Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 26 | Ular Cobra Betina


__ADS_3

Seiringnya mobil di kemudikan oleh supir, Fathia terus saja menyenderkan kepalanya ke jendela dengan matanya yang kini terpejam namun tidak dengan mulutnya. Suara dengkuran halus terus terdengar tak lupa sumber mata air yang ikut mengalir, sedangkan supir yang tengah duduk di sampingnya nampak fokus.


Sementara di kursi penumpang, tampak Arson tengah merangkul anaknya yang kini sedang memainkan sebuah rubik milik ayahnya.


"Yanza tampan, kamu gak ngantuk? " tanya Arson yang membuat gerakan tangan Yanza terhenti.


Di liriknya wajah pria yang lebih tinggi darinya itu. "Belum ngantuk," jawabnya singkat lalu melanjutkan aktifitasnya kembali.


Arson yang mendapati respon anaknya yang singkat, hanya bisa tersenyum gemas. Sampai tanganya sudah ingin mencubit pipi menggemaskan milik Yanza, namun. Segera di urungkanya saat terdengar suara dering ponsel, hingga akhirnya Ia lebih memilih untuk merogoh saku celana levis yang di kenakanya. Setelah benda persegi sudah berada di tanganya, mata tajam Arson langsung melihat nama si pemanggil. Mama, setelah tahu yang menelfon adalah ibunya Arson langsung menggeser tombol hijau.


〔Halo〕


〔Arson, bagaimana? Apa Yanza sudah ketemu?〕


〔Mama gak perlu khawatir, sekarang Yanza udah sama aku. Tuh lagi main rubik〕


〔Syukurlah kalau begitu, oh iya ini ada Leyza. Katanya mau ngomong sama kamu 〕


〔Ja〕


〔Halo kak Arson, Leyza kebetulan lagi di sini. Nemenin Tante yang dari tadi kepikiran terus sama kakak, walaupun sekarang udah mau pagi. Tapi karena Leyza sayang banget sam〕


〔Heh cobra betina, mending diem deh. Gak usah buang-buang bisamu itu, karena apa? Bisamu itu gak mempan!〕


Tut!


Setelah mengatakan hal demikian, Yanza dengan cepat menekan tombol merah hingga membuat sambungan telepon terputus.


Arson yang melihat apa yang di lakukan oleh anak jantanya, menahan tawanya.


"Ternyata kau posesif juga ya,"


Yanza langsung mendengus sebal. "Bukan posesif, tapi melindungi telinga saja agar tidak mendengar suara sstt sstt. "


"Pfft ha ha ha, "


Arson yang tak bisa menahan tawanya lagi, langsung tertawa lepas saat mendengar Yanza yang menirukan suara desisan ular.


Fathia yang mendengar suara keras langsung menggeliat karena tidurnya cukup terganggu. "Suara buto ijo memang mengganggu," racaunya dengan mata yang masih terpejam.


Arson langsung berhenti tertawa, dan kini menatap Fathia dengan nyalang. Dirinya sungguh merasa tersinggung sekaligus kesal saat tak lama kemudian Yanza tertawa sampai terbatuk-batuk.

__ADS_1


'Aku juga ingin tertawa, tapi nanti bisa menghembuskan nafas terakhir.'


Batin sang supir dengan mengatupkan bibirnya untuk menahan hasratnya yang ingin tertawa apa lagi dirinya termasuk orang receh yang mudah tertawa, namun. Ini bukanlah waktu yang tepat, sebab. Posisinya sedang berada di jalan menurun yang kanan adalah jurang sementara di sebelah kiri merupakan perbukitan, jadi. Jika sampai ia kelepasan saja bisa fatal karena konsentrasinya akan pudar seketika.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di sebuah kamar dengan desain warna silver dan cream nampak terlihat elegan, nampak dua orang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang. Dimana salah satu dari dua orang tersebut tengah merangkul anak muda di sampingnya yang wajahnya nampak di tekuk akibat kesal.


'Dia bilang tadi aku apa? ular cobra betina? Sungguh aku merasa di rendahkan, '


"Leyza, Tante minta maaf ya. Karena Yanza udah bicara seperti itu,"


"Gak apa kok Tan," jawab Leyza dengan tersenyum simpul, dirinya harus bisa menstabilkan perasaannya yang tengah tidak baik-baik saja.


"Kamu memang berhati baik Ley, Tante beruntung punya keponakan kayak kamu." ucap Mara dengan bangganya.


"Tante bisa saja," pungkas Leyza dengan terkekeh.


Sementara Mara hanya tersenyum, matanya melirik ke arah jam beker miliknya yang berada di atas meja nakas.


Setelah melihat jarum yang mengarah ke angka tiga, Mara langsung menoleh ke arah Leyza berada.


"Ini udah hampir pagi, kita tidur yuk."


Berikutnya dua wanita beda usia tersebut langsung merebahkan tubuhnya di satu ranjang yang sama, Mara yang sudah tenang setelah barusan mendapat kabar baik dari anak laki-lakinya. Langsung saja memejamkan kedua l kelopak mata untuk menghantarkannya ke alam bawah sadar.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Mobil jenis Toyota Voxy nampak berhenti di depan gerbang berkarat yang terkena sinar matahari akibat waktu yang sudah pagi.


Fathia mendorong pintu mobil guna turun dari sana.


Brak!


Di tutupnya lagi usai berada di luar, namun. Sebekum dirinya beranjak untuk membuka pintu gerbang, terlebih dahulu mendekat ke arah jendela kaca tempat dimana kursi penumpang berada.


Tuk…Tuk…


Di ketiknya jendela mobil, dan tak lama kemudian. kaca tersebut terbuka hingga terlihatlah Arson yang tengah menatapnya, sementara Yanza tampak tidur dengan posisi kepala yang berada di atas paha sang Ayah.


"Tuan betulan tak ingin mampir barang sejenak?" tanya Fathia.

__ADS_1


"Tidak," jawab Arson dengan singkat.


"Yasudah kalau begitu," ucap Fathia seraya mundur satu langkah ke belakang, sementara Arson nampak mengucapkan sebuah kata kepada supir hingga tak lama kemudian mobil berwarna hitam tersebut melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Fathia sendiri disana.


Sedangkan Fathia tanpa menunggu lama lagi langsung mendekat ke arah gerbang berkarat rumahnya dan langsung menggesernya.


Treeng!


Setelah terbuka hingga cukup untuk dirinya lewat, Fathia langsung lari menuju ke arah rumahnya.


Tok…Tok…


Tok…Tok…


Fathia langsung mengetuk pintu rumahnya dengan tidak sabaran, dirinya sudah tak tahan untuk memeluk sang ibunda karena rindu yang ia rasakan. Namun juga ada perasaan khawatir.


Hingga terdengar sebuah suara langkah kaki dari dalam rumah dengan di susul pintu yang terbuka.


Cklek!


"Ibu!"


Tanpa melihat siapa yang membukakan pintu, Fathia langsung berhsmbur memeluk orang tersebut. Vilins yang di peluk oleh orang di kenalnya dengan segera membalas bersama air mata yang mengalir.


"Akhirnya kamu pulang Fat," ujar Vilins dengan tersedu-sedu.


'Suaranya kok mirip,'


Ketika menyadari sebuah kejanggalan, Fathia langsung mendongak. "Loh Vilins,"


Mendengar suara cempreng sahabatnya, Vilins langsung melonggarkan pelukannya. "Iya ini aku, sahabatmu yang cantik jelita."


Fathia mencebikan bibirnya saat mendengar nada percaya diri sahabat kecilnya. "kamu kok…"


"Udah gak usah banyak cingcong, mending sekarang kamu temui ibukmu. kasihan beliau tadi malam pas tidur manggil kamu terus, pasti sangking khawatirnya sama kamu." sambar Vilins yang berhasil mengingatkan Fathia kembali tentang ibunya, hingga membuatnya langsung berlari menuju kamar. Tak perduli walau Vilins menggerutu karena pundaknya tersenggol kasar.


Cklek!


"ibu!"


"Fathia, "

__ADS_1


Harra yang melihat puterinya yang sudah kembali, langsung merentangkan tanganya saat melihat Fathia yang berlari ke arahnya. Hingga akhirnya dua tubuh ibu dan anak itu saling menempel dengan tangan mereka yang saling melingkar.


Vilins yang melihat adegan itu di depan matanya langsung ikut menangis haru.


__ADS_2