Gutheng

Gutheng
Gutheng 2. Gutheng Dalam Masalah#2


__ADS_3

Gutheng baru saja sampai di seberang selatan sungai. Tiba-tiba muncul dua Biawak dari semak-semak.


"Kurangajar !!, baru saja aku sampai di sini, sudah ada mereka berdua," batin Gutheng.


Gutheng melangkah secara hati-hati untuk bersiap lari.


"Kenapa kamu?," kata salah satu Biawak.


"Tidak, hanya ingin lewat saja..," kata Gutheng.


"Silakan lewat," kata Biawak.


"Ya..," kata Gutheng.


Gutheng segera bergegas pergi dari tempat tersebut. Tetapi, setelah pergi tidak jauh dari situ dia kakinya terkena jebakan Biawak yang dipasang oleh manusia.


"Aduh !!, Bagaimana ini?, sulit lepas kalau begini!!," batin Gutheng.


Beberapa saat kemudian, manusia itu datang dan membawanya ke rumah. Ternyata dia pemilik penangkaran burung. Kemudian, Gutheng dimasukkan dalam kandang.


"Aduh!!, jadi, masuk dalam kandang begini!!," batin Gutheng.


Dia memikirkan cara untuk kabur dari tempat tersebut dan munculah ide brilian.


"Oke, jangan panik. Aku harus tenang dan bisa melewati masalah. Untuk malam ini di sini dulu kalau ada kesempatan kabur, aku akan lakukan...," batin Gutheng.


Terlihat disamping lain kandang ada biawak yang telah tertangkap.


"Apa biawak ini yang menjadi musuhku waktu itu?" batin Gutheng sambil mengamati.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat?, Apa ada yang aneh?," tanya Biawak.


"Tidak, hanya kamu mirip dengan makhluk yang pernah aku lihat" jawab Gutheng


"Siapa dia yang kamu maksud?," kata Biawak.


"Biawak tetapi sepertinya kamu bukan dia...," kata Gutheng.


"Apa dia pernah berbuat sesuatu yang membahayakan terhadapmu?," kata Biawak.


"Tidak...," kata Gutheng.


Gutheng mempertimbangkan untuk tidak menceritakan masalah itu kepadanya.


"Lebih baik aku rahasiakan saja, Aku khawatir kalau biawak tersebut masih satu keturunan dengan dia," batin Gutheng.


"krik, krik, krik, krik"


"Nguk-nguk, Nguk-nguk"


Terdengar gemuruh air hujan yang mengenai daun-daun disekitar rumah tersebut. Gutheng merasa penasaran dengan yang akan terjadi pada biawak- biawak di sini sehingga dia mencoba bertanya kembali.


"Kamu berada di sini sudah berapa lama?," tanya Gutheng.


"Sudah ada dua hari...," jawab Biawak.


"Apa yang akan dilakukan manusia tersebut terhadap teman-temanmu sebelumnya?," tanya Gutheng.


"Dia menjadikan konsumsi untuk obat," kata Biawak.

__ADS_1


"Wah gawat!!," kata Gutheng.


"Ya, memang tetapi aku sudah pasrah tentang hal itu. Kemungkinan kamu masih aman...," kata Biawak.


Dengan adanya penangkapan tersebut menjadi kabar baik bagi Gutheng meskipun ada potensi ancaman dari Biawak lain yang masih berkeliaran.


"Apa benar yang kamu katakan?," tanya Gutheng.


"Ya, karena kucing tidak akan dibunuh untuk dijadikan obat..," jawab Biawak.


"Tetapi, aku baru pernah mengetahui ini kalau dagingmu bisa jadi obat. Memangnya untuk menyembuhkan penyakit apa?," kata Gutheng.


"Aku tidak tahu...," kata Biawak.


"Apa kamu merasakan dingin?," kata Gutheng.


"Ya, agak terasa. Aku hidup biasanya di lubang tanah dekat sungai, lebih dingin dari ini," kata Biawak.


Malam ini terasa dingin bagi Gutheng, karena dia tidak tidur beralaskan kardus tetapi hanya rangkaian besi kandang yang menjadi alasnya.


Sedangkan di tempat lain seberang sungai sebelah utara Biawak yang menjadi musuh Gutheng sedang di dalam sarang.


"Hujan malam ini cukup deras, semoga sarangku tidak kebanjiran," batin Biawak.


Anak buah biawak yaitu anjing, sedang berteduh di bawah gubuk tempat meletakkan kayu bakar yang tidak jauh dari sarangnya.


Suara petir menggelegar pada malam itu tetapi mereka hanya terganggu sebentar dan melanjutkan tidurnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2