Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 14 | Ekting Keluarga Licik


__ADS_3

Pagi ini Fathia hanya bisa uring-uringan di ruang tamu dengan terus mengunyah pisang goreng yang ia buat sendiri, sembari menonton sebuah film kartun di ponselnya yang begitu jadul.


Biasanya dia di jam setengah sembilan pasti sedang mengajar Yanza dengan berbagai materi-materi, namun kali ini berbeda. Setelah mendengar kata-kata Arson kemarin itu yang membuatnya tidak bisa tidur bahkan Fathia menempelkan sebuah koyo di kening dan pelipisnya karena merasa pusing memikirkan segalanya.


Bagaimana caranya Fathia mendapatkan uang? sementara sekarang dirinya sudah di pecat apalagi mencari pekerjaan itu tidak gampang.


Fathia mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampai tandas, setelah itu dia merebahkan dirinya di atas sofa lusuh yang sebagian sudah koyak.


Tanganya mulai menarik-narik rambut sebahunya dengan begitu frustasi, "Bodoh kau Margareta Airun Fathia! bodoh kau memang bodoh, "


Harra yang melihat anaknya begitu frustasi di ruang tamu, hanya menatapnya dengan nanar. Harra kasihan dengan puteri semata wayangnya bahkan dia merasa bersalah karena hanya bisa menjadi beban, andai saja kecelakan itu tidak terjadi sudah di pastikan hidupnya dan anaknya tidak akan sesusah ini namun nasi sudah menjadi bubur.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Di ruang tamu rumah Marvous, nampak Certi Son Leyza dan Mara tengah duduk di sana. Mara sendiri sudah pulang sejak pagi tadi karena urusannya di luar kota sudah selesai.


Tapi sekarang malah dia harus mendengarkan ucapan-ucapan keluarganya sebelum dirinya sempat untuk beristirahat.


"Lourdes Armara Marvous kakak ipar-ku yang baik, lihatlah puteri tercintaku dia rela terluka demi melindungi cucumu. " ucap Son yang sedang menjalankan aksinya.


"Maafkan aku ya adik ipar, karena aku anakmu harus terluka dan untuk itu aku akan bertanggung jawab. " jawab Mara yang merasa bersalah apalagi ketika melihat Leyza yang kini tengah mengompres pipi yang kena tampar kemarin dengan air dingin. di benak Mara pasti tamparan itu sangatlah keras sehingga Leyza sampai separah ini bahkan Mara sudah membayangkan bagaimana sakitnya.


Leyza yang merasa jika Mara sudah termakan hasutan seketika tersenyum puas dengan terus menempelkan kain kompres di pipinya sembari mendesis berpura-pura jika ia merasakan perih, walau sebanenya sama sekali tidak sakit.


"Tidak apa Tante Mara, karena aku sangat menyayangi Yanza bahkan jika nyawaku harus di korbankan aku rela asalkan Yanza selamat. " ucap Leyza yang membuat Mara terharu.


"Puteriku ini sungguh menyayangai Yanza selayaknya seorang Ibu yang menyayangi anaknya," timpal Certi yang sedari tadi memeluk Leyza.


"Bagiku Yanza seperti anak kandungku, bahkan jika Yanza menginkan seorang Ibu aku rela menjadi Ibu yang baik untuknya dan menjadi istri yang baik untuk kak Arson." jelas Leyza.

__ADS_1


"Terimakasih Leyza atas kasih sayangmu yang kamu berikan kepada Yanza, kamu memang calon Ibu dan Istri yang baik. Tante mengijinkanmu untuk menyayangi Yanza selayaknya seperti anak kandung. Tapi untuk masalah menikah dengan Arson anaku, Tante tidak bisa memutuskanya dengan sepihak karena yang akan menjalaninya adalah Arson sendiri. " Mara yang sudah tahu arah pembicaranya langsung menjawab dengan hati-hati, namun walau dia sudah mencoba untuk tidak membuat keluarga dari almarhum suaminya itu kecewa tapi mereka tetap mereka kecewa.


"Ehm, " Son seketika berdehem karena tidak mau membuat mereka mengheningkan cipta untuk waktu yang tidak pasti, "Kakak Ipar, tenang saja karena aku sudah paham. Mungkin belum waktunya untuk membahas soal ini tapi semoga saja takdir menyatukan Arson dengan anaku, "


Mara terdiam, dia memang menyukai Leyza yang berhati lembut dan dia juga terlihat lugu tetapi tentang masalah hidup anaknya dia tidak akan ikut campur.


Sementara di dalam kamar nampak dua kepala menyembul keluar memperhatikan orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu, anak dan Ayah itu saling berpandangan lalu tertawa bersama karena merasa lucu dengan apa yang mereka obrolkan.


"Yanza, apa kau akan setuju jika ayahmu yang tampanya kelewat batas ini menikah dengan wanita ular berbisa? " tanya Arson yang sebenarnya sudah tahu dengan jawaban Yanza.


"Aku tidak akan setuju dengan itu ayahku yang kelewat percaya diri," balas Yanza dengan berjalan lalu merebahkan dirinya di atas ranjang milik ayahnya.


Arson ikut merebahkan dirinya di samping Yanza, "Baguslah, jadi Ayah tidak akan mempunyai seorang istri siluman ular berbisa."


Setelah mengatakan hal tersebut Arson mengangkat tanganya hendak memeluk anak laki-lakinya namun dengan cepat Yanza bangkit lalu turun dari ranjang.


"Wleeek! " ejek Yanza dengan menjulurkan lidahnya dan Arson yang melihatnya langsung bangkit lalu mengejar anak tampanya itu, jadilah mereka mengejar satu sama lain.


***


Mara menyenderkan kepalanya di sofa dengan memejamkan matanya, setelah Certi Son dan Leyza pergi kini tinggalah Mara sendirian si sana, namun matanya terbuka saat menyadari jika pagi ini dirinya tidak melihat Fathia yang datang ke rumahnya untuk mengajar Yanza.


Karena itu tangan Keriputnya menggapai ponsel yang berada di sampingnya, tanpa menunggu lama lagi Mara langsung menghubungi nomor Fathia.


Tut,,, Tut,,, Tut,,,


[Halo Fathia]


[Oh i-iya Halo juga Nyonya Mara]

__ADS_1


[Ehm, Fathia?]


[Eh iya Nyonya ada apa?]


[Kamu kenapa hari ini tidak ke rumah untuk mengajar Yanza? apa kamu sakit Fa? atau apa?]


[Hehehe sepertinya Nyonya Mara tengah mengalami amnesia, bukankah aku sudah di pecat Nyonya?]


[Di pecat? maksudmu apa Fathia?]


[Saya sudah di pecat oleh orang yang mengaku bahwa dia ayah dari Yanza]


[Oh ya ampun, sudah-sudah lebih baik kau lupakan saja dengan apa yang sudah di katakan oleh pria tidak waras seperti itu]


[Mak-maksud Nyonya apa?]


[Kamu tidak di pecat Fathia, lagipula mencari orang yang mau menjadi guru Yanza itu tidaklah mudah. Jadi saya pikir mungkin akan mempertahankan kamu agar saya tidak tambah pusing, dan ingat satu hal lagi Fathia bahwa hanya saya sendiri yang bisa memecatmu tapi orang lain tidak bisa sama sekali. Entah itu cucu saya ataupun anak saya sekalipun]


[Jadi saya masih bisa bekerja Nyonya?]


[Iya, tapi saya rasa lebih baik kamu besok saja berangkatnya]


[Terimakasih Nyonya]


[Iya sama-sama, ehm kalau begitu telepon saya putus ya]


Tut,,,


Mara meletakan ponselnya kembali di atas sofa yang empuk itu, melihat anak dan cucunya yang tengah bermain kejar-kejaran di dalam rumah. Sungguh pemandangan yang sangat indah karena jarang juga mereka bisa seperti itu, hanya ketika Arson sedang senggang dan tidak ada gangguan dari dua pekerjaanya itu.

__ADS_1


__ADS_2