telinga miliknya menjadi tidak berfungsi lagi hanya karena mendengar suara wanita gembul itu.


"Dasar kau anak kurang ajar! sudah berani-beraninya mengerjai Bibi, sekarang aku minta agar kau masuk ke kamar sampai aku sudi membuka pintu kamarmu. "


__ADS_2