Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 16 | Waktunya Gajian


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, dan hari ini waktunya untuk Fathia gajian maka dari itulah gadis itu kini tengah duduk berhadapan dengan Mara.


"Fathia, hari ini waktunya kamu gajian dan ini uangnya." ujar Mara sembari memberikan satu amplop tebal.


"Terimakasih Nyonya, saya berjanji akan semakin baik dalam bekerja." ucap Fathia sembari memasukan amplop itu ke dalam tas.


"Iya sama-sama, ehm maaf kalau saya tinggal tidak apa-apa kan? karena saya masih ada yang perlu di kerjakan. " tanya Mara.


"Tidak apa-apa Nyonya, " jawab Fathia dengan senyum merekah di wajahnya, Mara yang mendapatkan jawaban dari bawahanya langsung mengangguk lalu bangkit berjalan menuju pintu sembari merogoh ponselnya untuk mulai beraktifitas kembali.


Fathia kembali mengeluarkan amplop cokelat dari tas-nya, di tatapnya dengan menerawang jauh memikirkan cara membagi uang tersebut. Gaji yang dia dapatnya adalah tujuh juta setelah bekerja selama sebulan, tentu uang tujuh juta bukanlah jumlah yang banyak namun bagi Fathia itu jumlah yang pas-pasan tapi harus tetap dia syukuri. Bukan tanpa alasan tetapi karena keluarganya masih mempunyai hutang dengan renternir atau sebenarnya akan lebih tepat lagi jika itu adalah hutang sang ayah untuk bermain judi yang jumlahnya tidak sedikit dan Fathia harus membayarnya dengan susah payah, kurang lebih empat juta harus ia berikan kepada renternir dan sisanya untuk dia pakai kebutuhan sehari-hari selama sebulan jadi ia harus berusaha untuk mengaturnya.


"Woah habis gajian tuh," celetuk Yanza yang sudah duduk manis di sofa dengan gaya tengilnya.


Fathia sontak mendengus kesal "Iya, kenapa? kau mau minta uang memangnya untuk membeli permen lolipop." ujar Fathia dengan sedikit meledek yang di sambut decihan dari bocah berusia tujuh tahun itu.


"Tidak, tapi mungkin aku akan memintamu untuk mentraktirku." ujar Yanza yang sudah ada sesuatu terselubung di baliknya.


"Kalau itu aku ti~"


"Kalau tidak mau yasudah tidak apa-apa, tapi aku terpaksa melepaskan hewan menggemaskan ini." ancam Yanza seraya memperhatikan sebuah tabung bening berukuran kecil di tangannya, dimana di dalam tabung itu terdapat segerombolan cacing-cacing gemuk tengah bergerilya menambah kesan geli bagi Fathia. Namun ia harus tetap tenang, tidak boleh terpancing lagi.


Yanza memicingkan matanya dengan di iringi sebuah senyum jahil, jari-jari mungilnya mulai menempel di tutup tabung tersebut hendak membukanya. Namun sebuah suara yang memekakan telinga berhasil menghentikan aksi Yanza.


"Iya-iya, aku mau mentraktirmu dengan tidak ikhlas. Tapi tolong jangan lepaskan cacing-cacing menggelikan itu, " ucap Fathia dengan bergidig ngeri sementara Yanza tersenyum puas seraya memasukan tabung itu ke dalam saku celananya.


"Baiklah, untuk makan siang hari ini aku ingin makan di restoran Gresty karena disana banyak seafood kesukaanku." jelas Yanza sembari turun dari sofa lalu berjalan keluar dari rumah meninggalkan Fathia sendirian disana.


"Yanza!! itukan restoran mahal, " pekik Fathia merasa sewot.


"Aku tidak perduli!! "

__ADS_1


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di sebuah cave yang cukup terkenal di kota metropolitan itu, tengah duduk sekumpulan wanita di antaranya terdapat Leyza.


"Bagaimana minggu lalu? " tanya Lusya dengan penasaran yang di ikuti oleh teman-teman lainnya, sementara Leyza yang di tanya seperti itu seketika gelagapan. Boro-boro ada adegan yang terkesan, bertemu saja hanya sekali itu saja sewaktu bersandiwara.


"Kok diem aja Ley? " ucap Nelci mengerutkan keningnya, nampak perempuan bernama Leyza itu menghela nafas sebelum akhirnya terpaksa berbohong demi tidak menurunkan keyakinan teman-temanya kalau dia bisa menjadi menantu kesayangan keluarga Marvous.


"Oke deh aku ceritain kalau kalian berdua emang udah kepo banget, sesuai dugaan aku Kak Arson kemarin seneng banget loh pas aku tinggal di rumshnya. Oh iya kalian inget Yanza kan? dia seneng banget pas tante super cantiknya ini tinggal disana, bahkan nih ya dia bilang pengen aku jadi ibunya." jelas Leyza penuh dusta.


"Woah itu bagus dong, berarti kamu akan semakin mudah masuk ke dalam keluarga Marvous." ujar Nelci merasa senang dengan penuturan Leyza barusan.


"Jangan lupa juga kamu naikin jabatan kita di IN_Marvous Corp setelah kamu resmi jadi isteri tuan Arson, sesuai dengan perjanjian kamu." skakmat, ucapan Lusya berhasil membuat Leyza mati rasa.


'Sialan, kenapa dulu aku taruhan sama mereka berdua sih.'


Tanganya ia kepalkan dengan kuat, menyesali taruhan yang ia lakukan dahulu. Apalagi mulutnya yang langsung berucap tanpa pikir panjang dan alhasil inilah yang terjadi.


"Oh ya semua ini kamu yang bayar ya," celetuk Lusya yang membuat Leyza menggeram kesal.


"Kamu kan baik Ley, kita berdua berjanji kok bakal bantuin kamu jikalau butuh." timpal Nelci yang lumayan mampu membuat Leyza melunak, setidaknya dia mempunyai tempat pelarian kalau-kalau dirinya mendapatkan masalah.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


_Restoran Gresty_


Fathia hanya bisa melihat sekumpulan makanan seafood yang memenuhi meja, ia enggan dan berat untuk memakan makanan-makanan mahal di depannya. Pikirannya berkelana jauh memikirkan nasibnya untuk kedepan setelah uangnya terkuras walau Fathia juga belum tahu berapa jumlah uang yang akan habis, sementara Yanza tengah asyik melahap makanan kesukaanya itu tanpa memikirkan perasaan galau perempuan di depannya.


Akhirnya Fathia lebih memilih untuk menatap langit kelabu di luar sana yang terlihat dari jendela kaca besar, melihat kondisi cuaca sepertinya akan turun hujan.


Fathia melirik jam tangan miliknya, disana tertera angka dua belas titik dua tiga lima. Usainya dia langsung merogoh tas miliknya untuk mengambil benda pipih kesayangan untuk menghubungi ibunya.

__ADS_1


Tut,,, Tut,,, Tut,,


[Ibu? ]


[Fathia, kau dimana? tumben belum pulang]


[Fathia lagi nemenin Yanza makan di luar, dan mungkin saja hari ini akan pulang telat. Tidak apa-apa kan Bu?]


[Yasudah tidak apa-apa kalau begitu, nanti pulangnya hati-hati ya soalnya bentar lagi kayaknya mau turun hujan]


[Iya, Ibu juga hati-hati ya di rumah]


Tut!


Telepon ibu dan anak itu akhirnya terputus, lama ia tatap makanan di depanya akhirnya menjadi lapar juga kendati itu juga tanganya reflek memakan seafood itu. Dari pada kelaparan, Toh sudah terlanjur.


***


Setelah selesai, Fathia mengusap bibirnya menggunakan tisu yang tersedia lalu menatap Yanza yang juga menatapnya.


"Sudah selesai? " tanya Fathia dengan ketus.


"Sudah selesai,"


"Mbak boleh minta billnya? "


Seorang pegawai perempuan mendekat, lalu menyerahkan selembar kertas yang menjelaskan harda-harda makanan yang sudah di beli sampai jumlahnya.


Ketika di bacanya, Fathia serasa ingin pingsan mengetahui uangnya akan habis dua juta.


"Yang benar saja ini? "

__ADS_1


__ADS_2