Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 15 | Di Gerubungi Banyak Singa


__ADS_3

Pagi hari ini Fathia tampak senang sekali, bahkan sedari tadi gadis itu terus saja meloncat-loncat seperti ikan darat. Bahkan kegiatannya tidak pernah lepas dari tatapan Harra yang hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Hay ikan! lihatlah Margareta Airun Fathia yang cantik ini sedang berbahagia di pagi hari yang cerah ini, kau tau kenapa ikan mujair? yap. Karena hari ini aku akan kembali bekerja dan karena itulah hari ini tampak cerah apalagi ketika matahari melihat wajah cantiku dia kini tampak tersenyum senang di atas sana." ucap Fathia berbicara sendiri dengan ikan mujair yang dia beli di pasar.


Tin,, Tin,,,


Perhatian Fathia seketika beralih ke arah gerbang yang sudah ada seorang pria tengah duduk di atas motor bebek, dirinya langsung tersenyum seraya menoleh ke arah ikan mujair yang tengah berenang dengan gembiranya mengacuhkan Fathia yang sedari tadi terus mengoceh.


"Ikan, bidadari dari syurga mau naik ojek dulu ya. Kau berenanglah baik-baik jangan sampai tenggelam, " pamit Fathia yang entah kenapa pagi ini tampak seperti orang tidak waras.


Fathia lalu berjalan ke arah gerbang untuk menemui tukang ojek onlein pesananya yang sudah stanby dari tadi.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Yanza nampak tengah bermain dengan kodok peliharaanya bersama sang Ayah, di teras rumah itu mereka berdua tengah menikmati kebersamaan walau harus melupakan sang nenek yang hanya bisa melihat mereka dari pintu rumah.


"Selamat pagi Tuan-Tuan, " sapa seorang wanita yang membuat Yanza dan Arson mendengus kesal saat mengetahui bahwa itu adalah Fathia dengan senyum giginya.


"Kau~"


"Perkenalkan Tuan, nama saya Margareta Airun Fathia biasa di panggil Fathia oh ya saya adalah gu~"


"Iya saya sudah tahu, " potong Arson merasa muak dengan tingkah guru anaknya itu, dia sudah tahu bahwa ibunya lah yang telah menerima kembali Fathia untuk bekerja.


Sementara Yanza yang sedari tadi hanya diam mengelus-elus kodok peliharaanya itu seketika tersenyum semeingah saat mendapatkan ide yang cukup genius, dengan cepat dirinya langsung mendekat ke arah Arson lalu membisikan sesuatu kepadanya.


"Ehm, Fathia kau sudah~"


"Kak Fathia selamat datang, oh ya Yanza punya hadiah loh buat Kakak. " ujar Yanza yang berhasil menghentikan ucapan Mara.


"Oh ya? hadiah apa memangnya Yanza, " tanya Fathia menanggapi.

__ADS_1


"Ini rahasia, karena itu mata kak Fathia harus aku tutup ya. " ucapnya dengan tanganya yang merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kain dari sana.


"Ta~"


"Sstt lebih baik diam, "


Tangan mungil itu langsung mengikat kain tersebut ke mata Fathia, hingga gadis itu benar-benar tidak bisa melihat. Yanza tersenyum puas melihatnya lalu tanganya menuntun Fathia untuk membawa ke suatu tempat yang istimewa.


"Yanza kau ma~"


"Mama, biarkan Yanza bersenang-senang. " ucap Arson menepuk pundak ibunya dan Mara hanya bisa diam saja.


Yanza menggeret Fathia menuju tempat yang sangat-sangat istimewa bahkan khusus untuk mahluk tertentu.


"Paman, tolong buka pintunya. " ujar Yanza kepada paman penjaga yang ada di sana, setelah itu paman membuka pintu kawat itu yang langsung memperlihatkan sebuah hamparan luas rumput hijau dengan banyak hewan disana yang akan membuat Fathia meloncat kegirangan.


"Yanza, kau akan membawaku kemana?" tanya Fathia yang tanganya di tarik paksa oleh bocah itu, Yanza sendiri langsung membuka sebuah kandang yang tidak ada apa-apa disana lalu dirinya langsung menyuruh Fathia untuk masuk ke dalam sana.


Pintu tertutup dan Fathia masih bergeming di dalam sana dengan mata yang tertutup oleh kain, sementara bocah itu menjauh lalu melihat Fathia dengan puas.


"Yanza ini dimana? kenapa di sekitarku ada kawat-kawat, ehm seperti di kandang." teriak Fathia meraba-raba sekitaranya.


Prok,,, Prok,,,


Yanza bergeming dan lebih memilih untuk bertepuk tangan, setelah itu dirinya berlari sekencang mungkin untuk menjauh dari sana.


"Sudahlah ku buka saja, " gumam Fathia seraya membuka kain yang menutupi matanya, namun setelah kain itu terlepas justru dirinya melihat segerombolan singa tengah mengerubungi dirinya. Bahkan mereka nampak kelaparan yang dapat di lihat dari lidahnya yang bergerilya kemana-mana seakan ingin menyantap manusia di depan matanya.


"Aku menyesal sudah membuka kain penutup mata, dan lebih menyesal lagi karena sudah tertipu olehnya. " ucap Fathia menatap singa-singa itu dengan perasaan takut, beruntungnya dia berada di dalam kandang kecil jadi nyawa berharganya tidak langsung melayang tapi mungkin jantungnya akan bermasalah setelah ini.


Uarrgh

__ADS_1


Auman singa-singa itu terdengar nyaring di gendang telinga Fathia, bahkan mereka sudah mulai mengendus-endus benda di depanya dan mencoba untuk membukanya.


"Yanza!! aku akan menggantungmu di pohon keramat, " teriak Fathia begitu nyaring ketika tangan singa itu hendak membuka pintu kandang.


Namun teriakanya tidak di perdulikan oleh bocah cilik yang kini tengah bersantai melihat pertunjukan di depanya, dengan sang ayah yang di sampingnya menemani anaknya dengan ikut-ikutan tertawa renyah.


"Ehe singa-singa yang baik dan tampan eh kalian ini perempuan apa laki-laki sih?" tanya Fathia memperhatikan hewan buas di depanya dengan teliti untuk menebak apa jenis kelamin mereka.


"Akh sudah lah laki ataupun perempuan itu sama saja yang terpenting kalian semua baik ya hehehe, " gadis itu terkekeh dan berbicara sendiri sementara singa-singa itu hanya menatap saja dengan nyalang.


"Oh singa yang baik, tolong ya jangan makan bidadari dari kayangan sepertiku." bujuk rayu Fathia hanya mendapatkan auman saja dari mereka yang seolah-olah menolak jika Fathia itu bidadari dari kayangan.


Merasa tidak di tanggapi akhirnya Fathia diam saja dengan tanganya yang ia letakan di dagu dengan mata yang terpejam, tapi itu tidak bertahan lama ketika suara dering ponselnya berbunyi yang membuat Fathi segera merogoh benda pipih tersebut dari dalam tasnya.


[Fathia, kamu tidak apa-apa disitu?]


[Tidak Nyonya Mara, aku ingin keluar dari sini tapi singa-singa itu mengerubungiku huu sepertinya nyawaku akan melayang disini tapi saya belum menulis surat wasiat hiks hiks]


[Ehm Fathia, kau tenang disana ya]


Tut,,


"Iya terimakasih atas do'anya, " ucap Fathia dengan penuh drama, entahlah hari ini dia sangat tidak waras sepertinya.


Uaarrg!


Fathia seketika di kejutkan karena singa-singa itu malah berlari menjauh dari kandang yang entah mengejar apa tapi intinya itu adalah sebuah peluang bagi Fathia untuk keluar dari sana, maka dari itulah Fathia segera membuka pintu kandang dengan susah payah tapi akhirnya berhasil juga.


Tap,,, Tap,,, Tap,,,


"Akhirnya aku bebas! " teriak Fathia dengan merentangkan tanganya sembari terus berlari sebelum singa-singa itu kembali padanya maka nyawanya akan melayang.

__ADS_1


__ADS_2