
"Lihat siapa yang datang.." kata Gutheng.
dari arah utara terlihat Anggora berjalan menuju ke arah mereka berdua.
"Apakah itu Anggora?" kata Belang.
"Ya", kata Gutheng.
"Halo, apa kabar Gutheng?" kata Anggora.
"Baik, sudah lama aku tidak bertemu kamu. kemana saja?" kata Gutheng.
"Aku sedang dibawa ke desa lain oleh manusia, jadi tidak bisa jalan-jalan kesini untuk berkunjung" kata Anggora.
Beo terbang dari arah timur kemudian hinggap di atap rumah.
"Ada pertarungan seru ..., ayo!! kita lihat ke depan rumah" kata Beo.
"Siapa itu?" kata Anggora.
"Beo teman kita" kata Gutheng.
"Kucing itu juga teman kamu?" kata Anggora.
"Ya.." Kata Gutheng.
"Selamat datang Anggora. Namaku Belang"
kata Belang.
"Ya, senang bertemu dengan kalian" kata Anggora.
Kemudian mereka bergegas kedepan rumah mengikuti Beo terbang. Mereka terkejut, ternyata di kebun seberang jalan terjadi pertarungan sengit antara King kobra melawan Phytons hijau. Kelihatannya pertarungan ini tidak seimbang. Karena, tubuh King kobra terlilit sehingga melakukan gigitan ke arah leher Pyhtons.
"Alam liar memang seperti ini, adu kuat tidak perduli sampai berujung kematian" kata Beo yang sedang hinggap di teras. Kemudian terbang lagi hinggap di ranting pohon rambutan.
Setelah beberapa lama terjadi akhirnya mereka mati. Phytons terkena racun mematikan.
"Apa makananmu disana Anggora?" kata Gutheng
"Makanan kemasan khusus kucing" kata Anggora.
"Kamu tinggal dimana?" kata Belang.
"Aku tinggal di utara sekitar 80 meter dari sini terletak di kiri jalan dekat pertigaan dengan halaman yang luas, rumah berdinding warna pink" kata Anggora.
"Apa ada kucing lain disana?" kata Beo.
"Ada, dia kucing Persia berbulu abu-abu sedangkan aku putih, ada yang menganggap kita sama tapi sebenarnya berbeda dari bentuk tubuh dan jenis" kata Anggora.
"Kenapa kamu tidak mengajaknya kesini?" kata Gutheng.
"Tidak, dia cenderung bermalas-malasan sehingga tubuhnya gemuk" Kata Anggora.
"Kamu asli asal darimana?" kata Gutheng.
"Aku dari negara Turki" kata Anggora.
"Sedangkan Persia darimana?" kata Belang.
"Iran..." kata Anggora.
"Kenapa kamu tidak ajak dia kemari?" kata Beo.
"Tidak mau, alasannya dia akan makan, rebahan dan berjemur" kata Anggora.
"Apa kamu sudah makan" kata Beo,
"Sudah..." kata Anggora.
"Darimana negara asal manusia yang memelihara kamu?" kata Gutheng.
"Dia dari Indonesia" kata Anggora.
"Bagaimana kamu datang ke Indonesia?" kata Belang.
"Aku hanya keturunannya di beli secara online, hasil perkembangbiakkan di sini" kata Anggora.
"Belang dan Gutheng, kamu berdua posturnya berbeda dari aku. Apa kamu jenis kucing lokal asli daerah ini?" kata Anggora.
__ADS_1
"Ya, kita kucing kampung..." kata Belang.
"Bagaimana kehidupan kamu setiap hari?" kata Beo.
"Makanan terjamin, kesehatan selalu dipantau, di mandikan, mempunyai kandang" kata Anggora.
"Apa kamu terlepas dari kandang?" kata Beo.
"Tidak.., kandangku sedang dibersihkan jadi di biarkan lepas" kata Anggora.
"Apa kamu tidak takut air?" kata Belang.
" Tidak.. karena sudah terbiasa" kata Anggora.
Beo, Gutheng, Belang, dan Anggora. Asik bercengkrama di samping pohon rambutan yang rindang terletak di utara dekat rumah, sesekali semilir angin menerpa daun-daun dan bulu mereka.
"Sejak kapan kamu tinggal disini dengan yang lain?" kata Anggora.
"Saat aku merasa nyaman, belum lama kemudian terus Beo datang, setelah itu Gutheng" kata Belang.
"Apa ada kucing lain selain kamu sebelumnya?" kata Beo.
"Waktu itu, sudah ada yaitu Blirik. Dia kucing kampung" kata Belang.
"Dimana dia sekarang?" kata Beo.
"Mati karena ketidak tahuannya meminum air beracun yang tergenang di samping sumur, setelah beberapa hari tidak terlihat bangkainya di temukan agak jauh di kebun kopi samping rumah dengan kondisi mengenaskan telah membusuk di kerumuni belatung, dia mengeluh sakit perut dan pusing sebelum kematiannya" kata Belang.
"Apa dia mempunyai keturunan?" kata Gutheng.
"Tidak.." kata Belang.
"Gutheng apa masih ingat tentang janjiku kepadamu?" kata Anggora.
"hehehe.. janji apa ya?" kata Gutheng, sambil bercanda pura-pura lupa.
"Itu lho.. aku akan latihan bersama kamu disini" kata Anggora.
"Oh.. aku ingat" kata Gutheng.
"Kapan mulai latihan?" kata Anggora.
Kemudian Gutheng berjalan ke arah Barat menuju belakang rumah.
"Ayo.. ikuti aku Anggora, yang lain bisa menonton dari pinggir" kata Gutheng.
"Oke !!.." kata Anggora dengan nada semangat.
"Apa kamu sudah siap Anggora!!..ayo, panjat tiang rumah itu, sedangkan aku akan memanjat pohon pisang" kata Gutheng.
Merekapun melakukan ancang-ancang berlari cepat. Di dahului dengan Anggora dengan lincahnya dia mampu memanjat hampir sampai atap.
"Bagaimana ini turunnya tinggi sekali..." kata Anggora.
"Tenang, turun pelan-pelan" kata Belang mencoba menenangkan.
Giliran Gutheng memanjat,
"Krosak...krosak.. krosak.." suara kaki menapaki pohon
Dengan cepat dan lincah kuku cakarnya menancap batang pohon dengan kuat kemudian turun lagi. Ini mereka berdua lakukan selama beberapa kali bergantian objek yang di panjat. Di pinggir para hewan lain hanya memperhatikan.
Hari sudah menjelang sore, tampaknya mereka berdua sudah terlihat lelah.
"Sudah cukup.. aku lelah istirahat dulu" kata Gutheng
"Ya ... sudah, aku akan pulang, di lain waktu kita latihan lagi" kata Anggora.
"Silakan... jangan bosan mampir kesini, jika ingin latihan lagi atau sekedar jalan-jalan" kata Gutheng.
Anggora bergegas pulang ke Utara, Sesampainya di rumah. Dia sudah di nanti manusia kemudian di bopong masukkan ke kandang.
"Kemana saja kamu?" Kata Persia.
Dengan memasang wajah heran
"Aku dari selatan" kata Anggora
"Kamu sedang apa disana?" kata Persia.
__ADS_1
"Aku berlatih bersama, untuk meningkatkan kekuatan otot kaki" kata Anggora dengan nada datar seakan tidak memperhatikan karena dia lelah ingin istirahat.
"Sudah.. besok saja ceritanya aku lelah".
Ke esok-kan harinya dia melanjutkan cerita yang di alaminya kemarin.
"Jadi begini,
(Anggora menceritakan yang terjadi).
"Asik juga kedengarannya..." kata Persia.
"Memang.." kata Anggora.
Setelah mendengarkan cerita itu, Persia tertarik untuk ikut berlatih di Selatan tempat Gutheng dan teman lainnya berada.
"Kapan-kapan kalau ada waktu kita kesana" Kata Persia.
"Kamu juga ingin ikut latihan?" kata Anggora.
"Ya.. agar tubuhku ini sehat dan kuat" kata Persia.
Kemudian seorang manusia mendatangi mereka membopong dan memandikan secara bergantian.
"Segar..." kata Anggora.
kemudian bulu mereka di keringkan. Setelah itu di lepaskan di teras samping rumah yang berpagar. seorang manusia membawa
makanan datang dan di letakkan di samping pintu sambil memperhatikan mereka makan. Setelah habis, wadahnya di ambil lalu di tutup pintunya dengan rapat.
"Kita tidak bisa jalan-jalan keluar" kata Persia
"Panjat saja pagar itu?" kata Anggora
"Aku tidak bisa tubuhku terasa berat kalau harus melaluinya" kata Persia
"Kamu harus sering mengerakkan tubuh, coba sekarang dengan cara lari-lari kesana kemari lalu berguling-berguling dan menggeliat" kata Anggora.
"Ya, akan aku lakukan" kata Persia
Persia melakukan itu beberapa kali terlihat sudah ngos-ngosan.
"Bagus.. harus rutin, minimal satu kali dalam sehari agar lemak di badan kamu berkurang" kata Anggora.
"Ya.." kata Persia.
"Jadi, kucing jantan itu harus kuat. Jangan lembek seperti itu", kata Anggora.
"Wah.. kamu menghina" kata Persia.
"Ini untuk kebaikan kamu, agar menjadi kucing tangguh. Maafkan, apabila menyinggung perasaan.." kata Anggora.
Persia merenung sebentar,
"Ya..., terima kasih atas perhatiannya.." kata Persia.
Sudah ada 7 hari Persia melatih otot-ototnya. Pagi itu hari ke 8 dia mencoba kemampuanya
"Aku akan coba memanjat pagar itu" kata Persia
Dia melakukan ancang-ancang berlari lalu melompat.
namun lompatannya masih gagal, kaki depannya belum sampai ke ujung pagar yang terbuat dari besi.
"Tinggal sedikit lagi" batin Persia.
Hari ke 10
"Kali ini aku tidak akan gagal lagi"
Dia berhasil memanjat dan keluar,
"Ayo gilaran kamu Anggora" kata Persia.
"Ya.. " kata Anggora.
Diapun langsung berhasil memanjat lalu turun. kondisi pagi itu rumah sedang kosong di tinggal penghuninya karena bekerja dan sekolah.
Bersambung...
__ADS_1