
Beo telah sampai hinggap di pohon mangga belakang rumah, hanya ada suara ayam sedang berkokok di kandang. Gutheng Belum terlihat pulang.
"Dia ternyata belum pulang, sedang melakukan apa saja sebenarnya di sana?" kata Beo dalam hati.
Beberapa saat kemudian Belang pulang melalui depan rumah
"Kemana ini makhluknya! sepi..." kata Belang dalam hati
kemudian, berjalan menuju ke belakang rumah terlihat Beo sedang bertengger di ranting pohon mangga.
"Apa Gutheng belum pulang?" kata Belang
"Belum, sedang apa memangnya dia disana?" kata Beo
"Tidak tahu..." kata Belang
Kemudian, dia (Belang) rebahan di atas teras samping sumur. Beberapa saat kemudian Gutheng pulang dari depan melalui samping rumah sebelah selatan ke arah Barat menuju belakang rumah.
"Kemana saja baru pulang?" kata Beo
"Dari tempatnya Poleng" kata Gutheng
Dia mendekam dan naik ke atas sumur yang telah di tutupi lembaran kayu untuk tidur.
Suasana siang itu hening sesekali hanya terdengar suara ayam dan suara daun yang saling bergesekan tertiup angin sepoi-sepoi. Awan hitam terlihat mulai menghalangi sinar matahari, tetesan air hujan terjadi di iringi hujan ringan. Kemudian Beo terbang ke bawah atap rumah untuk berteduh.
1 jam kemudian hujan reda, tanah sekitarnya basah dan terlihat tetesan air dari atap rumah. Awan mulai menyingkir tidak menghalangi sinar matahari. Hawa sejuk terjadi, hewan kadal keluar dari semak dan berjalan dari arah utara menuju selatan, masuk ke kandang melalui celah bawah untuk mencari makan. Kemudian, keluar lagi ke arah kebun karena melihat sekumpulan laron beterbangan menyebar di sekitarnya.
Beo terbang ke sebelah utara dan melihat ada sesuatu beterbangan kemudian disambarnya ber ulang kali, hingga dia merasa kenyang dan hinggap di ranting pohon rambutan.
Manusia terlihat membawa alat pancing menuju ke arah kolam. kemudian, Belang dan Gutheng mengikuti. Setelah di tanggul kolam dia duduk menggunakan kursi kecil membuka umpan di plastik bening yaitu beberapa ekor cacing. Dia mengaitkan umpan ke kail pancing. kemudian, melemparkan kail ke arah air kolam. Beberapa saat kemudian kailnya tersambar, terlihat benang pancing yang lurus menegang akibat tarikan ikan yang kuat, gagang pancing melengkung, ikan meronta-ronta di dalam air membuat gelombang, riak kecil, dan benang senar pancing putus akibat tidak bisa menahan beban berat ikan yang besar. Gurami bisa menyelamatkan diri tetapi kail pancing masih menancap di moncongnya bersama sehelai senar berukuran beberapa cm yang ikut terbawa ke dalam kolam dan dia tidak terlihat karena kondisi air keruh.
Kemudian, manusia itu menuju ke kandang mengganti senar, memasang kail dan membuka pintu kandang untuk melepaskan se-ekor ayam Jago.
Baq!! baq!! baq!! (suara kepakkan sayap)
Dia turun kemudian terbang mengarah keluar dan berlari mengejar ayam yang lain untuk pergi dari daerahnya. Dia merupakan penghuni kandang baru sejak hari ini yang di beli dari pasar unggas.
Sebelumnya kandang tersebut lama di kosongkan.
"Apa itu? ternyata Ayam"
Batin Beo yang sedang menghadap ke arah utara
kemudian menoleh ke kiri
Kemudian, manusia tersebut kembali ke pinggir kolam. Melemparkan kail ke kolam lagi, disambarnya umpan tersebut oleh se-ekor ikan nila dibiarkan beberapa detik, di angkat terlihat moncongnya telah terkait oleh kail pancing dan dia tergantung meronta-ronta. Kemudian, di arahkan ke atas ember di biarkan sejenak setelah tenang ikan itu di pegang, lepaskan dan masukkan ke dalam ember.
Di samping manusia, mereka (Gutheng dan Belang) mendekam mengamati berharap bisa menangkap ikan yang terlepas apabila di angkat dari kolam namun terlepas dahulu ke tanah sebelum di atas ember.
Sudah ada 45 menit berlalu manusia tersebut memancing mendapatkan 31 ekor ikan. Kemudian, ember di bawa ke dekat sumur. Dia mengambil pisau untuk mengolah ikan menjadi:
👇
__ADS_1
( Ikan Nila Goreng Krispi Bumbu Kuning)
DAN
👇
(Ikan Gurami Bakar Madu)
Gutheng dan Belang tidak mendekat saat ikan tersebut di olah karena mereka sudah kenyang diberi makanan ikan kecil. Mereka mendekam di tanggul kolam sambil menjilati bulunya.
Terlihat ayam jago di kebun kopi sebelah utara sedang mengorek-ngorek daun kering mencari serangga. Kemudian, dia berjalan ke arah samping rumah untuk kipu di dekat pohon pisang tanduk yang sedang berbuah
"Apa jenis ayam itu?" kata Belang
"Bangkok jali..." kata Gutheng
"Darimana dia berasal?" kata Belang
"Negara Thailand..." kata Gutheng
"Darimana kamu tahu?" kata Belang
"Acara yang tayang di Televisi..." kata Gutheng
"Saat aku berada di dalam rumah..." kata Gutheng
"Wah, apa ayam itu suka bertarung?" kata Belang
"Tergantung yang memelihara akan dijadikan petarung atau tidak" kata Gutheng
"Kamu melihat, ada se-ekor ayam jago lain datang dari arah selatan?" kata Belang
"Ya, sepertinya dia akan ke arah ayam Bangkok..." kata Gutheng.
"Apa ayam itu jenisnya sama?" kata Belang
"Tidak, jenis ayam Saigon" kata Gutheng
Ayam saigon mulai mendekat, tiba-tiba Bangkok jali bangkit dan menghalaunya. Saigon ketakutan berlari menjauh ke arah timur. Hampir bersamaan datanglah burung Cekakak terbang dari arah timur
Ciirr... ciiirr... ciirr... (suara burung Cekakak)
Kemudian, Cekakak hinggap di kabel listrik yang melintang dari selatan ke utara. Sejenak dia disitu lalu terbang lagi ke arah barat laut.
"Itukan.. cekakak! akan kemana dia!" kata Belang
"Apa dia ingin mengambil ikan disini lagi?" sambung Gutheng
"Tidak tahu..." kata Belang
__ADS_1
Kemudian, Belang dan Gutheng menuju ke tempat Beo bertengger.
"Beo! kamu melihat tidak tadi Cekakak terbang?" kata Gutheng
"Ya.., kenapa memangnya?" Beo berbalik bertanya
"Mengapa kamu tidak ikuti dia!" kata Gutheng
"Tidak perlu, aku disini dulu sambil mengamati, kalau dia ke arah kolam kemudian aku akan muncul" kata Beo
"Ya.. bagus ide kamu" kata Belang
Kemudian, Belang dan Gutheng menuju ke depan rumah untuk rebahan di atas teras
Sudah 20 menit Beo bertengger disana namun Cekakak tidak kunjung datang.
"Sepertinya dia tidak akan kesini..." kata Beo dalam hati
Sesaat kemudian dia (Cekakak) terbang datang dari arah barat menuju ke timur membawa ikan di paruhnya.
lalu Beo mencegatnya,
"Stop! darimana kamu?" kata Beo
Kemudian, Cekakak hinggap di ranting pohon rambutan
"Aku dari kolam yang berada di pinggir sungai" kata Cekakak
"Dimana tempatnya?" kata Beo
"Jauh dari tempat ini, kolamnya lebih luas..." kata Cekakak
"Oh, jadi begitu, sudah kamu boleh pergi..." kata Beo
Kemudian, Cekakak memandangi Beo
"Kenapa kamu memandangi aku seperti itu?" kata Beo
"Karena, kamu curiga dengan ikan yang aku bawa..."kata Cekakak
"Tadinya ya.., hehehe" kata Beo kemudian tertawa
"Beo aku sudah janji tidak akan mengambil ikan disini lagi, kamu masih ingat itu?" kata Cekakak
"Masih...", kata Beo
"Jadi, Bagaimana sekarang?" kata Cekakak
"Tidak apa-apa, itu bukan ikan dari kolam disini. jadi, tidak masalah" kata Beo
Kemudian, Cekakak terbang ke arah timur
Bersambung...
__ADS_1