
Lampu-lampu di jalanan mulai menyala saat matahari sudah tak nampak, begitu juga para pengendara roda dua maupun roda empat. Hingga jika di lihat dari atas ketinggian, sudah seperti lampu yang berjalan.
Rumah-rumah yang berjejer rapih nampak sudah terang akibat lampu LED yang di nyalakan oleh sang pemilik, begitu juga dengan rumah keluarga Marvous yang sudah terang benderang.
Di dalam rumah Marvous, terlihat Yanza bersama Mara tengah menonton televisi. Mereka juga sesekali tertawa renyah saat adegan lucu terputar, namun saat iklan muncul. Mereka diam.
"Nek, " panggil Yanza.
Mara menoleh. "Iya, ada apa Za?"
Yanza diam sesaat, berpikir terlebih dahulu sekaligus memantapkan hati. "Ehm, Yanza boleh sekolah lagi gak?" tanya Yanza yang sontak membuat Mara terkejut namun juga senang, sebab. Pertanyaan inilah yang dirinya tunggu sejak lama.
"Boleh dong Za," jawab Mara antusias. "Besok nenek langsung daftarin kamu ke sekolah yah," lanjut Mara dengan tersenyum pada cucu lelakinya, sementara Yanza hanya mengangguk sahaja.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Belanda.
Di jam satu siang ini, Fathia dan Villins terlihat tengah duduk di kursi taman dengan pemandangan hamparan bunga yang bermacam jenis. Membuat tempat tersebut semakin menonjolkan keindahannya.
Angin di siang hari berhembusan, membuat sekumpulan tanaman indah bernama bunga ikut bergoyang. Dan, entah kenapa Fathia jadi teringat dengan Yanza. Anak kecil berparas tampan dengan perilakunya yang menyebalkan hingga sering kali membuatnya kesal, kini sudah tak lagi.
"Kamu lagi mikirin apa sih Fa? dari tadi diem terus. " celetuk Villins yang seketika membuat lamunan gadis berambut hitam kekuningan karena faktor keturunan tersadar kembali.
"Gak, gak mikirin apa-apa," elak Fathia berbohong.
__ADS_1
"Yang bener…?" goda Villins dengan tersenyum aneh.
"Emang bener kok, " tanggap Fathia memalingkan wajahnya sementara Villins terkikik geli, dirinya tentu tahu betul kalau sahabatnya tengah berbohong. Terlihat dari gelagatnya yang tak betul, namun Villins tak mau memaksa.
"Lins, "
"Yes?"
"Kamu punya info lowongan kerja gak?" tanya Fathia mengganti topik pembicaraan.
Villins terlihat berpikir. "Seingatku kayaknya Moeder lagi butuh pegawai di toko roti, emangnya kenapa Fa?"
"Lins, aku gak mungkin terus hidup numpang sama orang. Sekalipun aku sudah kenal dekat, walaupun kamu dan keluargamu gak merasa di repotkan. Tapi tetap aku kerasa gak enak, jadi. Mending aku kerja, terus nanti cari tempat tinggal." Fathia menjelaskan dengan serius dan penuh keyakinan, Villins yang melihatnya jadi bimbang.
"Yaudah kalau kamu maunya kayak begitu, tapi aku harus ngomong dulu sama Moeder and Vader. " ujar Villins akhirnya.
Malam akhirnya datang, setelah pembicaraan satu jam yang lalu dengan keluarga Villins mengenai permintaannya tadi siang. Kini Fathia sudah berada di kamarnya dengan duduk bersandar di kepala ranjang di temani oleh sang ibu yang sudah tertidur lelap di sampingnya.
Di tangan Fathia tergenggam sebuah ponsel, sesekali Fathia meng-scroll layar sembari membaca tulisan yang tertera di sana yang tak lain adalah kosa kata bahasa Belanda yang sekarang sedang dirinya pelajari.
"Goedemorgen artinya selamat pagi, " gumam Fathia dengan wajahnya yang mendongak, dirinya terus berusaha untuk menghapal bahasa negara Kincir angin yaitu Belanda yang menjadi tempat keberadaannya sekarang. Karena sebentar lagi dirinya akan bekerja di toko Zoet Brood Enier, membuatnya berkewajiban bisa berbahasa Belanda karena pasti nantinya akan berkomunikasi dengan banyak orang.
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Indonesia.
__ADS_1
Sebuah mobil Toyota, tampak masuk ke halaman sekolah dasar yang tak luput dari perhatian siswa siswi disana. Sampai akhirnya mobil berhenti, keluarlah seorang wanita setengah abad dengan penampilan yang glamor.
"Yanza, kamu mau ikut Nenek atau di mobil saja?" tanya Mara.
"Aku tunggu di sini saja, " saut Yanza yang membuat Mara kemudian pergi setelah menutup pintu mobil, sementara Yanza yang memilih untuk menunggu matanya fokus memandang ke sekitaran yang banyak anak-anak SD sedang berlalu lalang. Mungkin karena memang saat ini waktunya jam istirahat.
Namun beberapa saat kemudian, terdengar seperti ada yang jatuh.
Bruk!
"Aduh!"
Yanza seketika langsung melongok lewat kaca mobil yang terbuka, dan di saat itulah indra penglihatannya menangkap sosok perempuan mengenakan seragam merah putih lengkap dengan atributnya tengah duduk dengan lutut yang di pegangnya.
Tanpa menunggu lama, Yanza langsung membuka pintu mobil dengan hati-hati karena anak kecil yang mungkin seumurannya terjatuh di samping pintu mobil.
"Kamu terluka!" ujar Yanza ketika melihat goresan dengan sedikit noda merah di lutut anak perempuan tersebut.
Yanza yang teringat sesuatu langsung merogoh saku celananya dan kemudian mengeluarkan sebuah plester luka, setelahnya Yanza hendak menempelkannya pada lutut gadis kecil itu. Namun tangannya langsung di tepis.
"Luka seperti ini harusnya di berikan obat tetes terlebih dahulu, jangan langsung di plester." gadis kecil itu berucap.
Yanza melirik tanda pengenal gadis kecil di depannya yang hanya terlihat sebagian. "Memangnya kau tau darimana, Eme?"
Eme terlihat bangkit, luka di lututnya seperti sudah biasa untuknya. "Dari Biku,"
__ADS_1
"Hah biku!?" teriak Yanza spontan merasa aneh, namun sayangnya Eme telah lari tergesa-gesa. Sepertinya dia sedang terburu-buru.
Yanza ingin mengejar, tapi dirinya melihat sang Nenek datang.