Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Chapter Twelve .. Di Jemput Oleh Ayah


__ADS_3

Sore telah tiba, kini Fathia sudah bisa bersantai karena jika sore hari dia tak perlu mengajari Yanza tentang ini itu.


Maka dari itulah, sekarang perempuan itu tengah duduk santai di kursi teras rumah dengan menikmati secangkir cokelat panas dengan menatap keindahan langit sore.


Namun tatapanya beserta pendengaranya seketika terfokuskan ke arah gerbang berkarat itu, disana terdapat segerombolan pria berpakaian hitam dengan satu orang tengah menatap Fathia tajam.


"Hih, " Fathia bergidik ngeri saat melihatnya, namun walau begitu Fathia tetap bangkit dari duduknya untuk mendekat ke arah gerbang. Siapa tahu mereka ada keperluan datang ke rumahnya.


"Tuan-tuan siapa? " tanya Fathia ketika sudah sampai tepat di depan gerbang namun dirinya tidak langsung membuka pintu gerbang terlebih dahulu, karena takut-takut mereka berniat jahat terhadapnya atau bahkan kepada Ibunya.


"Dimana Yanza? " tanpa menjawab pria yang menatapnya tajam itu langsung memberikan pertanyaan.


"Ada urusan apa Anda dengan Yanza? " tanya balik Fathia dengan santai.


"Itu tidak penting! yang terpenting sekarang adalah dimana Yanza? " ujar pria itu dengan suara menggelegar.


"Katakan dulu siapa Anda! " tanya Fathia dengan suara tegas karena lawan bicaranya sudah bernada tinggi.


"Bos, apa perlu saya tembak dia? " tanya anak buah pria itu dengan lirih, sembari menunjukan sebuah pistol di tanganya.


"Jangan gegabah, " pria yang di panggil Bos itu seketika memberikan tatapan tajam ke anak buahnya.


Pria itu kembali menatap Fathia dengan dingin, pria yang bernama Arson itu yaitu Ayah dari Yanza sebenarnya sudah merasa jengah menghadapi perempuan di depanya. Namun dia tidak terlalu suka bermain darah dengan orang yang tidak mempunyai dosa denganya.


Tangan Arson sudah mulai mencoba untuk membuka gerbang berkarat itu, namun hasilnya nihil.


"Eits, mau ngapain kamu? kalau kamu cuman mau membuat onar di rumah ini lebih baik pergi! " bentak Fathia sembari menunjuk arah jalan.


"Kau mengusir ku? aku akan memecatmu! " ancam Arson namun Fathia tidak percaya itu.


"Memecat ku? memangnya Anda si~"


"Fathia? ada apa ini, "

__ADS_1


Sebuah suara berhasil menghentikan ucapan yang belum selesai Fathia lontarkan, dengan cepat dia berbalik dan melihat Harra tengah mendorong rodanya agar kursi yang ia duduki dapat berjalan. Sementara di samping Harra nampak Yanza berjalan namun matanya terlihat menatap tajam ke arah Arson ayahnya.


Arson yang di tatap demikian oleh anak kandungnya sendiri, sontak saja langsung membalas tatapan anaknya dengan lebih tajam yang berhasil membuat Yanza menghentikan tatapanya karena takut jika ayahnya itu sampai murka dan itu akan berefek buruk terhadap dirinya.


"Ini Ibu, pria gila itu memaksa untuk masuk. Dia mengaku jika dirinya Ayah Yanza dan tentu saja aku tidak percaya jadi aku tidak membiarkanya untuk masuk, yang paling parahnya lagi dia malah mengancam akan memecatku. Ck memangnya dia siapa? Bosku?" jelas Fathia panjang lebar yang membuat Arson menatapnya tajam bahkan sangat tajam.


'Gadis itu benar-benar berani rupanya, '


"Dia memang ayahku," ucap Yanza dengan sinis menatap Fathia.


Fathia seketika langsung menoleh ke arah Yanza, mulutnya terbuka lebar merasa tidak percaya namun yang mengatakannya adalah Yanza sendiri.


"Hahaha, lihatlah. Anaku sudah mengakuinya dan sekarang buka gerbangnya, " suara tawa Arson menggelegang dengan tersenyum puas.


Fathia ketar-ketir di buatnya, jika pria gila itu adalah ayah Yanza itu berarti dia adalah Bosnya? dan setelah ini pasti dia akan memecatnya untuk mewujudkan apa yang baru saja di ucapkanya.


Harra yang melihat kejadian di depan mata kepalanya sendiri hanya bisa diam, dirinya sudah terbiasa sejak anaknya kecil. Fathia memang terkesan keras kepala dan tidak mudah untuk percaya pada seseorang apalagi jika orang itu asing baginya.


Lalu gadis berusia dua puluh lima tahun itupun berjalan kembali mendekat ke arah gerbang berkarat itu, lalu tanganya mulai membuka pintu gerbang tersebut.


Setelah pintu gerbang terbuka, Arson langsung masuk dan mendekat ke arah Yanza dan menatapnya.


"Aku tahu Ayah sedang terpesona dengan ketampananku yang melebihi ketampanan Ayah, tapi kumohon jangan menatapku seperti itu karena aku takut Ayah akan semakin insecure. " ujar Yanza dengan percaya dirinya.


"Iya, kau memang tampan anaku." Arson menanggapi dengan rasa bangga karena anaknya begitu percaya diri.


"Yasudah, sekarang ayo kita pulang. " ajak Arson sembari menggapai tangan mungil Yanza.


"Ehm, sebelumnya saya minta maaf Tuan. Karena sudah berani melawanmu tadi dan em dan." entahlah tiba-tiba lidahnya kelu untuk mengucapkan kata demi kata.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi mulai hari ini dan detik ini juga kamu saja pecat!" ucap Arson dengan lantang yang membuat Fathia lemas seketika, dia sudah berusaha untuk bekerja dengan baik namun kini malah di pecat begitu saja. Apalagi sekarang ini mencari kerja itu susah bagaikan mencari emas di selokan.


"Tapi Tuan~" otaknya entah kenapa menjadi susah untuk mencari kata-kata yang pas, bahkan matanya kini menatap Yanza dengan tatapan memohon namun yang di tatap hanya memandangnya sinis.

__ADS_1


"Saya tidak perduli," ucap Arson seraya menarik tangan Yanza untuk segera pergi dari sana.


"Yanza Tampan pamit pulang dulu ya Nenek, jika ada waktu aku akan datang kemari. " teriak Yanza yang masuk ke dalam mobil milik ayahnya, sementara Harra hanya mengangguk dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Kalian pulang dan istirahatlah, " titah Arson kepada anak buahnya dan mereka langsung menurut begitu saja, karena jujur mereka sangatlah lelah setelah bekerja begitu keras.


Brem!


Semua mobil yang semula terparkir berantakan di depan gerbang rumahnya kini sudah pergi, begitu juga dengan mobil Arson.


Fathia hanya melihat mobil-mobil itu dengan tatapan nanar, lalu dirinya menoleh ke arah Ibunya yang menatap dirinya dengan sendu.


"Huaa Ibu! hiks hiks, " teriak Fathia dan berlari ke pelukan sang Ibu, menumpahkan segalanya di sana dengan Harra yang mencoba untuk menenangkan puterinya.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di dalam mobil hanya ada keheningan, dengan Arson yang fokus menyetir menuju ke rumahnya sementara Yanza melihat ke luar jendela dan di saat itulah bocah cilik itu berteriak.


"Ayah berhenti! "


Ciit!


Mobil seketika berhenti secara mendadak, beruntungnya di jalan itu tidak begitu ramai sehingga tidak menimbulkan kejadian fatal.


"Yanza, ada apa!? " tanya Arson menggeram kesal.


"Ayahku yang tampan walau lebih tampan aku, ehm bolehkah anak kesayanganmu ini meminta sesuatu? " pinta Yanza dengan memasang wajah memohon.


"Hem, baiklah kau mau minta apa Yanza? "


"Lihatlah, " jari telunjuknya mengarah ke arah toko mainan, "Aku ingin menambah koleksi legoku, "


"Baiklah Yanza, "

__ADS_1


__ADS_2