
Angin sepoi-sepoi menyentuh kulit lengan Fathia dengan begitu lembut, perempuan dengan rambut sedikit keriting tersebut tengah duduk di kursi taman rumahnya dengan di dampingi oleh sahabatnya. Vilins, sementara Veen sudah pamit pergi guna menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
"Ehm Fathio, " panggil Vilins yang hanya di balas oleh gumaman kecil sahaja dari Fathia, sebab gadis itu tengah memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku ke Belanda?" tanya Vilins yang membuat Fathia langsung menolehkan kepalanya dengan sebuah kerutan di kening yang ikut menyertai.
"Maksudmu?"
"Yaaa kamu ke Belanda aja sementara, atau selamanya juga boleh. Lagian lusa aku harus balik, walaupun sebenarnya masih ingin di sini sama Mama. " ujar Vilins dengan di akhiri nada sedih saat mengingat mamanya yang sudah bercerai dengan sang ayah karena terpikat dengan janda anak satu yang bekerja sebagai guru di kampus miliknya, hingga akhirnya mau tak mau dirinya harus ikut ayahnya untuk tinggal di Belanda bersama ibu tirinya yang baik hati. Tapi ayahnya masih membebaskannya untuk berkunjung kepada ibu kandungnya yang sampai detik ini belum menikah lagi.
Fathia dengan kepekaan-nya langsung mengusap punggung Vilins dengan selanjutnya menarik tubuh ramping tinggi tersebut kedalam sebuah pelukan. "Sabar Lins, ehm. Tapi soal ke Belanda itu hal yang mustahil."
"kenapa? bukankah kau bisa menghindar dari ayah kurang ajarmu itu?dan dalam waktu yang tak tentu ibumu akan aman bukan?" tanya Vilins menatap kedua mata Fathia dengan dalam.
"Hais maksudku, nanti bagaimana kehidupanku di negeri orang? apalagi aku tak bisa bahasa Belanda. Dan aku akan tinggal dimana nanti? bagaimana caranya aku bertahan hidup, sementara disana aku akan kesulitan cari kerja. "
Vilins tertawa kecil saat mendengar penuturan Fathia. "kalau itu sih gampang, " ujarnya sembari mengibaskan tanganya. "Aku kan bisa ngajarin kamu berbahasa, masalah tempat tinggal dan keperluan. Tinggal aku yang urus, "
"Iyaa sih, nanti deh biar aku pikir-pikir lagi. "
__ADS_1
...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...
Tatapan tajam itu terus fokus mengarah depan dengan tanganya terus bergerak pelan di stir kemudi, pakaian khas militer dengan sebuah name tag bertuliskan Rodeniale Arson M tertempel di pakaiannya sebagai identitas.
Dari kejauhan ternampak sebuah bangunan berukuran besar yang berdiri kokoh di atas tanah, sedangkan Arson langsung menambah kecepatan laju kendaraannya.
Hingga sampai pula di depan gedung militer tersebut, Arson langsung keluar dari dalam mobil setelah barusan memarkir-nya.
"Selamat datang letnan jenderal," sapa seorang pria dengan ramah lalu menyalami orang yang di hormatinya itu.
"Saya ingin menemui mereka," tanya Arson usai melepaskan tanganya dari genggaman kulit berwarna kuning langsat.
Selanjutnya dua pria beda nama tersebut langsung berjalan masuk ke dalam gedung.
***
Segerombolan orang-orang nampak duduk di sebuah kursi yang berjejeran, tangan dan kaki mereka juga di ikat dengan tali karena sebelumnya mereka terus memberontak. Beberapa pria berpakaian rapih dan model yang sama tengah berdiri gagah memandang mereka yang terus saja menunduk menahan rasa cemas.
Ckek!
__ADS_1
Hingga akhirnya, pintu kokoh yang tadinya tertutup dengan rapatnya langsung terbuka lebar dengan menunjukan orang yang di baliknya.
"Selamat datang letnan jenderal!"
Seru mereka dengan serempak dengan nada tegas, Arson pun nampak menanggapi dengan sebuah senyum ramah beserta anggukan kepala.
Sementara itu, Clathria yang tengah duduk di antara bawahannya seketika langsung mendongak. Tatapannya tak dapat di tebak namun bibirnya sedikit tersenyum walau nampak samar namun saat Arson mendekat dan duduk di kursi besi, senyumanya langsung pudar.
Hembusan hangat keluar dari hidung mancung milik Arson, pria itu. Nampak memandang satu persatu orang yang tengah duduk tertunduk.
"kalian melakukan jual beli ilegal, apa itu benar?" tanya Arson tanpa bass-basi lagi, tapi tampaknya apa yang barusan di tanyakan tak digubris sama sekali. Yang ada hanyalah keheningan, segerombolan orang berpakaian berantak nampak bagai orang bisu sekaligus tuli.
Arson yang notabenya tak suka mengulur waktu, langsung mengeluarkan senjata api berukuran kecil yang selalu di bawanya jikalau tengah bertugas. "kalau dari kalian tidak ada yang mau menjawab, maka peluru akan menancap luka di tubuh kalian. " ancam Arson, segerombolan orang tersebut nampak diam. Tentu saja mereka tak mau luka tembakan yang sudah di obati sesuai prosedur medis harus kembali terluka.
Sampailah pada saat salah seorang pria berbadan gempal yang nampak tak punya luka apapun membuka suara. "Benar Tuan, kami melakukan jual beli ilegal dan sudah berlangsung selama kurang dari sepuluh tahun. " ungkapnya dengan begitu gemblang, ia tak perduli lagi dengan tatapan tajam dari kawan-kawan. Sebab, dirinya sudah sadar jika apapun yang di lakukanya sudah tidak berguna lagi. Entah itu buka suara maupun tutup suara.
"Terimakasih atas kejujuranmu, dan kalian!" ujar Arson tegas sembari menatap para pelaku kejahatan. "Bersiaplah, karena sebentar lagi kalian akan lebih di tindak lanjuti." lanjutnya seraya bangkit dari duduknya.
Sementara di luar sana, nampak mobil mobil telah terparkir rapih. Bersiap untuk mengangkut para pelaku kejahatan.
__ADS_1
Apalagi seluruh bukti dan orang-orang yang ikut serta bekerja sama dalam jual beli ilegal telah terkumpul sampai akar-akarnya, jadi. Semakin mempermudah proses hukum.