Gutheng

Gutheng
Terlepas#11


__ADS_3

Brich hinggap di ranting pohon rambutan di sebelah Beo. Beo menoleh ke kanan.


"Bagaimana kamu bisa lepas?" kata Beo


"Aku lewat celah atas kandang" kata Brich


"Kenapa kamu mengurungkan niat untuk tetap disana dan pergi ke habitat bersama mereka?" kata Beo


"Karena, aku tidak tahan dengan dingin di tempat tersebut" kata Brich


"Jadi, kamu akan kemana sekarang?" kata Beo


"Aku akan tinggal di daerah sekitar ini" kata Brich


"Silakan..." kata Beo


"Terima kasih" kata Brich


Kemudian, mereka melanjutkan berjemur untuk menghangatkan tubuh


"Aku sekarang serasa menjadi pemenang kehidupan setelah lepas dari kandang" kata Brich


"Bagus kalau begitu, aku ikut senang..." kata Beo


Setelah beberapa saat di sana mereka menuju belakang rumah


"Ayo! kita ke belakang rumah sebelah sana..." kata Beo


"Ya..." kata Brich


Kemudian, mereka terbang ke belakang rumah tempat Gutheng dan Belang berada. Mendekati mereka yang sedang di dekat sumur.


"Siapa itu Beo?" kata Gutheng


"Teman lama, perkenalkan ini Brich" kata Beo


"Ya, selamat datang..." kata Gutheng


"Brich, ini Gutheng dan Belang" kata Beo


"Senang bertemu dengan anda semua..." kata Brich


"Darimana kamu berasal?" kata Belang


"Aku dari penangkaran..." kata Brich


"Wah.. kamu di lepaskan dari sana?" kata Belang


"Tidak, aku pergi tanpa sepengetahuan manusia..." kata Brich


"Kenapa?" kata Belang


"Tidak nyaman..." kata Brich


"Kenapa yang lain tidak kamu ajak?" kata Belang


"Tidak mau..." kata Brich


Setelah beberapa lama mereka bercengkrama, datanglah Se-ekor Biawak dari kebun kopi yang berjalan secara perlahan kemudian berlari dari arah barat laut ke arah mereka. Rupanya Biawak tersebut mengamati dari tadi dan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan aksinya. Belang mengetahui pergerakan makhluk tersebut


"Awas ada biawak!!" kata Belang


"Wah, bahaya!!" kata Beo


Mereka kemudian langsung menghindar dari serudukan makhluk tersebut.


"Huh, sangar" kata Gutheng

__ADS_1


"Aku lapar!! ayo sini jangan lari!!" kata Biawak


"Apa maksud kamu datang kemari?" kata Gutheng


"Aku ingin makan kalian!!" kata Biawak


"Wah, sembarangan kita bukan makanan..." kata Beo


"Hah, aku tidak peduli aku benar-benar lapar!!" kata Biawak


"Nantang duel ini makhluk, aku harus tenang menghadapi makhluk yang seperti ini" kata Beo dalam hati


Sejenak Beo sedang mimikirkan cara untuk menenangkan makhluk itu.


"Kamu jangan makan kami, kami tidak akan membuat kamu terganggu asalkan kamu tidak mengganggu kami" kata Beo


"Baik, tetapi aku harus makan apa hari ini?" kata Biawak


"Makan ikan di kolam itu tetapi untuk saat ini saja. Setelah itu kamu harus pergi jauh dari tempat ini" kata Beo


"Ya, sebenarnya maksud kedatangan aku kemari ingin menuntut balas kematian temanku yaitu burung Pipit yang mati termangsa oleh dia (Gutheng). kamu sekarang masih selamat berkat teman-teman kamu tetapi lain kali kamu tidak akan bisa" kata Biawak mengancam


"Kenapa kamu bisa tahu kalau dia pelakunya?" kata Beo


"Aku tahu dari Burung Pipit yang lain saat kejadian sedang bertengger di pohon mangga" kata Biawak


"Sudah makan ikannya lalu pergi" kata Beo


"Terimakasih", kata Biawak


Kemudian, Biawak tersebut menceburkan diri ke kolam memakan ikan satu demi satu hingga kenyang dan pergi dari tempat itu.


"Apa yang kamu lakukan Gutheng?" kata Beo


"Saat itu naluri buru aku muncul dan saat ada kesempatan aku mangsa" kata Gutheng


"Maaf, waktu itu sedang remang-remang jadi tidak terlihat begitu jelas kalau dia burung Pipit" kata Gutheng melakukan pembelaan.


Padahal kenyataanya dia bisa melihat jelas dalam keadaan seperti itu dengan menggunakan kelebihan matanya. Maksud dia seperti itu agar menghindari konflik


"Jangan bohong kamu!" kata Belang


"Aku serius..", kata Gutheng


"Tidak mungkin dengan mempunyai ke istimewaan mata tidak bisa melihat objek seperti itu" kata Belang


"Aku sambil ngantuk jadi tidak begitu jelas" kata Gutheng


"Jadi begitu, Ya sudah. Aku juga punya mata sama seperti yang kamu miliki. Jadi, aku tahu" kata Belang


"Kamu harus hati-hati Gutheng sekarang kamu punya rival se-ekor Biawak" kata Beo


"Ya, aku juga takut kalau dia masih berkeliaran di area ini..." kata Gutheng


"Dia (Biawak) sudah janji untuk pergi jauh dari sini. Jadi, kamu tenang saja" kata Beo


"Tetapi aku belum percaya dengan kata-katanya" kata Gutheng


"Kalau begitu kamu jangan jauh-jauh dari pantauan aku" kata Beo


"Kenapa?" kata Gutheng


"Agar aku memberitahu kalau dia datang" kata Beo


"Aku juga siap membantu apabila dibutuhkan" kata Brich


"Terima kasih" kata Gutheng

__ADS_1


Hari silih berganti perasaan Gutheng tidak tenang sejak kejadian tersebut. Dia diliputi rasa khawatir karena ancaman dan Biawak sewaktu-waktu bisa muncul di hadapannya tidak terduga.


"Aku sudah lama tidak melihat Biawak itu, apa sudah mati?" kata Gutheng dalam hati


Dia merenung, kemudian Belang datang di sampingnya


"Sudah jangan terlalu di pikirkan, dia tidak akan datang lagi kesini..." kata Belang


"Sepertinya ya, karena sudah lama tidak nampak" kata Gutheng


Setelah mendengar perkataan dari Belang dia merasa lega. Beo dan Brich sedang di atap rumah mengamati mereka berdua.


"Dia setiap hari sering melamun..." kata Brich


"Ya, kasihan Gutheng" kata Beo


"Kamu tahu di sebelah utara ada sarang burung bangau putih" kata Brich


"Tidak, dimana tempatnya?" kata Beo


"Di pohon beringin, apa kamu ingin melihat tempatnya?" kata Brich


"Boleh, ayo! kita kesana!" kata Beo


"Sebentar aku akan menyantap buah jambu yang matang itu..." kata Brich


Brich terbang ke pohon jambu dekat kolam setelah itu terbang lagi ke atap rumah.


"Ayo kita berangkat Beo!" kata Brich


"Ya..." kata Beo


Kemudian, mereka berdua terbang menuju ke utara. Setelah beberapa saat mereka terbang sampailah mereka di tempat yang di tuju.


"Beo ini pohon tempat bersarangnya..." kata Brich


sambil menunjukkan tempatnya.


"Di sebelah mana sarangnya?" kata Beo


"Di atas, kita hinggap di ranting bawah dulu kalau di rasa aman kita terbang naik" kata Brich


Merekapun hinggap di bawah mengamati keadaan beberapa saat. Kemudian, terbang ke atas.


"Aku kira sudah aman. Ayo kita ke atas!" kata Brich


"Ya..." kata Beo


Sesampainya di atas mereka melihat sarang tersebut ada telurnya. Kemudian, hinggap di pinggir sarang


"Wah, seperti ini ternyata telurnya!" kata Beo


"Ya, bagus ya!" kata Brich


"Biasa saja, sama seperti telur lainnya" kata Beo


"Kamu salah..." kata Brich


"Apa yang salah?" kata Beo


"Bayangkan, ada dua telur yang satu telur Bangau dan satunya telur Ayam. Keduanya menetas terlihat dari bentuknya sudah beda" kata Brich


"Betul, tetapi yang aku maksud tadi bentuk telurnya" kata Beo


"Ya, kalau itu memang sama hehehe" kata Brich kemudian tertawa


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2