Guru Ajar Tuan Muda

Guru Ajar Tuan Muda
Bab 22 | Jam Tangan Canggih


__ADS_3

Setelah semua tali terlepas dari seluruh tubuhnya, Yanza membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Ia menatap sebuah jam tangan mewah yang melekat di tangannya, setelah itu jati telunjuknya menempel ke jam tanganya sampai beberapa detik hingga akhirnya jam tangan tersebut yang awalnya bergambar angka dan tiga jarum seketika berubah menjadi sebuah layar yang hanya dirinya saja yang tahu bagaimana cara menggunakannya.


Fathia yang melihat Yanza justru memainkan jam tanganya langsung mendengus kesal karena seperti di abaikan. "Tuan Muda, masa kamu gak bukain tali aku juga sih? "


Yanza menoleh menatap dengan datar. "Buka sendiri saja," ucapnya dengan acuh tak acuh dan lebih memilih untuk memperhatikan layar di jam tanganya. Jam tangan canggih yang di berikan oleh ayahnya itu mempunyai banyak kegunaan, dan saat inilah Yanza segera mengaktifkan dimana dirinya kini berada. Ia ingin ayahnya cepat datang karena sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi.


Fathia mendengus kesal, namun mengingat tadi Yanza melepaskannya begitu mudah. Akhirnya Fathia mencobanya, namun nasib sial tengah menghampirinya saat tali ikatan malah semakin erat.


Akhirnya Fathia hanya diam saja, pasrah. Namun hatinya merasa bersalah, jam segini harusnya ia sudah pulang. Ibunya pasti sangat mencemaskanya.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Arson yang tengah mengotak-atik komputer di depanya yang bersih tidak ada jejak atas lokasi dimana anaknya berada merasa frustasi, sepertinya pihak yang tengah bermain denganya sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


Sampai akhirnya, jam tangan canggih yang di rancang khusus memberikan sebuah sinyal. Arson tersenyum, akhirnya ia bisa tahu dimana anaknya.


Di sentuhnya layar jam beberapa detik sampai akhirnya berubah menjadi layar canggih, duda anak satu itu meng-klik satu logo yang ada disana. Setelahnya muncul sebuah maps.


"Ck, rupanya disini. " decaknya tersenyum sinis, tak mau membuang waktu lagi. Arson langsung bangkit dan berjalan menuju pintu.


Tap…Tap…Tap…


Cklek!


Belum sampai Arson menggapai knop pintu, teman seperjuangannya telah muncul di depanya dengan membawa dua cangkir kopi untuk temanya agar tidak terlalu stres.


"Loh, kau mau kemana Ar? " tanya Hamdan dengan mengerutkan keningnya.


"Hubungi orang-orang terpercaya dan suruh mereka menyusulku ke desa, " bukanya menjawa, Arson justru memberi perintah kepada temanya sendiri.


"Oh ok," saut Hamdan seketika, setelah itu Arson langsung pergi entah kemana.

__ADS_1


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Sementara di waktu yang sama namun berbeda tempat, Harra duduk di kursi roda dengan gusar. Pasalnya anak gadisnya belum juga kunjung pulang, padahal Fathia sudah bilang jika akan pulang sebelum larut malam. Namun ini? sudah hampir pukul satu malam tapi belum juga ada tanda-tanda kepulangan anaknya hingga membuat seorang janda anak satu tersebut merasa cemas.


"Kamu dimana Nak?" gumam Harra yang terus menatap pintu masuk.


"Apa aku telepon Vilins saja ya? tapi yang aku simpan nomer lama." gumamnya lagi merasa ragu, bisa jadi Vilins sudah ganti nomer lagi kan? Tapi ia tidak punya pilihan lain juga, hingga akhirnya Harra memilih untuk mencoba terlebih dahulu. Siapa tahu bisa.


Hingga akhirnya Harra mendorong kursi rodanya menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya yang sangat jarang sekali di pergunakan. selain untuk menghubungi seseorang atau hanya sekedar mengirim pesan.


Cklek!


Tanganya seketika berhenti mendorong roda, tatkala mendengar suara pintu terbuka hingga membuat matanya berbinar. Ia berharap Fathia yang datang.


Namun ketika Harra memutar kursi rodanya untuk menghadap pintu masuk, seketika matanya berubah menjadi kecewa. Saat yang membuka pintu ternyata Vilins dengan matanya yang sembab.


"Tante," panggilnya seraya melangkah untuk mendekat ke arah Harra.


"Loh kok kamu sendirian Vil? Fathia mana? " langsung saja tanpa basa-basi terlebih dahulu, Harra langsung memberikan sebuah pertanyaan yang membuat bibir sensual milik Vilins bergetar. Harra yang melihatnya seketika semakin cemas, perasaannya seketika tidak enak.


"Maksudnya apa Vil?" tanya Harra.


"Fathia hilang Tan! Vilins juga gak tau hilang dimana, tadi juga Vilins udah minta tolong sama kakak tiri. Tapi sampe sekarang belum ada balasan." ungkapnya dengan merasa bersalah, sementara Harra yang mendengar kabar buruk tentang anaknya seketika menjadi cemas.


'Ya Tuhan, ada apa sebenarnya?'


"Maafin Vilins ya Tante," ucap Vilins kembali yang membuat Harra seketika sadar dari kegusaranya.


"Oh iya Vil, gak apa-apa kok. Ini juga gak sepenuhnya salah kamu, kita do'akan saja semoga Fathia baik-baik saja dan bisa cepat kembali."


"Amiin, "

__ADS_1


Setelah itu Vilins membujuk Harra untuk istirahat di kamar, karena bagaimana-pun itu. Harra harus istirahat, biar hari ini ia yang menjaga Tante tersayangnya.


...━━━━━━ ◦ ❖ ◦ ━━━━━━...


Yanza dengan cepat kembali mengikat tangan dan kakinya, karena menurut firasatnya akan terjadi hal yang kurang baik.


Fathia yang melihat itu seketika mengernyit, kenapa malah ia ikat kembali?.


Tapi walau begitu, Fathia tidak ambil pusing. Gadis itu lebih memilih untuk diam saja memikirkan bagaimana caranya kabur dari tempat yang entah ada dimana.


Cklek!


Fathia dan Yanza kompak mendongak ketika mendengar suara pintu terbuka, memang benar firasat Yanza.


"Hey bocah! ayo ikut kami," bentak salah satu pria berbadan tegap.


"Otak kalian itu sudah rusak sepertinya, coba fikir? Bagaimana aku bisa ikut dengan kalian kalau aku masih terikat dengan tali sialan ini." dengan berani, Yanza menjawab yang di balas anggukan dari pria satunya lagi.


"Reki, apa yang di bilang bocah ingusan itu memang benar." ucapnya yang di balas tatapan tajam dari temanya yang bernama Reki.


"Yasudah tunggu apa lagi Toni!? cepat buka talinya dan antar ke Bos." Reki membentak temanya sendiri yang menurutnya sangat lelet, tidak bisa cepat.


"Iya-iya," saut pria berbadan gempal bernama Toni yang langsung berjalan mendekat ke arah Yanza dengan malas.


Di saat Toni sedang melepaskan tali yang melilitnya dengan kencang, Yanza hanya diam tidak melawan. Karena pikirnya jika melawan sekarang itu tidak akan berguna, lebih baik nanti saja jika sudah tepat.


Setelah tali terlepas, Toni langsung membawa Yanza menyusul Reki yang telah keluar terlebih dahulu. Namun suara cempreng milik Fathia membuatnya berbalik menatap jengah.


"Mau kalian bawa kemana! "


"Bukan urusanmu!" setelah menanggapi teriakan Fathia barusan, Toni yang tidak mau berlama-lama lagi. Langsung membawa Yanza ke tempat dimana Bos-nya sudah menunggu.

__ADS_1


"Semoga saja orang-orang asing yang menculik kami tidak berbuat macam-macam," gumam Fathia setelah pintu kembali tertutup.


Dirinya menarik nafas dalam-dalam setelah itu kembali menghembuskannya, ia berharap akan ada keajaiban yang bisa membuatnya serta Yanza bebas.


__ADS_2