Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 17 | Perdebatan


__ADS_3

"Mas, ini beneran gak bisa kurang?" tanya Fathia kepada penjaga kasir.


"Maaf Mbak, tidak bisa di kurangi." pria muda itu menangkupkan tanganya di depan dada.


"Tapi Mas, ini mahal banget loh." ujar Fathia dengan wajar murung menatap kertas di tanganya.


"Mbak, makanya lain kali kalo mau pesen itu harus liat harga dulu biar gak rempong." celeruk perempuan di samping penjaga kasir yang mulai tertarik dengan pembicaraan teman kerjanya bersama pelanggan, Fathia yang mendengar ucapan perempuan itu hanya bisa bernapas pasrah.


"Atau kalau emang gak mampu saya saranin yah gak usah makan di sini," tekan perempuan itu yang mulai menyulut emosi seorang Fathia,


"Gire kamu me~"


"Denger nih ya Mbak judes, kalau bukan karena majikan gendeng saya yang memaksa untuk makan disini. Saya juga tidak akan pernah sudi makan di tempat mahal seperti ini! " ujar Fathia tak mau kalah.


"Ka~"


"Udah Re, mending kamu urusin yang lain aja. Daripada kamu buat kondisi tambah runyam, soal ini biar aku yang urus." titah penjaga kasir yang di tag name tertulis nama Tiyo.


"Saya minta maaf Mbak atas perkataan teman saya tadi, dan untuk masalah ini saya tidak bisa mengurangi harga. " jelas Tiyo dengan ramah.


"Ehm begini saja Mas, mungkin saya bisa mencicilnya? saya akan memberikan KTP sebagai jaminanya." ujar Fathia yang pikirannya sudah buntu.


"Ck, mana ada makan di restoran bayarnya nyicil? saya baru denger tuh." cetus perempuan tadi yang langsung di tatap tajam oleh penjaga kasir.


"Re ini biar aku yang urus, kamu mending lakuin hal lain." pinta Tiyo dengan ekpresi menahan kesabaran sementara perempuan itu hanya membuang muka malas.


Tiyo kembali menoleh ke arah Fathia, ditariknya nafas sebelum mengucapkan kata per kata. "Untuk permintaan Mbak tadi saya tidak bisa mengabulkannya, karena restoran ini tidak ada sistim pembayaran dengan cara menyicil dan cara satu-satunya hanya membayar sesuai dengan jumlah yang tertera."


Wajah Fathia seketika tambah kelabu seperti langit di luar sana yang mulai menurunkan hujan rintik-rintik, setelah di pikirnya dengan matang akhirnya ia memilih untuk membayar karena tidak enak juga dengan sang penjaga kasir.


"Yasudah, saya akan membayarnya saja." ucapnya sembari memberikan uang dua juta, penjaga kasir menerimanya lalu mulai mengotak-atik komputer di depanya.


"Saya mengucapkan terimakasih banyak atas kedatanganya, mohon maaf jika ada yang membuat tidak nyaman." ucap Tiyo usai pembayaran berhasil, sedangkan Fathia hanya mengangguk pasrah lalu berjalan menjauh dari sana.


,

__ADS_1


Brag!


Di bukanya pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang yang disana sudah ada Yanza tengah bermain dengan lego kesukaanya, sejenak bocah cilik itu melirik Fathia dengan senyum kepuasan. Dia berharap Fathia akan menyerah dan berhenti menjadi guru privatnya, namun dia tidak tahu saja kalau Fathia tidak semudah itu karena faktor ekonomi yang harus menyingkirkan egonya untuk saat ini. Sedangkan Yanza tidak tahu apa-apa dengan kehidupan Fathia yang sebenarnya karena yang dia tahu hanyalah Fathia itu menyebalkan.


"Pak antarkan kami kerumah," pinta Fathia dengan lesu.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Leyza menatap air yang turun dari langit, dirinya tidak bisa pulang kalau cuacanya seperti ini. Sudah ia pesan taxi online tapi sampai sekarang belum juga datang membuat Leyza harus banyak bersabar.


Andai saja Ayahnya tidak pelit, sudah pasti dia bisa pulang pergi kapan saja menggunakan kendaraan pribadi. Tapi itu tidak mungkin sebab Son sungguh tidak akan mau mengeluarkan banyak uang.


"Hais, kenapa tidak datang-datang." gumamnya sembari melihat layar ponsel miliknya.


Sebuah lampu kendaraan menyorotinya yang membuat Leyza beralih, seorang pemuda nampak turun dari motornya setelah mematikan lampu. Di bukanya jok motor lalu mengambil jas hujan untuk ia gunakan agar tidak basah kuyup.


Leyza tidak tertarik dengan itu dan lebih memilih untuk menatap layar ponselnya, namun sebuah suara yang ia dengar akhirnya membuat Leyza menoleh.


"Loh Leyza," pemuda tadi menatap Leyza dengan teliti untuk memastikan bahwa benar atau tidak.


"Kamu pasti lagi nungguin taxi ya? "


"Bukan urusanmu, "


"Iya memang bukan, tapi kalo kamu mau boleh kok pulang bareng aku. Daripada nunggu taxi yang gak pasti, " ujar Abian menawarkan.


'Ck, apa kata orang nanti kalo aku pulang bareng pekerja rendahan kayak dia. Iuh menjijikkan, '


"Udah deh terima aja Ley, emang kamu rela nunggu taxi sampe lumutan? atau jangan-jangan kamu berharap Arson dateng anterin kamu pulang? aduh kamu kan tahu Ley kalau Arson itu udah pasti sibuk sama pekerjaannya. " celetuk Lusya yang datang bersama Nelci di sampingnya.


"Bener kata Lusya, mending kamu terima aja tawaran Abian. " timpal gadis imut bernama Nelci itu.


"Enggak deh mending aku pulang bareng kalian aja," tolak Leyza.


"Gak bisa dong, kita kan gak searah." ujar Lusya.

__ADS_1


"Ta~"


"Yaudah kita pulang duluan ya," mereka berjalan meninggalkan Leyza disana dengan Lusya yang melambaikan tanganya.


"Kurang ajar! " geram Leyza lalu beralih ke arah Abian yang kini sudah menaiki motornya.


"Ya udah aku ikut! "


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Fathia berjalan menuju rumahnya dengan payung yang melindunginya dari hujan, setelah tadi ia mengantarkan Yanza sampai rumah dirinya bergegas menuju renternir untuk membayarnya karena memang sudah jatuh tempo. Jika sampai terlambat maka tidak segan renternir untuk menambahkan bunga yang pastinya akan membuat Fathia membayar berlipat ganda.


Kini, hutang yang Fathia bayar tinggal empat puluh juta. Namun itu membutuhkan waktu yang lama tentunya.


Kreeeet!


Pintu gerbang berkarat itu ia buka lalu di tutupnya kembali.


Tap,,, Tap,,, Tap,,,


Cklek!


Pintu terbuka lebar, dengan segera ia letakan payung berwarna hitam tersebut setelahnya berjalan menuju kamar untuk mengganti pakaianya yang basah kuyup setengah.


Di dalam kamar tampak Harra tengah duduk di atas kasur dengan tanganya yang tengah merajut, sontak saja Fathia langsung mendekat.


"Ibu sedang membuat apa? " tanya Fathia yang membuat Harra menoleh.


"Ibu sedang membuat switer untukmu, apalagi sekarang sudah musim penghujan Ibu tidak mau kamu sakit." sahut Harra yang membuat Fathia terharu sehingga reflek memeluk ibunya


"Terimakasih Ibu,"


"Iya sama-sama, yasudah lebih baik kamu ganti baju dulu."


"Iya ibu,"

__ADS_1


Setelah puteri kesayangannya beranjak menuju lemari pakaian, Harra melanjutkan lagi merajut switer untuk anak semata wayangnya. Harra memang cukup lihai dalam merajut karena sedari kecil memang sudah di ajarkan hingga dewasa ia membuka toko pakaian rajut namun kini semuanya sudah sirna usai dirinya mengalami kebangkrutan.


__ADS_2