Gutheng

Gutheng
Gutheng 2. Di Kota Putih#1


__ADS_3

Gutheng sekarang berada di tengah kota Putih yang semua cat dinding rumahnya dominan putih, dia begitu terlihat menonjol ketika berada di sana. Manusia di sana mempunyai pola hidup bersih hingga tidak ada sampah yang berserakan bahkan sungai pun terlihat jernih dan terjaga dalam kondisi alami. Gutheng sering menggunakan kekuatannya untuk mengelilingi kota tersebut. Dia menggunakan kemampuan kecepatannya saat manusia tidak melihatnya.


"Sudah lama aku di sini, Beo mencariku tidak ya..," batin Gutheng. Sebenarnya Gutheng tidak tega meninggalkan Beo sendirian tetapi karena asiknya dia di tempat tersebut sehingga tidak memperdulikannya.


Gutheng sedang mendekam di kursi yang menghadap ke sungai yang jernih sambil mengamati alirannya dan terlihat ikan kecil-kecil yang sedang berenang dengan lincah.


"Sudah beberapa bulan ini di kota. Aku kira sekarang dia sudah pulang ke selatan" ujar Gutheng. Sebab dari Gutheng menyukai tempat tersebut karena beda dari Desa Kelelawar yang Beo di sana di tinggal pergi.


"Hem..., aku harus segera kembali ke Desa Kelelawar," batin Gutheng.


Beberapa saat kemudian, dia sudah sampai ke tempat tersebut.


"Suasana di sini memang unik ada pohon yang banyak kelelawar berukuran besar bergelantungan dan berterbangan disekitarnya" batin Gutheng.


Kemudian, dia mengingat kembali saat kecilnya dahulu bertahan hidup di kota putih yang berpolusi karena sampah tetapi sekarang keadaan sudah berubah dan Ini merupakan hal yang baik bagi alam agar tetap terjaga.


"Sekarang begitu, aku jadi betah tinggal di kota Putih...," batin Gutheng.


Kemudian, dia berubah pikiran yang tadinya tidak memperdulikan Beo. Sekarang dia menjadi khawatir dengan keadaannya.


"Aku harus segera pulang ke selatan...", batin Gutheng. Kemudian, dia bergegas pergi kesana.

__ADS_1


Sebelum menyeberangi sungai terlihat jembatan gantung sudah putus terkena terjangan banjir kemarin sore.


"Wah, Bagaimana ini?," batin Gutheng.


Gutheng mengurungkan niat untuk pergi ke selatan dan kembali lagi ke utara di Desa Kelelawar.


Hari sudah akan menjelang malam, Gutheng mencari tempat untuk beristirahat.


"Malam ini aku harus mencari tempat untuk tidur disini," batin Gutheng.


Terlihat ada tempat kosong disamping warung ada meja, kursi dan keset dengan lantainya yang sudah berkeramik. Diatas meja terdapat kardus kosong. Kemudian, Gutheng naik ke kursi lalu ke meja dan masuk ke dalam kardus.


"Nah, kalau begini lumayan hangat. Semoga aku besok bisa melewati sungai itu...," batin Gutheng.


Disisi lain, anjing yang menjadi anak buah Biawak mengetahui keberadaan Gutheng disitu tetapi dia membiarkan saja.


"Gutheng dia disana sendirian. Apa yang dia lakukan disini?," batin anjing yang mengamati dari kejauhan.


Anjing itu pun pergi dari tempat tersebut untuk menemui biawak.


"Aku tadi melihat Gutheng disamping warung...," kata Anjing.

__ADS_1


"Apa benar?," kata Biawak.


"Ya," kata Anjing.


"Oke, aku akan segera kesana!," kata biawak.


"Jangan, biarkan dia beristirahat dulu, kita akan menghajar dia besok...," kata anjing.


"Baik, kita tidur dulu sekarang...," kata Biawak.


Ke esokan harinya dua makhluk tersebut mendatangi tempat Gutheng berada tetapi dia sudah tidak di tempat.


"Sepertinya dia sudah mengetahui keberadaan kita...," kata Biawak.


"Mungkin saja...," kata Anjing.


Sementara itu Gutheng sedang berlari menuju sungai tetapi dia tidak mengetahui ancaman dari dua makhluk tersebut.


"Aku harus menyusuri pinggir sungai ini, semoga saja ada jembatan yang masih utuh," batin Gutheng.


Dia menyusurinya ke arah timur. Beberapa saat kemudian akhirnya dia melihat ada batang pohon yang sudah tumbang ke sungai sehingga bisa dilewati olehnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2