Gutheng

Gutheng
Kekuatan Baru#17


__ADS_3

"Bido dengan kekuatan yang kamu miliki sekarang. lebih baik hati-hati jangan digunakan secara berlebihan" Kata Hilu


"Tenang saja, aku mengerti..." kata Bido


"Ayo kita pulang!" kata Hilu


"Ya, kamu naik ke punggung aku..." kata Bido


"Tidak usah, apa kamu akan menggunakan kekuatan kamu?" kata Hilu


"Ya" kata Bido


"Lebih baik simpan dulu. Kamu terbang seperti biasa saja..." kata Hilu


"Kenapa?" kata Bido


"Akan mengundang perhatian manusia disini" kata Hilu


"Tidak apa-apa, mereka tidak memperhatikan kita..." kata Bido


"Oke. aku akan naik ke punggung kamu" kata Hilu


Kemudian, dia naik


"Tubuh kamu berat Hilu..." kata Bido


"Ya sudah tidak jadi..." kata Hilu


"Maaf, aku terbang dulu..." kata Bido


"Ya." kata Hilu


Wuss..


Dia terbang menuju ke tempat kukang. Kukang melihat dari kejauhan ada sesuatu yang bergerak cepat.


"Apa itu!, gerakannya cepat" kata Kukang


Tiba-tiba Bido sudah di depan Kukang


"Wah.., kamu ternyata" kata Kukang


"Ya, hehehe" kata Bido kemudian tertawa


"Ini tidak masuk akal..." kata Kukang


"Tetapi sekarang menjadi masuk akal. Apa kamu ingin seperti aku?" kata Bido


"Ya" kata Kukang


"Silakan kalau berani..." kata Bido


"Berani!" kata Kukang


"Wah, kamu berani!, lebih baik jangan" kata Bido


"Tidak mungkin aku melakukan itu sama saja bunuh diri hehehe" kata Kukang kemudian tertawa


Kemudian, Kukang mencari tahu tentang hal itu lebih mendalam


"Apa yang dirasakan kamu ketika mendapat kekuatan itu?", kata Kukang


"Aku merasakan hanya seperti digigit semut" kata Bido


"Tetapi pada umumnya kalau terkena aliran listrik dan itu tegangan tinggi seharusnya sudah mati. Loh, kamu belum mati..." kata Kukang


"Karena, ini suatu yang istimewa bagi aku" kata Bido


"Apa kamu bangga dengan itu?" kata Kukang


"Biasa saja, Karena ada yang lebih kuat dari ini" kata Bido


"Seharusnya kamu bangga..." kata Kukang


"Tidak, untuk apa dibanggakan untuk hal yang seperti ini" kata Bido


"Apa yang membuat kamu berpikiran seperti itu?" kata Kukang


"Sederhana saja, karena hidup di dunia ini tidak akan selamanya" kata Bido


"Aku heran dengan kamu..." kata Kukang


"Jangan heran itu memang fakta..." kata Bido


"Maksud aku heran. karena, kamu sudah mempunyai kekuatan seperti itu tetapi masih rendah hati..." kata Kukang


"Ya, memang harusnya seperti itu..." kata Bido


"Wah, aku kagum terhadap kamu..." kata Kukang


"Terima kasih..." kata Bido


Kemudian, Hilu terlihat datang menghampiri mereka berdua

__ADS_1


"Hilu kamu baru sampai..." kata Kukang


"Ya, ini hehehe" kata Hilu kemudian tertawa


"Kamu merasa aneh tidak tentang Bido?" kata Hilu


"Aneh, itu kekuatan bisa ada" kata Kukang


"Ya memang, yang penting aku masih selamat dari kematian" kata Bido


"Bido gunakan kekuatan kamu untuk hal yang bermanfaat" kata Kukang


"Tentu saja..." kata Bido


"Kalau begitu tolong ambilkan aku buah" kata Kukang


"Buah apa?" kata Bido


"Buah pisang yang sudah matang" kata Kukang


"Kalau tidak ada..." kata Bido


"Yang penting manis..." kata Kukang


Kemudian, segera dia terbang cepat mencari buah tersebut dan kembali lagi dalam 6 menit


"Cepatnya, dimana kamu memperoleh itu?" kata Kukang


"Di kebun sebelah utara" kata Bido


"Terima kasih" kata Kukang


"Ayo kita pulang Bido!" kata Hilu


"Ya" kata Bido


"Kita akan pulang kukang" kata Hilu


"Ya" kata Kukang


Kemudian, mereka berdua pergi bersama dari tempat itu. Di saat mereka terbang ada sesuatu yang terbang dari arah samping mereka


"Apa itu?" kata Bido


"Tidak tahu..." kata Hilu


"Sepertinya benda ini mengikuti kita..." kata Bido


Kemudian, mereka mempercepat terbangnya. Benda yang mengikuti mereka adalah pesawat drone yang di operasikan oleh manusia yang tadi mengamati daerah itu. Daerah hutan phoenix merupakan sesuatu yang unik. karena, ada rahasia yang belum terkuak oleh para manusia yang meneliti hutan tersebut. Bahkan, beredar berita ada burung phoenix yang hidup di hutan itu.


Di tempat lain,


"Sudah beberapa hari ini aku tidak berjumpa dengan Gutheng..." kata Poleng


"Apa kamu ingin ke sana?" kata Sipus


"Sebenarnya ingin kesana tetapi kondisi sekarang tidak mungkin" kata Poleng


"Kenapa kamu?" kata Sipus


"Rasanya mual dan tadi aku sempat muntah" kata Poleng


"Bisa jadi kamu keracunan makanan..." Kata Sipus


"Mungkin saja karena menyantap makanan yang sudah tidak layak di konsumsi" kata Poleng


"Tadi menyantap apa?" kata Sipus


"Ikan mentah yang sudah mati dulu" kata Poleng


"Makanya hati-hati..." kata Sipus


"Aku sudah tetapi biasanya tidak apa-apa hanya baru pernah saja seperti ini" kata Poleng


"Poleng aku melihat tadi ada sesuatu benda terbang cepat ke arah hutan lindung" kata Sipus


"Apa itu pesawat alien?" kata Poleng


"Tidak begitu jelas sepertinya bukan" kata Sipus


"Jadi, apa?" kata Poleng


"Makhluk gerakannya cepat seperti kilat" kata Sipus


"Mungkin kamu hanya halusinasi atau sedang mimpi" kata Poleng


"Tidak, waktu itu aku sedang di atas bukit sedangkan kamu mungkin sedang tertidur di atas teras" kata Sipus


"Tidak, tadi aku sedang muntah di samping rumah" kata Poleng


"Kok bisa kamu tidak mengetahui?" kata Sipus


"Aku sedang pusing tidak memperhatikan benda terbang di atas" kata Poleng

__ADS_1


"Padahal tadi melintas di atas rumah ini" kata Sipus


"Bentuknya seperti apa?" kata Poleng


"Sepertinya burung" kata Sipus


"Katanya tidak jelas tadi, Bagaimana kamu?" kata Poleng


"Hanya perkiraan" kata Sipus


"Berarti kamu bohong" kata Poleng


"Aku tidak bohong" kata Sipus


Kemudian, Poleng terdiam dia tidak percaya akan sesuatu yang di ceritakan oleh Sipus


"Kalau kamu tidak percaya ayo kita cari kesana" kata Sipus


"Tidak mau, kondisi tubuh seperti ini cari yang begitu..." kata Poleng


"Maksudnya, besok atau lain waktu..." kata Sipus


"Ya, gampang kalau aku sudah sembuh" kata Poleng


"Dimana bola pimpongnya tadi?" kata Sipus


"Ada, itu di pojok teras di bawah sapu" kata Poleng


"Aku pinjam untuk latihan" kata Sipus


"Silakan" kata Poleng


"Dimana kamu pertama kali mengenal Gutheng?" kata Sipus


"Disini waktu itu aku curiga dengan dia" kata Poleng


"Mengapa?" kata Sipus


"Aku kira akan mengancam daerah ini ternyata tidak" kata Poleng


"Bagaimana karakter dia sebenarnya?" kata Sipus


"Sepengetahuan aku dia baik" kata Poleng


Sipus berlatih seperti yang dilakukan Gutheng pada saat itu


"Kamu tahu apa kegunaan berlatih seperti itu?" kata Poleng


"Aku tahu untuk melatih reflek" kata Sipus


"Cerdas!, gerakan kamu sudah bagus..." kata Poleng


"Terimakasih" kata Sipus


Di tempat lain,


"Hari-hari kita hanya begini di dalam sekitar rumah saja" kata Anggora


"Justru ini enak..." kata Persia


"Kalau aku tidak. karena, terasa di penjara..." kata Anggora


"Benar juga tetapi meskipun seperti ini tubuh kita terawat. Coba bayangkan kalau terlantar akan sengsara hidup kita" kata Persia


"Hal itu tidak akan terjadi kalau kita terlepas di daerah ini" kata Anggora


"Apa kamu ingin pergi dari sini?" kata Persia


"Tidak..." kata Anggora


"Itu keputusan yang baik..." kata Persia


"Aku tahu mungkin kamu akan kesepian tanpa aku. Benar atau tidak?" kata Anggora


"Kamu jangan seolah-olah mengetahui" kata Persia


"Secara logika memang begitu. Apa aku salah?" kata Anggora


"Tidak kamu tidak salah. Memang benar apa yang kamu katakan tetapi aku masih ada manusia yang memelihara aku. Justru kamu yang akan kesepian tanpa aku hehhehe" kata Persia


"Hehhehe..." Anggora tertawa


"Jadi, Bagaimana akan pergi atau tidak?" kata Persia


"Tidak jadi..." kata Anggora


"Maka dari itu kamu disini saja tidak usah pergi..." kata Persia


"Ya, tetapi kalau aku ingin keluar sebentar. misalnya ke tempatnya Gutheng boleh..." kata Gutheng


"Boleh..." kata Persia


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2