Gutheng

Gutheng
Gutheng 2. Dibawa Pergi#3


__ADS_3

"Sudah lama aku di sini, apa hidupku akan terkurung seperti ini saja?" batin Gutheng merenung bertanya pada nasibnya sendiri sambil melihat sekeliling kandang. Kemudian, Gutheng dibawa pergi dari tempat tersebut menggunakan mobil sedan.


Sesampainya di tempat tujuan, dia terkejut ternyata dibawa ke Kota Putih.


"Aduh!!, aku kesini lagi. Tidak masalah ini yang terbaik bagiku. Jadi, tidak terlantar...," batin Gutheng.


Kehidupan Gutheng terjamin, dia tidak lagi bingung mencari makan karena manusia tersebut sayang kepadanya seperti saat dia berada di selatan.


Dibawah ini adalah Ilustrasi di dalam rumah tempat Gutheng berada,



Ruangan terlihat bersih dan rapi, setiap dia selesai makan sering tidur di atas sofa itu atau di karpet dan Gutheng diberi makanannya di dapur.


Di bawah ini ilustrasinya,



Dia menyantap makanannya di atas lantai dengan wadah khusus untuk makanan kucing.


Ini ilustrasi wadahnya.



Dia, menjadi betah di sana karena mendapatkan perhatian khusus seperti itu.


Kadang pada hari libur dia diajak berjalan-jalan di taman oleh manusia tersebut.


Di bawah ini ilustrasi tamannya,

__ADS_1



Bisa dilihat begitu indah dan menyejukan mata, walaupun berada di kota, masih ada tempat yang indah seperti itu. Tempat tersebut untuk umum tetapi hari itu sedang sepi sehingga Gutheng dan manusia tersebut bisa berada di taman dengan nyaman. Hingga begitu nyamannya sampai menunjukkan waktu jam 11 siang di tempat tersebut.


Kemudian, mereka beranjak pulang dengan menggunakan mobil yang terparkir di dekat air mancur. Manusia tersebut merupakan arsitek yang membuat taman tersebut.


Sudah beberapa bulan di tempat tersebut, dia dibiarkan lepas. Sehingga bisa pergi lagi ke Desa kelelawar, melalui jalan setapak yang sepi di pagi itu



Terlihat sepi, tetapi sebenarnya ada beberapa suara burung yang menemani perjalanan dia melewati daerah tersebut.


"Ha hai, aku bisa jalan-jalan..," batin Gutheng dengan wajah ekspresi bahagia.


Dia sedang tidak menggunakan kekuatan kecepatannya sehingga agak lama sampai ke desa tersebut. Sudah 10 menit dia berjalan, tiba-tiba terdengar suara tembakan.


Sontak Gutheng kaget medengar hal itu, lalu dia berlari dengan cepat. Beberapa saat kemudian, dia kembali untuk mencari suara tembakan yang masih terdengar hingga beberapa kali. Dia menemukan, ternyata suaranya ada di lapangan latihan menembak yang dekat dengan hutan.


Setelah itu, Gutheng melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kekuatannya.


Wus... wuss..


kecepatannya seperti kilat dengan sekejap sudah memasuki desa kelelawar, langkahnya terhenti ketika melihat kolam ikan Nila merah.


"Wah, enak. Aku ingin tangkap dua ekor...," batin Gutheng.


Lagi-lagi dia menggunakan kekuatan tersebut untuk menangkap ikan Nila dengan hanya dua kali cakaranya yang memiliki aliran listrik mengakibatkan ikan tersebut mati.


"Kekuatanku memang tidak masuk akal, aku suka ini. Pokoknya jos!!," batin Gutheng.

__ADS_1


Tiba-tiba biawak datang tanpa diundang menubruk Gutheng dari arah belakang.


"Rgghh!!!"


Biawak menggigit kakinya. Kemudian, Gutheng mengeluarkan kekuatan listriknya. Seketika itu juga Biawak melepaskannya.


"Aduh, Mulutku terasa disetrum!!," bentak Biawak.


"Kau curang Biawak menyerangku dari arah belakang!!," bentak Gutheng.


"Aku tidak peduli!!," bentak Biawak.


"Kurang ajar, mau aku setrum lagi!!," bentak Gutheng.


"Tunggu dulu, sebentar. Aku kebelet kencing...", kata Biawak.


"Oke, silakan. Nanti kita lanjutkan lagi!," kata Gutheng.


Kemudian, dia pergi ke semak-semak tetapi itu hanya alasannya saja untuk bisa kabur.


"haahaha, ini saatnya aku pergi dari sini. Mumpung dia tidak tahu," batin Biawak.


Beberapa saat kemudian,


"lama, Apa yang dia lakukan?" batin Gutheng.


Kemudian, dia melihat kesana ternyata Biawak tidak ada.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2