Gutheng

Gutheng
Teman-Teman Seperjuangan#6


__ADS_3

Ketika mereka berdua sedang asik mengamati pemandangan alam, kucing kuning datang dari arah timur.


Tidak sengaja Poleng menengok mengetahui kedatangannya dari kejauhan dan memberi tahu sambil menepuk punggung Gutheng.


"Dia datang..." kata Poleng sambil berbisik


"Siapa?" kata Gutheng


"Kamu balik badan..." kata Poleng


Kemudian, Gutheng mengikuti perintah Poleng


"Dia (Kucing kuning).., mau apa sebenarnya?" kata Gutheng


"Kemungkinan minta makan, minta maaf atau tidak dua-duanya" kata Poleng


Kucing kuning semakin mendekat dan sampailah di atas bukit,


"Apa?" mata Poleng sambil menatap heran ke arah Sipus


"Maaf soal yang tadi aku tidak bisa menahan rasa kesal" kata Sipus


"Ya, aku kira kamu kucing gila tadi..." kata Poleng


"Tidak, aku masih waras hanya merasa tertekan" kata Sipus


"Oh jadi begitu, kenapa tertekan?" kata Poleng


"Karena dibawa ke daerah ini yang jauh dari tempat aku berasal..." kata Sipus


"Kamu memangnya darimana?" kata Poleng


"Seberang sungai sebelah utara, sekarang aku akan minta makan karena dari tadi pagi belum mendapatkan makanan" kata Sipus


"Ayo ikut aku kesana..." kata Poleng


"Ya..." kata Sipus


"Aku juga ikut..." kata Gutheng


"Boleh..." kata Poleng


Kemudian, mereka menuruni bukit menuju rumah tempat Poleng sering disana.


Setibanya disana poleng mengeong-ngeong di belakang rumah.


"Meong!! meong!! meong!! " sampai beberapa kali. beberapa saat kemudian manusia itu membawakan makanan keluar dan di taruh di bawah dekat jendela dapur. Mereka bertiga kemudian menghampiri menyantap hidangan tersebut. Setelah itu, minum air di ember yang di sediakan.


"Terimakasih Poleng telah menolongku" kata Sipus


"Ya.." kata Poleng


"Kamu jangan ulangi lagi tindakan seperti tadi pagi membuat onar karena dapat meresahkan lingkungan ini... " kata Gutheng


"Ya. maaf, aku akan pergi..." kata Sipus


"Pergi kemana?, disini saja karena ada makanan, lagi pula tempat kamu jauh harus menyeberangi sungai" kata Gutheng


"Kamu baik, semoga mendapatkan balasan yang sama atas kebaikanmu..." kata Sipus


"Terimakasih, kamu tahu tidak katanya di utara ada rumah tempat penangkaran burung?" kata Gutheng


"Ya. Sepertinya burung Beo, aku kenal dari suaranya" kata Sipus.


"Penghuni di situ ada berapa?" kata Gutheng


"Tidak tahu, karena waktu itu aku di dalam karung" kata Sipus


"Kenapa di dalam karung?" kata Gutheng


"Karena, aku dibawa dengan menggunakan itu" kata Sipus


"Salah apa kamu di perlakukan seperti itu?" kata Gutheng.


"Mengambil daging ayam goreng di atas meja saat manusia lengah, kemudian aku di tangkap masukkan karung" kata Sipus


"Oh.. begitu kejadiannya" kata Gutheng


"Ya.." kata Sipus


Di sisi rumah dekat kebun, Poleng sedang memperhatikan hewan kecil.


"Ayo lihat kesini!!" kata Poleng


"Ada apa?" kata Gutheng

__ADS_1


"Kamu kesini dulu!!" kata Poleng


Kemudian, Gutheng datang mendekat


"Itu lihat ada rombongan semut yang sedang bekerja sama membawa hasil buruan jangkrik" kata Poleng


"Wah.. mereka terlihat kompak" kata Gutheng.


Sipus merasa penasaran ikut mendekati.


"Ada apa?" kata Sipus


"Semut" kata Poleng


"Patut di contoh kerjasama mereka, itu yang disebut teman-teman seperjuangan" kata Gutheng


"Bukan hanya semut saja kita juga..." kata Poleng


"Betul sekali.." kata Gutheng


"kita dapat mengambil pelajaran, saling tolong-menolong maka akan menjadi mudah. selama itu dalam hal kebaikan dan tidak merugikan. karena hidup tidak mungkin sendiri pasti membutuhkan bantuan dari yang lain. Dengan mempermudah makhluk lain kita juga akan dipermudah dalam urusan" kata Poleng


Sipus memperhatikan rombongan semut berjalan hingga di bawanya masuk ke dalam lubang sarang dengan mudah.


"Gutheng waktu itu Beo kesini bawa bola pingpong. Apa sampai ke tempat kamu?" kata Poleng


"Ya.. kenapa?" kata Gutheng


"Tidak apa-apa, itu kenang-kenangan dari aku" kata Poleng


"Ya.. terimakasih" kata Gutheng.


"Ayo kita ke atas bukit lagi!!" kata Poleng


"Ya.. kamu mau ikut tidak Kuning?" kata Gutheng


"Mau!!" kata Sipus


Setelah beberapa saat sampailah di atas bukit


"Poleng kamu tahu Anggora dan Persia?" kata Gutheng


"Belum, siapa mereka?" kata Poleng


"Mereka ras kucing Turki dan Iran, mereka bertempat disana yang rumah dindingnya warna ping" kata Gutheng. sambil menoleh ke utara.


"Ya.." kata Gutheng


"Dugaanku benar karena pernah melihat Beo terbang menuju kesana, kamu dahulu tinggal dimana sebelum kesini?" kata Poleng


"Aku dahulu pernah tinggal di utara seberang sungai" kata Gutheng


"Oh, jadi kamu dari sana juga!!" Sipus terkejut


"Ya, kisahku hampir mirip kamu, tetapi aku dibawa kesini karena terancam adanya penghuni baru disana" kata Gutheng


"Apa itu?" kata Sipus


"Se-ekor anjing yang selalu mengejarku, apabila bertemu" kata Gutheng


"Kenapa?" kata Sipus


"karena, dia tidak mau daerahnya terganggu" kata Gutheng


"Tetapi semua anjing tidak seperti itu, bisa jadi dia ukurannya lebih besar dan tidak terbiasa bertemu kamu. jadi, merasa asing", kata Sipus


"Ya. memang dia lebih besar", kata Gutheng


"Coba bayangkan kalau dia lebih kecil, bisa jadi sebaliknya" kata Sipus


"Oh, betul juga" kata Gutheng sambil membayangkan kemudian tertawa "hehehe"


Kemudian, Poleng ingat belum memperkenalkan diri kepada Sipus.


"Sepertinya dari tadi kita mengobrol belum sempat kenalan, aku Poleng dan ini Gutheng. Kamu siapa namanya?" kata Poleng


"Aku Sipus" kata Sipus


"Oh,, kamu namanya Sipus, lho tadi.. kamu dipanggil kuning mau saja.." kata Poleng


"Tidak apa-apa. tetapi biasanya Sipus, kamu namanya pasti Poleng" kata Sipus


"Kok tahu!" kata Poleng


"Terlihat dari warna bulunya Poleng" kata Sipus kemudian tertawa "hehehe"

__ADS_1


"Ya benar.., Selamat datang di lingkungan ini"


kata Poleng


"Ya.." kata Sipus


Malam nanti kamu boleh menginap di sekitar rumah yang tadi atau ikut Gutheng ke Utara.


"Aku pilih dirumah yang tadi.." kata Sipus


"Oke, aku kasihan dengan kamu daripada nanti terlantar" kata Poleng.


"Terima kasih" kata Sipus


"Gutheng ayo kita latihan bertarung disini.." kata Poleng


"Ya.. tetapi dengan syarat kamu tidak boleh menggunakan senjata" kata Gutheng mencoba bercanda


"Apa yang kamu maksud?, Aku tidak membawa apa-apa..." kata Poleng


"Maksudku cakar kamu..." kata Gutheng


"Tidak, ini hanya kuku panjang. Bisa saja kamu bercanda" kata Poleng kemudian tertawa, "hehehe"


"Kita ketengah bukit dulu" kata Gutheng


"Ya.." kata Poleng


kemudian mereka berjalan ketengah dan saling berhadapan menjaga jarak.


Poleng memulai ancang-ancang..


"Bersiaplah Gutheng..."Kata Poleng


"Baiklah!!" kata Gutheng


kemudian Poleng menerkam Gutheng, dan tersungkur saling bergantian melakukan tendangan. kemudian Gutheng berdiri. Posisi poleng terkapar menghadap Gutheng kemudian dia giliran di terkam dan keduanya bergulingan. Gutheng digigit Lehernya oleh Poleng dan Guthengpun membalas Gigitannya.


"Meong !!" (Suara teriakan poleng)


Kemudian Poleng bangun dan berlari menuju Sipus yang berada disebelah utara


"Ini hanya latihan tetapi malah serius" kata Poleng dalam hati dengan rasa kecewa


"Kenapa Poleng?" kata Sipus


"Dia serius, main gigit saja..." kata Poleng


"Kenapa kamu lari Poleng!!! ini belum selesai!!" Teriak Gutheng dari kejauhan


"Aku menyerah!!!" kata Poleng


Kemudian, Gutheng menepi ke arah mereka berdua


"Kenapa menyerah?" kata Gutheng


"Badanku sakit..." kata Poleng


"Kamu berlebihan Gutheng" kata Sipus


"Berlebihan bagaimana? ini normal?" kata Gutheng


"ini hanya latihan, kamu keterlaluan... " kata Sipus


"Dia duluan yang memulai jadi aku balas" kata Gutheng.


"Tidak baik seperti itu Gut, ayo minta maaf..."kata Sipus


"Maafkan aku Poleng..." kata Gutheng


"Ya.. aku juga minta maaf" Kata Poleng


"Ya.." kata Gutheng


"Ayo kita turun!" kata Poleng


Kemudian mereka turun bukit, sesampainya di teras belakang rumah Poleng rebahan.


"Aku mau pulang dulu" kata Gutheng


"Ya, hati-hati" kata Sipus


"Temani Poleng kasihan dia" kata Gutheng


"Ya..." kata Sipus

__ADS_1


Kemudian, Gutheng beranjak pulang


Bersambung...


__ADS_2