Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 19 | Festival Kuliner


__ADS_3

Malam ini sebuah bulan terukir indah di atas sana dengan di temani bintang yang bergemerlap hingga membuat mata siapa saja yang menatapnya akan terpesona, seperti halnya Fathia yang menatap langit indah sembari menunggu sahabatnya yang tengah memesan sebuah makanan di salah satu pedagang kaki lima yang ikut memeriahkan festival kuliner ini.


"Sungguh indah, Aduh! " di sela-sela rasa takjubnya, seketika Fathia mengaduh saat merasakan sebuah tangan yang menyenggolnya. Sontak saja kepalanya menoleh dan langsung mendengus kesal di saat matanya melihat cengiran Villins dengan kantung plastik yang ia genggam.


"Kalo mau mandangin langit doang mending di rumah aja," ejek Vilins yang tidak di tanggapi, justru sahabatnya itu langsung melengos pergi.


"Ck, aku bingung kenapa dulu aku mau menjadi sahabatnya?" gumam Vilins geleng-geleng kepala, namun ketika melihat langkah Fathia yang semakin jauh seketika Vilins langsung berlari agar tidak kehilangan jejak sedikitpun.


"Woy Fathio!!" teriak Vilins yang menghentikan langkah Fathia dengan pandanganya yang ikut beralih ke arah sahabatnya yang tengah mengatur nafas.


"Kamu itu kenapa? " tanya Fathia dengan enteng sementara Vilins dengan cepat menjawab 'Tidak apa-apa' yang membuat Fathia menghela nafas kesal lalu kembali menatap ke depan. Namun matanya langsung memandangi bocah berusia tujuh tahun dengan tanganya yang memainkan gagang permen sembari menatap Fathia sinis, di belakangnya juga ada ayahnya yang juga menatap Fathia dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan mengejek.


'Kenapa aku harus bertemu manusia aneh seperti mereka? '


Berbeda dengan Vilins yang justru memancarkan binar kebahagiaan saat di depan matanya kini terdapat bocah lucu sekaligus tampan yang membuatnya gemas ingin mencubitnya, apalagi di belakangnya terdapat pria tampan bertubuh kekar persis seperti idamanya.


Tak bisa menahan gejolak ingin mencubitnya, Vilins langsung saja berjongkok seraya berucap "Anak manis, siapa namamu? ah sebelum kamu menjawabnya biar aku tebak pasti pria tampan berduit di belakangmu itu ayahmu ya? lalu di mana ibumu. Apakah ayahmu seorang duda? kalo iya aku bisa menjadi ibumu dan isteri yang baik untuk ayahmu," cerocos Vilins dengan tanganya yang hendak mencubit pipi menggemaskan milik Yanza, namun nasib baik sedang tidak berpihak padanya karena sebuah tangan mungil langsung menepisnya dengan kasar.


"Lepaskan tangan kurang didikanmu itu, dan asal kau tau ya! ayahku memang duda tua tapi jangan berharap kau bisa menjadi ratu karena kau jauh dari tipeku dan tipe ayahku." kecam Yanza yang langsung menampar rasa percaya diri seorang wanita blasteran itu, sedangkan Fathia hanya diam menatap saja dengan tenang.


"A~"


"Sudah diam! aku sedang tidak ingin mendengar ucapan tidak berguna darimu." ucap Yanza dengan ketus, lalu duduk di salah satu kursi yang ada disana.

__ADS_1


"Menyebalkan," gerutu Vilins seraya bangkit.


"Itu belum seberapa," bisik Fathia, namun Vilins tidak perduli karena sudah terlanjur kesal. Wanita blasteran Belanda dan indonesia itu lebih memilih untuk pergi dan melanjutkan menjelajahi festival kuliner yang cukup meriah.


Sementara Fathia hanya diam saja dan memilih untuk duduk di kursi namun berjauhan dengan Yanza, dirinya merasa tidak enak dengan Vilins jika memanfaatkan traktiranya. Jadi ia hanya ikut saja daripada sahabatnya itu sedih karena tidak ada teman.


"Pa, aku ingin itu. " pinta Yanza dengan manja sembari menunjuk ke arah pedagang seafood kesukaannya yang nampak penuh dengan pelanggan.


"Tapi Yanza, itu sangat penuh." tolak Arson.


"Orang tua yang gemar mengingkar janji," gerutu Yanza yang di sambut helaan nafas, memang tadi sebelum kesini Arson sempat berjanji akan menuruti apapun kemauan Yanza. Namun ia tidak mungkin menunggu pelanggan-pelanggan itu pergi, tapi jika sampai dirinya menolak ia takut anaknya akan mengikuti perbuatanya untuk mengingkari janji. Tentu Arson tidak ingin kepribadian Yanza seperti itu.


"Baiklah," dengan terpaksa akhirnya Arson menuruti seraya bangkit untuk menuju pedagang seafood yang sangatlah ramai.


"Adik manis, tolong beli jajanan ini ya." pinta wanita tersebut dengan tampang memohon.


Yanza seketika menelisik nya dari atas sampai bawah, mata jelinya entah mengapa merasa aneh dengan wajah wanita di depanya yang seperti polesan. Apalagi kulitnya yang nampak terawat dan tidak kusam sama sekali, hanya pakaiannya saja yang sangat lusuh.


"Dik, tolong beli dagangan kakak ya. Dari tadi belum ada yang beli, Ibu kakak di rumah pasti sudah menunggu," lanjutnya dengan menyodorkan jajanan.


'Ektingmu kurang bagus Nona, '


Walau sudah tahu maksudnya, tapi Yanza tetap menerimanya dan membuka bungkusan jajanan. Wanita itu nampak tersenyum dan menunjukkan gigi putihnya karena merasa senang.

__ADS_1


Melihat hal itu, tanpa pikir panjang lagi Yanza langsung saja memasukkan jajanan ke dalam mulut wanita tadi. Serangan tiba-tiba dari Yanza tidak dapat di elakkan hingga tanpa sengaja mulutnya terbuka dan di saat itulah jajanan masuk ke dalam rongga mulut, ingin di muntahkan namun tangan mungil Yanza langsung membekapnya dengan menggunakan sapu tangan.


Akhirnya dengan spontan wanita lusuh mengunyahnya dan menelanya, Yanza tersenyum puas dan melepaskan bekapanya setelah yakin wanita di depanya sudah menelan.


Rupanya apa yang di lakukan Yanza barusan di lihat oleh beberapa orang disana begitu juga dengan Fathia yang tercengang, ada juga yang mengucapkan jika bocah cilik yang terlihat lugu justru sangat tidak sopan. Namun Yanza tidak mau ambil pusing karena dirinya sudah tahu jika jajanan yang di berikan oleh wanita lusuh sudah di berikan obat.


Sementara wanita tadi nampak mencoba untuk tetap membuka matanya namun kantuknya sungguh dahsyat hingga dirinya langsung tumbang dan tak sadarkan diri.


[Astaga! dia pingsan]


[Bocah cilik itu sungguh keji]


[Orang tuanya pasti tidak pandai mendidik]


Orang-orang saling berbisik tapi Yanza nampak tidak perduli, ia lebih memilih untuk kembali duduk dengan tenang sembari melihat wanita lusuh di depanya yang tengah tidur nyenyak.


"Bocah! lebih baik kamu ikut kami," sentak seorang pria berbadan tegap yang menatap tajam, Yanza yang di tatap dengan demikian hanya tersenyum sinis. Sudah ia duga kalau ini akan terjadi.


Pria itu semakin naik pitam saat tidak mendapatkan respon sedikitpun, "Bawa dia! "


Di belakangnya seketika muncul orang-orang yang berpakaian selayaknya pengunjung lain, sepertinya mereka tengah melakukan penyamaran.


Sesuai perintah, mereka langsung mendekat ke arah Yanza dan hendak membawanya. Tapi suara lengkingan seorang wanita berhasil menghentikan aksi mereka yang hampir saja menyentuh kulit bocah berusia tujuh tahun yang masih bersikap santai.

__ADS_1


"Jika kalian menyentuhnya aku tidak akan ragu untuk melapor polisi!"


__ADS_2