
Malam hari ini, dimana malam pertama bagi Yanza tinggal di sebuah rumah yang sudah jelas-jelas sangat asing untuknya. Namun demi menghindari keluarga menyebalkanya itu dia rela tinggal di tempat asing.
Malam ini hujan turun dengan begitu lebatnya, tak lupa juga dengan kilat yang begitu terang benderang hingga menembus kain tipis yang menutupi jendela kamar Yanza sehingga membuat kamar itu menjadi terang.
Sialnya lagi Yanza malam ini belum juga bisa tidur, padahal waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari. Sudah berbagai cara di lakukan oleh bocah cilik itu namun tetap saja kantuk tidak datang dengan cepat hingga membuat Yanza menggeram kesal.
Selalu saja dirinya tidak bisa memejamkan matanya dengan nyenyak ketika tidur di tempat asing, apalagi malam ini begitu menakutkan bagi Yanza.
Jger!
"Mamah! "
Bahkan sebuah suara petir yang bervolume besar mampu membuat Yanza terlonkan dengan tanganya yang menutupi kedua telinganya, bahkan sangking ketakutanya Yanza reflek mengucapkan kata 'Mamah'.
Yanza hanyalah seorang bocah cilik yang rapuh, dia kerap kali merasa iri saat teman-temanya dulu di sekolah sering kali menceritakan tentang Ibu mereka yang selalu menemani tidur anaknya dengan kasih sayang begitu besar. Sementara dirinya? dia tidak pernah merasakan sentuhan seorang Ibu bahkan dia tidak bisa berbohong bahwa dalam hidupnya memamg menginginkan seorang Ibu yang selalu menjadi malaikatnya, walaupun sang Nenek selalu melakukan apa yang selayaknya seorang Ibu lakukan namun tetap saja rasanya berbeda.
Tanpa sadar setetes demi tetes air mata mulai mengalir di pipi chubby milik Yanza, dia sekarang merasa ketakutan bahkan dia takut untuk membuka matanya.
Jger!
"Mamah peluk Yanza! " pekiknya seraya meloncat dari kasur dengan matanya yang masih terpejam, beruntung kasur yang ada di kamarnya tidak terlalu tinggi jadi dia tidak jatuh namun Yanza lupa dengan pintu yang masih tertutup rapat.
Brugh!
"Aduh! "
Yanza terjatuh karena menabrak pintu di depanya, dirinya menggeram namun dia dengan cepat bangkit dan langsung membuka pintu sialan itu yang membuatnya terjatuh dengan naas.
Cklek!
Jger!
"Mamah!"
__ADS_1
Kembali Yanza berteriak dan kakinya langsung berlari ke arah satu kamar yang di tempati oleh Fathia bersama Ibunya, kakinya berlari dengan cepat walau kerap kali meja ataupun kursi membuat kuku kakinya merasakan sakit. Namun hal itu tidak membuat Yanza berhenti untuk terus berlari dan berlari.
Clek,,, Clek,,, Clek,,,
Sudah berkali-kali bocah cilik itu mencoba untuk membuka pintu, namun nahasnya malah pintu tersebut terkunci dari dalam yang membuat Yanza semakin menangis histeris.
"Nenek Harra, Kak Fathia tolong buka pintunya. Yanza takut hiks hiks! " teriak Yanza dengan suara isak tangis, sedangkan Fathia yang tengah tidur dengan nyenyak terpaksa bangun ketika mendengar samar-samar seseorang berteriak. Begitupun dengan Harra.
"Fathia, coba buka pintunya. Siapa tau itu Yanza, " ujar Harra yang masih setengah sadar, Fathia hanya mengganggukan kepalanya saja patuh lalu turun dari ranjang berjalan ke arah pintu dengan masih di dera rasa kantuk yang teramat sangat.
Cklek!
"Yanza~"
Deg!
"Mamah, Yanza takut hiks hiks. " tanpa pernah Fathia duga sebelumnya, Yanza justru sekarang memeluknya dengan berderai air mata yang membuat baju tidur yang si kenakan oleh Fathia seketika basah.
"Yanza kamu kenapa? " tanya Fathia dengan berjongkok di depan bocah cilik itu sembari menatap Yanza heran.
Jger!
"Ijinkan aku untuk tidur di kamarmu, aku takut. " mohon Yanza dengan suara bergetar yang membuat Fathia merasa iba, maka dari itu dengan segera Fathia mengangkat tubuh mungil Yanza lalu membawanya masuk ke dalam kamar seraya menutup pintu.
"Loh Yanza kenapa? " tanya Harra yang tengah mengikat rambut panjangnya lalu membenarkan posisinya.
"Dia sedang ketakutan Bu," jawab Fathia lalu mendudukan Yanza di ranjang tidur miliknya.
Harra mengusap-usap lembut punggung kecil Yanza, sementara Fathia baru saja keluar kamar untuk mengambil air minum.
Setelah merasa agak tenang, barulah Yanza berhenti terisak lalu menoleh ke arah Yanza yang juga menatapnya dengan lembut.
"Nenek Harra, Yanza boleh tidak malam ini tidur disini? " tanya Yanza dengan menyingkirkan rasa gengsinya untuk sementara.
__ADS_1
Mara mengangguk pelan "Tentu saja boleh Yanza Tampan,"
"Terimakasih Nenek, "
Cklek!
Kedua manusia itu menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka lebar oleh Fathia yang membawa secangkir gelas berisikan air putih, Fathia melangkah mendekat ke arah Yanza lalu menyodorkan gelas minum tersebut.
Yanza hanya menatapnya saja karena merasa sungkan, yang membuat Fathia berucap "Tenang saja, air minum ini belum aku berikan racun. "
"Ck, aku tahu itu. " decih Yanza seraya menerima sodoran gelas itu lalu sedikit demi sedikit mulai meneguknya hingga tandas yang membuat Fathia tersenyum kecut.
"Haus apa doyan?" tanya Fathia mengejek sementara Yanza hanya menatapnya dengan sinis.
Harra hanya geleng-geleng kepala atas tingkah kedua bocah di depanya itu, "Sudah, lebih baik kita tidur. "
Fathia hendak naik ke atas ranjang namun gerakanya terhenti saat melihat Yanza hanya diam.
"Hey, ayo naik. Apa kau mau berdiam saja di situ? " tegur Fathia.
"Aku tidur di lantai saja, " ujar Yanza seraya turun dari ranjang, sontak saja atas penuturan Yanza barusan membuat Harra beserta Fathia segera mencegah aksi Yanza.
"Yanza, kamu jangan tidur di lantai. Nanti sakit lebih baik kamu tidur di atas, " ujar Harra yang membuat langkah Yanza terhenti seketika.
"Betul itu, lagi pula aku tidak mau si marahi oleh Nyonya Mara karena membiarkanmu tidur di lantai. " timpal Fathia yang membuat Yanza membalikan badanya.
"Boleh? " tanya Yanza dan di balas anggukan oleh Harra dan Fathia, akhirnya Yanza naik ke atas ranjang lalu tidur di samping Harra. Fathia juga ikut naik ke atas ranjang, dan jadilah mereka sekarang tidur bertiga.
***
Pagi telah tiba, dan seperti biasanya Fathia akan mengajar Yanza. seperti sekarang ini mereka sudah duduk berhadapan dengan Fathia yang sudah mulai menggerakan mulutnya.
"Oke Yanza, pembagian tadi apa sudah kau pahami? " tanya Fathia yang di balas anggukan oleh Yanza.
__ADS_1
Fathia lalu menyerahkan selembar kertas yang di dalamnya sudah terisi penuh soal-soal untuk membuktikan jika Yanza benar-benar paham atau tidak, sedangkan Yanza yang menerima kertas itu seketika mengerjakanya dengan begitu muda. Karena Yanza termasuk bocah yang pintar namun sayangnya dia tidak mau masuk sekolah, padahal jika dia bersekolah sudah di pastikan akan mendapatkan juara kelas terus menerus.