Gutheng

Gutheng
Kedatangan Gutheng#2


__ADS_3

Malampun berganti pagi, Gutheng terbangun dari tidurnya menuju keluar dari atap rumah, melihat di sekeliling burung-burung berkicau lalu - lalang hewan; semut, ayam berjalan mencari makan. Terlihat semut sudah mendapatkan makanan se-ekor belalang kekek yang mencoba meronta-ronta untuk melepaskan diri dari gigitan dan kepungan puluhun semut rang-rang, Ayam sedang mengorek-orek tanah menyingkirkan daun-daun kering untuk mencari serangga dan cacing, sedangkan burung terbang hinggap di pohon untuk menangkap ulat. Suasana yang berbeda di rasakan Gutheng dari atap rumah, serasa di sambut oleh hewan-hewan penghuni alam belakang rumah.


"Ini benar-benar indah, udaranya bebas polusi" Gutheng berkata dalam hati.


Dia pun turun dari atap melalui tangga yang di senderkan di dinding. Kemudian berjalan mencari makan di sekitar barangkali ada makanan, setelah itu dia menemukan se-ekor jangkrik lalu di lahapnya.


"Lumayan dapat buruan, untuk menahan rasa lapar" kata Gutheng.


Dia merasakan masih lapar, terlihat Belang pun juga dan mengeong beberapa kali di depan pintu belakang rumah. Di bukakanlah pintu itu, mereka berdua masuk ke dalam rumah berjalan kearah hidangan kepala ikan goreng yang sudah di taruh di atas wadah plastik.


"Tunggu dulu Gutheng aku akan makan terlebih dahulu, kamu boleh makan setelahku" Belang mencoba menghalangi.


"Ya, silakan" kata Gutheng.


Melihat itu manusia penghuni rumah memberikan lagi makanan yang sama kepada Gutheng.


"Maaf belang, aku sudah ada makanan. Itu untuk kamu saja" kata Gutheng


"Ya" kata Belang.


Kegiatan makan bersama seperti ini sering mereka lakukan sejak Gutheng mulai pindah dan tinggal di sekitar rumah ini selama 4 bulan. Seperti biasa setelah makan mereka berjemur di samping atau depan rumah sesekali memejamkan mata.


Berkata Gutheng "Sudah lama aku tidak melihat Anggora".


"Siapa itu?" kata Belang.


"Dia kucing yang waktu itu aku bertemu dengannya di kebun seberang jalan depan rumah, dalam kondisi kelaparan di lihat dari bulu ekornya yang gondrong sepertinya dia bukan dari daerah ini" kata Gutheng,


"Apakah kamu pernah bertemu dengannya?" kata Gutheng.


"Belum pernah, hanya dari atas bukit terlihat dari kejauhan menghampiri kamu" kata Belang.


Gutheng pun curiga dengan menatap mata Belang.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" kata Belang.


"Hanya curiga terhadap, jangan-jangan kamu bertemu dengan kucing jantan berbulu hitam Kombinasi putih diatas bukit" kata Gutheng.


"Tidak, aku tidak bertemu dengannya. Hanya melihat pemandangan bawah bukit yang terlihat luas dari sana sampai situ" jawab Belang sambil menunjukkan arah luasnya dengan kaki.


"Siapa kucing itu, yang kamu katakan di atas bukit?" kata Belang.


"Dia kucing penguasa daerah sana namanya Poleng. Aku tahu itu dari burung Beo, saat sedang makan belalang tadi pagi" kata Gutheng.


Kemudian dia pergi ke belakang rumah mencari Beo. Terlihatlah dia sedang bertengger di salah satu ranting pohon mangga.


"Apa kabar Beo?" kata Gutheng.


"Baik" kata Beo.


"Apa benar yang kamu katakan tadi tentang adanya penguasa atas bukit sekitar daerah ini?" kata Gutheng.

__ADS_1


"Ya, memang benar ada" kata Beo.


"Bisakah kau tunjukkan aku tempat tinggalnya?" kata Gutheng.


"Kamu bisa mengikuti jalan depan rumah ini ke arah Selatan sekitar 100 meter ada rumah kanan jalan, sampingnya ada garasi dan dindingnya berwarna merah bata berlantai dua. Biasanya dia dibelakang rumah bermain hingga ke atas bukit. Saat bertemu dengannya aku bertengger di ranting pohon Jengkol" Beo menjelaskan sambil sesekali mengoyangkan kepalanya.


"Ya terima kasih, aku akan ke sana" kata Gutheng. Kemudian dia bergegas pergi dan berpapasan dengan Belang.


"Kamu akan kemana?" tanya Belang.


Langkah Gutheng terhenti sebentar.


"Aku akan pergi ke tempat Poleng. Apakah kamu ingin ikut? kata Gutheng.


"Ya" jawab Belang.


Kemudian mereka menuju kesana, setelah beberapa menit sampailah di depan rumah.


"Ayo kesini, ikuti aku" ajak Gutheng.


Mereka menuju ke Belakang rumah terlihat Poleng sedang mendekam menghadap arah kebun.


"Halo..." sapa Gutheng ".


"Siapa ya?" Poleng berbalik badan.


"Aku Gutheng, maksud dari kedatangan kemari adalah untuk bertemu dengan penguasa bukit, sekaligus untuk berlatih cara berburu" kata Gutheng dengan spontan untuk memanfaatkan kesempatan ini mendapatkan ilmu.


"Benar" kata Poleng.


"Kamu darimana?" kata Poleng.


"Aku dari utara" kata Gutheng.


Poleng melihat kearah Belang,


"Siapa kamu?" kata Poleng.


"Aku temannya Gutheng" jawab Belang.


"Ya dia temanku" sambung Gutheng.


"Oke, kita mulai saja latihan tekhnik dasar yaitu mainkan bola di tangkap lalu tendang dan kejar. kuncinya harus fokus terhadap pergerakan bola saat kecepatan bola itu melaju, gunanya ini untuk melatih reflek", Poleng menjelaskan dengan seksama. "kamu sudah siap?" kata Poleng.


"Siap!" jawab Gutheng dengan nada semangat.


"Baiklah, tangkap bola ini!" perintah Poleng sambil menggelindingkan bola. Dia melakukan gerakan itu berulang kali.


"Belang apakah kamu ingin mencobanya?" tanya Gutheng.


" Ya!", jawab Belang.

__ADS_1


Mereka berduapun berlatih sampai tengah hari.


"Untuk latihan kali ini sudah cukup kita lakukan lagi di hari yang lain", Poleng berkata sambil mendekam di teras belakang rumah.


"Ya, terimakasih Poleng" sambung Gutheng.


Sebelum mereka berdua bergegas pulang terlebih dulu meminum air di ember dekat kran samping rumah itu.


Di tengah perjalanan dia melihat se-ekor ular berwarna hijau yang sedang melintas ke arah timur. mereka berdua menghentikan langkahnya sambil mengamati. Setelah ular itu tidak tampak lagi masuk ke semak-semak, mereka melanjutkan perjalanan.


"Belang kamu pernah melawan ular?" tanya Gutheng berbisik di samping belang.


"Pernah tetapi tidak sebesar itu" jawab Belang lirih.


"Apa yang selanjutnya terjadi?" tanya Gutheng.


"Aku memenangkan pertarungan itu" jawab Belang


"Hebat kamu" sambung Gutheng.


"Biasa saja, itu hanya berkat latihan keras. Kamu juga bisa seperti aku kalau sering latihan, ular yang aku lawan bukan tergolong yang memiliki racun", kata Belang dengan tidak menyombongkan diri.


"Kenapa kamu tidak mencoba melawannya tadi?", tanya Gutheng.


"Tidak, aku tahu dengan ukuran kemampuanku kalau melawan bisa saja terlilit remuk tulangku", jawab Belang.


"Apa jenis ular tadi?" tanya Gutheng.


"Python, jenis yang sama aku hadapi ketika diatas bukit kemarin" jawab Belang.


Baru beberapa belas langkah berjalan, ada burung gagak hinggap di batang kayu besar yang tergeletak di kebun seberang jalan. Mereka berdua menghentikan langkahnya lagi dan mengamati ternyata ada se-ekor tupai yang sudah mati akan di makannya.


"Kasihan tupai itu.." bisik Gutheng.


"Kemarin aku lihat dia terluka tembak di bagian paha kiri" sahut Belang lirih.


"Oh jadi begitu..., aku pernah melihat beberapa manusia membawa senapan, ternyata dia melakukan perburuan terhadap hewan khususnya tupai di sekitar ini" kata Gutheng.


"Ya..., mereka memburu ular juga" kata Belang.


"Semoga tertangkap di pindahkan ke tempat lain yang jauh dari pemukiman. kenapa tupai diburu?", kata Gutheng.


"Karena mereka di anggap hama perusak tanaman" kata Belang.


Terlihat tubuh tupai sudah tercabik-cabik, kemudian mereka melanjutkan perjalanannya kembali pulang. karena, suhu sedang sejuk angin berhembus sepoi-sepoi se-sampainya di depan rumah mereka rebahan di teras melepas lelah mendinginkan badan di atas lantai keramik berkilau.


"Aku lapar" kata Belang.


"Ayo kita makan" kata Gutheng.


Merekapun pergi ke belakang rumah dan mendapati makanan disana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2