
Terlihat ayam bangkok jali di pinggir jalan kemudian manusia tersebut keluar dari pintu depan rumah untuk menggiring Bangkok jali ke arah barat untuk di kandang. Ayam itu ditangkap namun dia mencoba mematuk beberapa kali tetapi tidak terkena, patukan tersebut mengenai tangan dan terlihat merah lecet pada kulit karena begitu kuat patukannya. Manusia itu berhasil memasukkannya ke kandang memberikannya makanan beras merah di wadah batok kelapa. Kemudian, dia keluar dari kandang mengambil peralatan pancing yang tertinggal di tanggul kolam untuk diletakkan di dalam gudang. Setelah itu begegas pergi ke depan untuk mencuci sepeda motor.
Kemudian, manusia tersebut terlihat bersiap-siap untuk pergi dan membawa Gutheng ikut
"Akan dibawa kemana aku..." kata Gutheng dalam hati
Gutheng di masukkan ke kandang kecil khusus kucing. di letakkannya dia di belakang di atas jok motor dan kandangnya di ikat dengan tali.
"Kamu akan dibawa kemana?" kata Belang
"Tidak tahu, tolong aku!!" kata Gutheng
"Bagaimana?" kata Belang
"Kamu naik dan gigit talinya" kata Gutheng
Kemudian, Belang naik ke atas jok
"hus.. hus.. minggir!! minggir!!" kata manusia tersebut sambil berusaha mengusir
Motor mulai dihidupkan dan segera pergi ke arah utara.
Belang pergi ke arah Beo bertengger
"Beo tolong ikuti motor itu ada Gutheng disana!" kata Belang
"Kenapa?" kata Beo
"Sudah cepat! ikuti saja!" kata Belang
"Siappp!!" kata Beo
Kemudian, Beo bergegas terbang pergi mengikuti motor tersebut. Setelah berjarak 2 km terlihat motor tersebut belok ke kanan masuk ke area gedung.
Kemudian, Beo hinggap di pohon.
"Apa yang akan dilakukan manusia tersebut?" ini tempat apa?" batin beo bertanya-tanya
Dia terus mengamati apa yang di lakukan manusia tersebut. Terlihat manusia memarkirkan motor di halaman, membuka helm, dan masuk ke gedung. Beberapa saat kemudian kembali ke parkiran untuk melepas ikatan kandang kucing itu dan di bawanya masuk.
"Dari depan sini tidak terlihat jelas coba aku kesana barangkali ada jendela" kata Beo dalam hati
Kemudian, Beo terbang ke sebelah kiri gedung dan hinggap di pohon yang dekat dengan jendela. Terlihat banyak manusia di gedung tersebut dengan kandang-kandang yang terdiri dari beberapa deret rapi, berisi kucing-kucing kampung yang di letakkan di atas meja.
"Dimana Gutheng berada seharusnya disini bisa terlihat. haduh, Sepertinya terhalang oleh kandang" kata Beo lirih
Di dalam gedung Gutheng memperoleh Vaksin dan pemeriksaan gratis dari dokter hewan. Kemudian, dia ikut lomba lari, kelincahan dan reaksi kucing.
"Kenapa aku dibawa kesini?" kata Gutheng dalam hati bertanya-tanya.
"Halo Gutheng!" kata Poleng yang dari tadi di belakang lain kandang tetapi Gutheng tidak menyadarinya.
Gutheng kemudian berbalik mengikuti arah suara
"Wah,, kamu poleng!" kata Gutheng
"Ya..." kata Poleng
"Ternyata kamu juga di bawa kesini" kata Gutheng
"Ya, Kamu bingung?" kata Poleng
"Tidak, aku kira akan di terlantarkan ke tempat yang lain" kata Gutheng
"Sepertinya tidak begitu. kita sedang ikut lomba" kata Poleng
__ADS_1
"Sipus ikut, apa tidak disini?" kata Gutheng
"Tidak..." kata Poleng
Sudah ada 1 jam lebih dia (Gutheng) disana tahap demi tahap lomba di lewati. Dia memperoleh predikat kucing terfavorit. Manusia tersebut mendapatkan hadiah uang tunai Rp 600.000, Satu Piala dan 2 bungkus makanan kucing kemasan.
Acara telah selesai merekapun segera pulang dari tempat itu. Beo yang dari tadi bertengger di pohon juga ikut pulang mengikuti mereka.
Sesampainya di rumah, Gutheng di lepaskan lagi dan terlihat Belang yang khawatir dari tadi langsung menghampiri dia.
"Kamu dibawa kemana tadi?" kata Belang
"Ke Gedung" kata Gutheng
"Aku kira kamu akan di tinggalkan di suatu tempat tadi jadi membuat aku khawatir" kata Belang
"Tidak, aku hanya ikut lomba" kata Gutheng
"Kenapa tadi kamu ketakutan saat dibawa pergi?" kata Belang
"Tadi aku tidak tahu, tiba-tiba saja dibawa..." kata Gutheng
Beo kemudian, terbang dan hinggap di atas teras di tempat mereka berada.
"Beo kamu tadi mengikuti Gutheng sampai dimana?" kata Belang
"Sampai Gedung terlihat ada banyak kucing dan manusia" kata Beo
"Kamu ikut masuk kedalam juga?" kata Belang
"Tidak, aku hanya di luar hinggap di pohon dekat jendela sampai acara selesai. Kemudian, aku pulang" kata Beo.
"Jadi, Bagaimana tadi hasil lombanya?" kata Belang
"Wah.. beruntung!" kata Belang
"Tadi, aku melihat Poleng ikut lomba" kata Gutheng
"Dia ikut juga! Apa Anggora dan Persia ikut?" kata Belang
"Tidak, lomba ini hanya untuk kucing kampung" kata Gutheng
Hari mulai sore. Ketika Gutheng sedang di belakang rumah dia melihat ada se-ekor burung Pipit yang bertengger di ranting pohon mangga yang tidak tinggi.
Suasana sore itu sudah remang-remang. Secara perlahan dia mendekati segera melompat, memanjat dan menggigit burung tersebut secara cepat. kemudian, dibawa ke bawah lalu di santapnya.
Malampun menjelang mereka sudah mulai tertidur di tempatnya seperti biasa. waktu menunjukkan jam 19.30. Kecuali, Gutheng terlihat masih mendekam di bawah cahaya lampu belakang rumah di dekat sumur. Gutheng malam ini mencoba berburu pada malam hari, dia berharap ada tikus yang turun dari atap rumah.
Kekuatan kucing di malam hari adalah tatapannya yang lebih jelas di bandingkan manusia karena memiliki mata yang bersinar akibat pantulan sinar walaupun sedikit. Gutheng menggunakan ini untuk melihat pergerakan, beberapa saat kemudian ada tikus yang berjalan dari barat ke timur menuju samping rumah sebelah selatan. Kemudian, dengan gerakannya yang sigap langsung mengikuti tikus tersebut dan mengejarnya hingga tertangkap di pojokan rumah lalu di santapnya.
"Latihan yang aku lakukan selama ini terasa bermanfaat. Sekarang aku bisa berburu dengan baik" kata Gutheng lirih
Ke esokan harinya terlihat cuaca mendung. Air gemricik dan tergenang di sekitar halaman belakang rumah. Suhu udara terasa dingin Gutheng dan Belang mendekam di atas sumur tertutup lembaran kayu sambil berdempetan untuk saling menghangatkan badan. Sedangkan Beo bertengger di palang kayu dekat sumur.
Sedangkan di sebelah utara tempat Brich dan teman-temannya berada.
"Dingin pagi ini, huh.. terasa sampai ke tulang" kata Brich
"Aku juga merasakan hal yang sama..." kata Penghuni kandang
Brich merasa kedinginan hampir tiap malam karena lokasi kandang dekat kolam dan sungai
"Kalau begini terus tidak baik, aku harus keluar dari sini" kata Brich
"Bagaimana caranya?" kata penghuni kandang
__ADS_1
"Lewat atas kandang sepertinya ada celah untuk bisa keluar dari sini" kata Brich
"Berarti kamu tidak jadi ikut pergi ke habitat yang disana?" kata penghuni kandang
"Tidak..apa kamu ingin ikut keluar?" kata Brich
"Tidak, aku disini saja..." kata penghuni kandang
Kemudian, Brich berhasil keluar dari celah tersebut walaupun agak sulit.
"Semoga bertemu kembali, aku akan pergi" kata Brich
"Kemana kamu akan pergi?" kata penghuni kandang
"Ke arah selatan tempat Beo berada" kata Brich
"Hati-hati..." kata penghuni kandang
"Ya..." kata Brich
Kemudian, dia terbang ke arah selatan. Beberapa saat dia terbang terasa berat bulunya karena basah.
"Sepertinya aku harus hinggap di pohon beringin itu sebelum melanjutkan terbang" kata Brich
Sudah 50 menit dia disana hujan mulai reda. Cahaya matahari mulai tampak dari balik awan.
"Sebaiknya aku disini dulu mengeringkan bulu" kata Brich.
Di atas dia sedang bertengger ada sarang burung Bangau putih. Induk burung terbang hinggap di sarang.
"Apa itu tadi?" batin Brich bertanya-tanya
Brich melihat ke atas,
"Sepertinya di sana sarang burung tersebut" kata Brich lirih
Setelah di rasa bulunya kering dia melanjutkan terbang lagi. Dia terbang sampai ke ujung rumah paling selatan tempat Poleng berada. Kemudian, hinggap di pohon belimbing samping rumah sebelah utara. Terlihat Poleng sedang berjemur di belakang rumah. Kemudian, bangkit mendekati Brich.
"Beo, Apa ada yang perlu saya bantu atau ada kabar lain?" kata Poleng
"Apa kamu kenal Beo?" Brich berbalik bertanya
"Ya, kamu Beo bukan?" kata Poleng
"Bukan..." kata Brich
"Jadi, siapa kamu?" kata Poleng
"Aku Brich..." kata Brich
"Kamu mirip Beo, apa kembarannya?" kata Poleng
"Bukan, aku temannya, kedatangan kemari ingin bertemu dengan Beo" kata Brich
"Kalau Beo sering di sekitar rumah yang dindingnya warna hijau di sebelah utara" kata Poleng
"Wah, berarti aku melewatinya tadi" kata Brich
"Ya..." kata Poleng
"Terima kasih petunjuknya, aku akan kesana..." kata Brich
Kemudian, Brich terbang ke arah rumah tersebut. Sesampainya di sana Brich melihat Beo sedang bertengger di pohon rambutan.
Bersambung...
__ADS_1