
Terlihat dari kejauhan burung bangau itu terbang menuju sarang
"Itu lihat ada yang terbang. Ayo kita pergi dari sini!" kata Brich
"Ya, sepertinya dia yang punya sarang" kata Beo
Kemudian, mereka bergegas terbang pergi dari tempat itu.
"Kita akan kemana sekarang?" kata Brich
"Mencari sarangnya burung Cekakak" kata Beo
"Siapa itu?" kata Brich
"Teman, nanti kamu tahu..." kata Beo
Mereka terbang ke arah timur sampailah di kebun tanaman karet.
"kita hinggap di pohon karet itu sebentar!" kata Beo
"Ya..." kata Brich
Beo mencoba melihat di sekililing kebun, melihat ada burung hantu sedang bertengger di pohon karet lain. Dia mencoba mendekati bertanya tentang keberadaan Cekakak.
"Permisi, apa kamu tahu sarang burung Cekakak?" kata Beo
"Ya, aku tahu. Dia bersarang di ceruk bagian lereng sebelah selatan kebun ini, yang di bawahnya ada rawa" kata Burung Hantu
"Terima kasih" kata Beo
"Kamu sendiri saja?" kata Burung Hantu
"Tidak.. aku berdua dengan dia" kata Beo sambil menoleh ke arah Brich yang berada di belakang sedang bertengger di pohon terhalang daun.
"Dimana?" kata burung hantu
"Di belakang sana berjarak 2 pohon dari sini" kata Beo
"Boleh aku lihat dia?" kata Burung Hantu
"Silakan.." kata Beo
Kemudian, Burung Hantu itu terbang menuju pohon tempat Brich bertengger
"Maaf saya ingin tahu, Apa kamu teman dia?" kata Burung Hantu
"Ya.. ada apa ya?" kata Brich
"Aku hanya mengecek benar apa tidak..." kata Burung Hantu
"Mengapa di cek. Apa ada sesuatu yang aneh?" kata Brich
"Tidak, hanya ingin tahu..." kata Burung Hantu
"Apa maksud kamu?" kata Brich
"Tidak ada" kata Burung Hantu
"Laa !! tadi tanya katanya ingin tahu!!" kata Brich
"Tidak jadi, tidak Penting!!", kata Burung Hantu
"Wah.., ini burung ingin mengajak ribut" kata Beo dalam hati
Brich mulai terpancing emosinya, kemudian burung hantu itu terbang meninggalkan mereka berdua
"Burung aneh kurang ajar!! tidak sopan baru pernah bertemu di tanya malah responnya begitu" kata Brich lirih
"Sabar, sabar..." kata Beo
"Terbangnya kurang jauh sepertinya. Jadi begitu..." sambung Brich
"Brich dari kejadian tadi kita dapat mengambil pelajaran, bahwa menghadapi makhluk yang seperti itu harus tenang jangan memakai emosi" kata Beo
"Ya..." kata Brich
Kemudian, mereka menuju ke arah selatan dan hinggap di pohon karet tidak jauh dari lereng itu.
"Kamu tunggu dulu disini..." kata Beo
"Ya." kata Brich
Beo terbang mendekati ceruk dan memanggil Cekakak.
__ADS_1
"Cekakak apa kau di dalam sana!" kata Beo
"Ya!!, Siapa itu?" kata Cekakak
"Aku Beo..." kata Beo
"Kamu masuk saja aku di dalam" kata Cekakak
"Tidak mau,.. kamu yang keluar saja, aku takut masuk ke dalam" kata Beo
"Tidak apa-apa di sini aman..." kata Cekakak
"Tolong kamu saja yang keluar!" kata Beo
Kemudian, Cekakak keluar dari sarang bertemu dengan Beo
"Kenapa tidak masuk?" kata Cekakak
"Aku takut itu bukan kamu..." kata Beo
"Kalau bukan aku. Siapa?" kata Cekakak
"Ular..." kata Beo
"Ular tidak akan bisa masuk kalau tempatnya lereng tinggi seperti ini..." kata Cekakak
"Kamu bisa ikut aku ke pohon karet sekarang?" kata Beo
"Bisa, Apa ada sesuatu?" kata Cekakak
"Ya" Kata Beo
Kemudian, mereka terbang menuju pohon di tempat Brich sedang bertengger. Hinggap di sampingnya
"Siapa ini Beo?" kata Brich Berbisik
"Burung Cekakak" kata Beo
"Ini teman kamu?" kata Cekakak
"Ya.. namanya Brich" kata Beo
Beberapa saat mereka terdiam melihat pemandangan rawa dan lereng
"Aku tadi akan kesini bertemu dengan burung hantu" kata Beo
"Apa kamu kenal dia?" kata Beo
"Kenal, kenapa?" kata Cekakak
"Dia tadi mencari gara-gara dengan tingkah lakunya yang aneh" kata Beo
"Jadi, begitu. Kamu harus tahu dia ikut dalam Aliansi Biawak yang menguasai daerah sekitar ini" kata Cekakak
"Berapa jumlahnya?" kata Beo
"20 lebih terdiri dari Burung Pipit, Biawak, Burung Bangau dan Burung Hantu" kata Cekakak
"Wah, ternyata dia" kata Beo
"Siapa?" kata Cekakak
"Biawak, dia pernah mengancam Gutheng..." kata Beo
"Apa penyebabnya?" kata Cekakak
"Dia melakukan kesalahan fatal" kata Beo
"Apa yang dia lakukan?" kata Cekakak
"Memangsa burung Pipit" kata Beo
"Apa hubungannya dengan Biawak?" kata Cekakak
"Hubungannya karena dia teman dan satu Aliansi" kata Beo
"Bagaimana keadaan Gutheng dan yang lain?" kata Cekakak
"Mereka baik-baik saja. kecuali, Gutheng. Dia sering melamun sejak di ancam" kata Beo
Brich hanya menyimak percakapan mereka. Kemudian, dia melihat pergerakan rumput yang berada di rawa
"Sebentar pelankan suara. Apa itu yang bergerak di bawah?" kata Brich berbisik
__ADS_1
"Ya.. Apa mungkin ular?" kata Beo
"Mungkin ya..." kata Cekakak
"Apa ada sarang ular di sekitar ini?" kata Beo
"Ada, Ular Phytons" kata Cekakak
"Apa dia termasuk dalam Aliansi Biawak?" kata Beo
"Sepengetahuan aku tidak ikut dalam Aliansi tersebut" kata Cekakak
Terlihat makhluk itu keluar dari rawa ke arah timur
"Ternyata dia Biawak bukan ular" kata Brich
"Apa dia menyimak percakapan kita tadi?" kata Beo
"Mungkin ya... mungkin tidak" kata Cekakak
"Kamu sering melihat para makhluk tersebut berkumpul?" kata Beo
"Beberapa kali aku pernah melihat berkumpul" kata Cekakak
"Dimana?" kata Beo
"Di dekat rawa ini..." kata Cekakak
"Apa hanya berkumpul saja tanpa ada tujuan lain?" kata Beo
"Aku pernah menyimak percakapan mereka sekilas, Bahwa mereka telah membentuk aliansi" kata Cekakak
"Apa hanya itu saja?" kata Beo
"Ya..." kata Cekakak
"Aku minta tolong kepadamu kalau ada informasi lain beritahu kita ke barat tempat Gutheng berada. Agar bisa mengantisipasi terlebih dulu" kata Beo
"Ya.." kata Cekakak
"Apa perlu kita membentuk aliansi seperti mereka?" kata Brich
"Boleh, tetapi kita perlu persetujuan dari mereka" kata Beo
"Apa kamu setuju Cekakak?" kata Brich
"Ya..itu bagus!" kata Cekakak
"Ayo kita ke barat!" kata Brich
"Sebentar aku cek sarang dulu" kata Cekakak
Kemudian, Cekakak terbang ke sarang setelah itu dia kembali ke pohon tersebut
"Kamu sarangnya aman?" kata Brich
"Aman.." kata Cekakak
"Oke, Ayo!" kata Brich
Kemudian, mereka terbang ke arah barat sampai di tujuan hinggap di atas rumah.
"Sepi, mereka sedang kemana?", kata Beo
"Mungkin sedang tidur" kata Brich
Kemudian, Beo, Brich dan Cekakak terbang ke bawah dekat sumur. Terlihat Belang sedang tertidur.
"Dia santai benar tidurnya..." kata Beo
"Belang, Belang.. bangun..." kata Brich
Haa hamm (Belang menguap)
"Apa?" kata Belang sambil rebahan
"Kemana Gutheng?" kata Beo
"Dia tadi disini tetapi aku tidak tahu sekarang karena sedang tertidur. Mungkin di dalam rumah..." kata Belang"
"Ada yang perlu kita bicarakan Belang..." kata Beo
"Silakan, tentang apa?" kata Belang
__ADS_1
"Tentang Biawak yang masih ada di sebelah timur" kata Beo
Bersambung...