
"Aku hidup di sini seperti sebatang kara sebelum menemukan teman-teman seperti kamu berdua"
kata Beo.
"Tenang...sudah ada kami yang siap membantu atau menghibur apabila kamu butuh pertolongan" kata Belang
"Ya.., betul apa yang dikatakan oleh Belang" kata Gutheng.
"Apa Anggora dan Persia sudah pulang?" kata Beo
"Sudah sejak tadi" kata Gutheng
"Beo kamu kemana tadi?" kata Belang
"Aku sedang di ranting pohon durian di tengah kebun seberang jalan depan rumah ini, jadi tidak tahu kalau dia pulang. Terus aku diutus ke tempatnya Poleng ambil bola" kata Beo
Terlihat pintu rumah mulai terbuka, Beo terbang ke arah pohon mangga hinggap di sana, manusia itu membawakan makanan di tempatkan pada plastik lalu di letakkan di antara kucing itu. kemudian, Gutheng segera menyantap hidangan. manusia itu memperhatikan Gutheng makan, Setelah itu pergi ke kebun yang dekat dengan pinggir kolam ikan di sebelah barat untuk mengumpulkan daun talas dan pepaya. Hingga diproleh satu tumpuk dilemparkannya ke dalam kolam
"Byukk.." (suara air yang berbunyi)
Ikan Nila dan Gurami berkumpul langsung berebut makanan, sedangkan Gutheng dan Belang berjalan menuju manusia yang berdiri di dekat kolam lalu mendekam memperhatikan ikan yang bergerak di permukaan air.
Manusia itu beranjak pergi masuk ke dalam rumah menutup pintu.
Beberapa saat kemudian ada yang terbang dari arah barat laut yaitu se-ekor burung, kemudian dengan cepat menyambar ikan kecil yang ada dipermukaan air kolam. kemudian, pergi lagi.
Cirr.. Ciirr.. Cirr..,(suara burung Cekakak)
"Burung itu lagi..." kata Belang
"Siapa dia?" kata Gutheng
"Burung Cekakak jawa" kata Belang.
Dengan sekejap dia sudah tidak terlihat menuju ke arah timur.
Beberapa saat kemudian dia datang lagi,
Ciir.. Cirr.. Ciirr..
"Jangan !!" kata belang sambil mencoba melompat untuk menghalau sambaran Cekakak ke arah kolam.
Kemudian, dia hinggap di ranting pohon kopi dekat kolam.
"Kenapa kamu menghalang-halangi aku untuk berburu, aku lapar!!" kata Cekakak dengan nada agak tinggi.
"Kalau kamu lapar jangan ambil ikan di tempat ini!!" kata Gutheng mengimbangi nada tingginya.
Dengan kejadian itu, mengundang perhatian Beo untuk mendekat ke arah mereka ke belakang Gutheng dan Belang lalu hinggap di pohon jambu.
"bleber.." (suara bulu sayap saling bertemu)
"Ada apa ini, kita bisa bicarakan ini baik-baik, jangan Bertengkar" kata Beo.
"Kenapa kamu ikut-ikutan, aku sedang bicara dengan mereka lebih baik kamu diam!!" kata Cekakak.
"Aku ini sudah bicara baik-baik lho.." kata Beo dengan nada santai
kemudian, dia mulai melembutkan nadanya,
"Maaf, terbawa emosi karena aku memang benar-benar sedang lapar, mereka malah menghalang-halangi.." kata Cekakak
"Silakan kamu..." kata Beo
"Tapi.." kata Belang memotong pembicaraan.
"Sudah... tidak apa-apa kasihan dia.., Silakan diambil sampai kamu kenyang tapi lain kali kamu tidak boleh mengambil ikan lagi disini" kata Beo
__ADS_1
"Ya...terima kasih" kata Cekakak. Setelah itu dia beberapa kali datang pergi dan datang lagi ke tempat mengambil ikan.
"Kamu mengambil banyak ikan untuk siapa?" Kata Beo
"Untuk anak-anakku berjumlah 3 ekor.." kata Cekakak
"Oh.. jadi begitu" kata Beo.
Kemudian Belang mendekat ke arah Cekakak.
"Maafkan aku Cekakak aku tidak tahu keadaan kamu sedang seperti itu.." Kata Belang
"Aku juga minta maaf.." kata Gutheng
"Ya.. aku maafkan, Tapi kamu berdua Ikhlaskan,, aku ambil ikan disini?" kata Cekakak
"Ya.." kata mereka berdua (Gutheng dan Belang)
"Terima kasih.." kata Cekakak
"Jangan pulang,,, disini dulu sambil cerita-cerita" kata Gutheng.
Kemudian Cekakak menunda niatnya untuk pergi,
"Kamu sudah tahu belum kalau disana sedang dibangun beberapa rumah?" kata Cekakak, sambil menengok ke arah utara.
"Belum tau, rumah untuk apa?" kata Gutheng
"Rumah untuk penangkaran hewan..." kata Cekakak
"Hewan apa saja?" kata Gutheng
"Hanya Burung Beo" kata Cekakak
"Wah,, bagus ada Beo yang lain di sekitar sini" kata Gutheng.
"Silakan.." kata Gutheng
"Wah,, kalau begitu aku kapan-kapan terbang kesana.." kata Beo
Kemudian Cekakak terbang,
"bleberr.." (suara bulu sayap saling bertemu)
"Aku juga ingin makan ikan.." kata Gutheng
"Silakan, coba kamu ambil..." kata Be
"Ya, tapi yang sudah matang..." kata Gutheng
"Wah... hehehe kamu bercanda. Apa memang tidak bisa menangkap ikan?" kata Beo sambil menahan tawa.
"Bisa.. tapi tidak ingin yang mentah" kata Gutheng
"Alasan...kamu paling juga kalau diberi mau.." kata Beo dengan menatap heran.
"Ya, mau tapi yang kecil saja, soalnya kalau yang besar dagingnya sulit dikunyah, lagi pula kalau akan menangkap tanggul kolamnya lebih tinggi dari permukaan air jadi sulit" kata Gutheng
"hehehe.." Beo tertawa.
Sore menjelang berganti malam.
Hari telah berganti pagi, mereka akan melakukan jalan-jalan tanpa janjian pada waktu yang bersamaan Kemudian bergegas pergi berpencar.
Gutheng ke arah Selatan, Beo dan Belang ke arah Utara.
"Kamu akan kemana Belang?" kata Beo
__ADS_1
"Ke tempatnya Anggora dan Persia" kata Belang
"Kamu akan kemana Gutheng?" kata Beo
"Ke tempatnya Poleng" kata Gutheng
Sambil melangkahkan kaki
"Kalau kamu Beo akan kemana?" kata Gutheng
"Ke tempat penangkaran burung" kata Beo
Kemudian, mereka bergegas meninggalkan tempat tersebut. tapi di perjalan menuju rumah Poleng, Gutheng di hadang oleh Kucing Kuning. Entah kenapa tiba-tiba dia mengajak bertarung.
"Ayo kita bertarung.." kata Sipus (Kucing Kuning)
"Siapa kamu?" kata Gutheng
"Kamu tidak perlu tahu!!" kata Sipus
Gutheng menghentikan langkahnya sambil bersiap untuk lari.
"Harus hati-hati jangan sampai tertangkap" Kata Gutheng dalam hati.
Dia (Kucing kuning) mulai ancang-ancang menegakkan bulu dan ekornya sambil mengeram. Dia mulai mendekati secara perlahan
Gutheng membalas eramannya sampai beberapa kali sehingga saling sahut menyahut.
Kemudian,
Gutheng lari dengan cepat lalu di kejar sampai belakang rumah tempat Poleng berada. Poleng sedang mendekam lalu terbangun menghalau dengan eramannya dan kucing tersebut pergi.
Terlihat Gutheng ketakutan dengan napas yang ngos-ngosan di pojokan teras belakang rumah.
"Huh,, hampir saja terkena cakar.." Kata Gutheng
"Kenapa dengan kucing itu sehingga mengejar kamu?" kata Poleng
"Tidak tahu, tiba-tiba menyerang. Kamu pernah lihat dia sebelumnya?" kata Gutheng
"Belum, kemungkinan dia kucing yang sengaja di pindahkan ketempat ini" kata Poleng.
"Aku beruntung, kamu ada di sini. Terimakasih.." kata Gutheng"
"Ya.." kata Poleng
Gutheng terdiam sejenak kemudian rebahan di lantai
"Kasihan kamu akan kesini dikejar-kejar dulu..." kata Poleng
"Ya.. Sedang tidak biasanya aku sampai seperti ini..,
Poleng tolong antarkan aku ke bukit" kata Gutheng.
"Ayo,, kita berangkat!" kata Poleng.
Keduanya bergegas ke bukit sebelah barat rumah
Sesampainya disana,
"Pemandangan dari sini indah" kata Gutheng. Sambil tertuju pada sekeliling tempat itu matanya mengamati setiap pemandangan alam.
"Ya.. memang" kata Poleng
"Apa kamu sering kesini?" kata Gutheng
"Sering... hampir setiap hari" kata Poleng
__ADS_1
Bersambung...