Gutheng

Gutheng
Gutheng#1


__ADS_3

Suatu hari yang cerah datanglah se-ekor kucing sebut saja dia Gutheng.


"Meong, meong..."


Dia tidak bisa bicara tetapi manusia tahu kalau gerak-geriknya memang dia sedang kelaparan dengan suaranya seperti merengek. Diberikanlah dia makan dengan nasi yang telah dicampur dengan remukan ikan asin. Gutheng dengan lahapnya memakan sampai habis. Setelah itu dia pergi jalan-jalan di sekeliling rumah atau melanjutkan tidur di halaman, lantai, teras atau kursi dengan nyenyak dari pagi sampai siang. Menjadi kebiasaan Gutheng kalau sudah makan seperti itu. Kemungkinan, dia tidak tidur semalaman atau hanya terlelap sebentar karena udara di luar dingin kalau malam hari. Bagaikan kucing yang hidup sebatang kara tetapi semenjak di temani penghuni daerah situ dia sudah tidak kesepian lagi yaitu kucing Belang adalah se-ekor kucing betina lokal berbulu kombinasi hitam, putih dan abu-abu. Bisa diumpamakan seperti inilah kalau mereka bertemu, memiliki akal dan bisa bicara. Percakapan ini terjadi di dalam rumah sesaat Gutheng selesai makan.


"Kenapa dengan mata kamu itu Belang?" kata Gutheng


"Aku tertabrak motor hingga mataku hilang satu" kata Belang dengan nada sedih


"Sabar, Belang jangan bersedih, kenapa kamu bisa tertabrak?" kata Gutheng


"Aku menyeberang jalan. Tiba-tiba ada motor dengan kecepatan tinggi menghantamku tepat di mata kananku" kata Belang


"Dimana kejadian itu?" kata Gutheng


"Kejadiannya di jalan sekitar desa ini dua bulan lalu" kata Belang


"Lain kali kalau menyeberang hati-hati, luka kamu ini terlihat sudah mengering" sambung Gutheng sambil mengamati.


"Ya, terimakasih. Aku mau berjemur dulu menghangatkan tubuh" kata Belang kemudian berjalan ke arah teras rumah lalu mendekam.


Beberapa saat kemudian Gutheng mengikuti di sebelah belang untuk menghangatkan tubuhnya. Gutheng mulai mengantuk memejamkan matanya di suasana pagi yang sejuk jauh dari lalu lalang manusia maupun hewan lain yang mengganggu ketenangan tidurnya. Setelah, matahari mulai meninggi Belang beranjak dari teras untuk pergi ke kebun karena melihat ada sesuatu yang lari menuju kebun.


Gutheng terbangun "kamu akan kemana Belang?" tanya Gutheng


"Aku akan pergi ke kebun untuk mencari mangsa" jawab Belang


Gutheng hanya melihat dari teras sambil mengamati yang sedang dilakukan Belang. Setelah itu pintu rumah terbuka lalu dia berjalan masuk menuju dapur untuk rebahan dan melanjutkan tidur.


Di lain tempat suasana kebun yang rumputnya menutupi tanah agak lebat, membuat Belang harus mengamati dengan teliti suara dan gerakan buruannya yaitu se-ekor tikus agar dia tidak lepas. Setelah menanti beberapa saat, terdengarlah suara kemrusuk sekitar jarak 3 meter dari Belang, daun kering yang terinjak oleh tikus di bawah pohon pisang lalu secara pelan-pelan Belang mendekati pohon pisang sambil mengendus.


Terlihatlah ekor tikus itu di bawah daun pisang kering dengan sigap Belang menangkap tikus tersebut.


terdengar suaranya, "ciiricit ciiricitt cirirciit !!!" telah digigit oleh belang dan akhirnya dia mati terkena gigitan di bagian punggung dekat leher. Di makanlah tikus itu dari kepala terlebih dahulu sedikit demi sedikit dikunyah sampai habis tinggal ekor yang disisakan, kenyanglah sudah perut belang siang ini.


Belangpun beranjak dari tempat tersebut menuju belakang rumah yang teduh. kemudian melompat ke atas sumur yang telah ditutupi oleh lembaran potongan kayu untuk tidur siang disitu.


"Klunting! klunting!" Gutheng terbangun mendengar suara tersebut sembari mengeong kemudian mengamati arah suara tersebut setelah itu beranjak ke tempat manusia yang sedang makan sembari menyenggol kan badannya ke kaki. Manusia tersebut spontan mengambil memberikan tempe yang telah diremuk dan dicampur dengan nasi.


"Pus kesini pus" panggil manusia tersebut


Guthengpun mengikuti panggilan tersebut, terlihat makanan sudah di letakkan di lantai dapur. Ia langsung memakannya dengan lahap. Karena, biasa dipanggil seperti itu kalau akan diberi makan jadi dia tahu kata "pus" itu berarti makan. Selesai makan dia naik ke kursi dapur sembari menggeliat mengatur posisi tidur yang nyaman merebahkan badannya kemudian melingkar untuk tidur lagi. Gutheng memang terlahir dari keturunan induk kucing jalanan tetapi naluri berburunya tidak seagresif Belang yang dari kecil sering tidur diluar rumah daripada di dalam rumah.


Setelah 35 menit dia tertidur kemudian mengeong meminta untuk keluar dari rumah karena merasa asing tempatnya. Manusia itu tahu kalau dia akan keluar rumah, dibukakanlah pintu dan Gutheng beranjak pergi dari rumah tersebut. Seiring berjalannya waktu Gutheng sering kerumah tersebut dimana Belang berada. Sehingga menjadi kebiasaan kalau akan makan dan tidur ditempat itu. Karena, manusia di tempat Belang senang memberikan makan kucing. lama - kelamaan Gutheng menjadi kucing yang gemuk dan sehat walaupun makanannya hanya tempe, ikan asin, nasi atau sisa makanan.

__ADS_1


Siang itu Gutheng kaget melihat ada se-ekor kucing Anggora yang berpostur besar mendatanginya.


" Grrr gggrrrr siapa kau datang ke wilayahku? ini adalah wilayah kekuasaan aku!! gertak Gutheng karena baru pertama kalinya dia melihat, takut membahayakan daerah kekuasaannya.


Anggora menjawab dengan nada santai "kedatangan saya kemari bermaksud damai"


"Baiklah kalau memang begitu, maaf apabila saya berpikiran buruk tentang kedatangan kamu" sambung Gutheng.


"Tidak apa-apa ini hanya salah paham, perkenalkan nama saya Anggora" Anggora menimpali sambil memperkenalkan dirinya.


"Anggora kelihatannya kamu lapar?" kata Gutheng


"Ya, karena dari tadi belum makan, ada makanan tersisa untuk aku makan?" kata Anggora


"Tidak punya, kalau kamu ingin makan bisa ketempat manusia yang rumahnya di lereng bukit sebelah barat, kamu bisa meminta. Karena, aku yakin pasti diberi", kata Gutheng. Sebelum Anggora melangkahkan kakinya pergi, Gutheng bertanya lagi "Apa kamu bisa berburu tikus?"


"Aku tidak terbiasa berburu karena insting liar aku tidak terasah" kata Anggora


"Jadi begitu, sama dengan nasib aku. lain kali kalau kita bertemu lagi kita latihan bersama untuk mengasah insting buru" Gutheng menimpali.


"Baik, aku belum tahu nama kamu?" kata Anggora.


"Nama aku Gutheng" kata Gutheng.


"Ya, hati-hati semoga kamu diberi makan disana" jawab Gutheng.


Beberapa saat setelah Anggora berjalan, sampailah dia di depan pintu rumah.


"Meong, meong...,"


Dua kali dia bersuara belum dibuka pintunya


"Meong, meong..."


sampai empat kali dia bersuara baru dibukakan pintu oleh manusia tersebut dan masuklah Anggora ke dalam rumah lalu diberikan dia makanan Ikan asin yang telah dicampur dengan nasi ditempatkan di atas plastik yang tergeletak di lantai. Anggora langsung menghampiri dan memakan hidangan itu, Setelah makan dia beranjak pergi menemui Gutheng.


"Bagaimana tadi? apa kamu bertemu dengan manusia itu?" kata gutheng


"Ya, Benar apa yang kamu katakan Gutheng, aku diberi makan sampai kenyang disana" Anggora membenarkan.


"Kamu mau kemana Anggora?" kata Gutheng


"Aku akan pergi ke rumah manusia yang telah memeliharaku" kata Anggora.


"Lebih baik kamu disini saja bersamaku agar bisa berlatih bersama-sama" sambil Gutheng menatap Anggora.

__ADS_1


"Lain kali saja, kalau ada waktu karena mereka pasti mencariku. Aku keluar rumah tanpa sepengetahuannya" kata Anggora.


latar belakang kisah kedua makhluk ini terjadi ketika Gutheng sedang di kebun seberang jalan depan rumah manusia yang telah memberi makan Anggora.


hari mulai sore Gutheng mencoba berlatih sendiri kemampuan berburunya dengan terlebih dahulu mencakar-cakarkan kukunya di sebatang kayu.


"Kreket..., Kreket..., Kreket...," Suara gesekan kuku beradu dengan batang kayu.


Setelah itu berlari memutar balik, berguling - guling lalu rebahan. Dia melihat ada kupu-kupu terbang segera bangun.


"Ini dia target untuk latihan ku!" kata Gutheng.


Kupu-kupu itu terbang mulai merendah mendekati, Gutheng mulai mengamati dan mengambil waktu yang tepat untuk memulai gerakan melompat melakukan aksi tangkapan.


"Zep ...zep...wungg..."


Gutheng melompat tapi masih gagal menangkap karena gerakan kupu-kupu itu agresif, akhirnya hewan itu terbang menjauh.


"Wah, gesit juga ternyata gerakannya. Selanjutnya, aku coba untuk memanjat tiang kayu besar rumah itu untuk melatih otot kaki" kata Gutheng.


Dia lakukan itu sebanyak tiga kali kemudian turun lagi.


"Aku rasa latihan kali ini cukup, lagi pula hari mulai gelap" kata Gutheng


Sudah hampir gelap Belang belum terlihat kembali ketempat yang biasa dia tidur yaitu di atas sumur yang telah di tutupi lembaran kayu. Gutheng pun menunggu di belakang rumah terdiam sambil melihat di sekeliling.


"Kemana dia, sudah akan gelap seperti ini belum kembali" Gutheng berkata dalam hati.


Sesaat kemudian, Belang muncul di belakang Gutheng


"Sedang apa kamu disini Gutheng?" kata Belang


Kemudian Gutheng menoleh memalingkan badannya ke arah Belang.


"Aku ingin tidur disini. Apa boleh?" kata Gutheng


"Boleh, bisa tidur di atap rumah bagian dalam atau di tumpukan kayu di sebelah kandang ayam tinggal kamu pilih" kata Belang


Gutheng berkata "terimakasih"


"Semoga kamu betah disini" kata Belang


Hari sudah gelap merekapun tidur karena perburuan malam ini sedang libur dikarenakan mereka telah kenyang makan, ramainya suara jangkrik dan sesekali suara tokek terdengar di malam itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2