
30 menit kemudian, makanan sudah siap. Maid sudah menghidangkan nasi goreng itu, ke atas meja makan. "Silah kan tuan, selamat menikmati." Ujar kepala pelayan tersenyum ramah.
"Wah.. Terima kasih, bi." Ujar Radit tersenyum ramah.
Selesai makan, Radit segera kembali ke kamar nya. Ia segera kembali ke kamar nya, untuk mengecek handpone nya. Sesampai nya di kamar, ia segera mencari handpone nya. Seingat nya ia letakan di meja kecil dekat tempat tidur, tapi sudah tidak ada. Dan akhir nya, benda pipih itu ketemu di atas ranjang.
Radit segera mengecek dan di lihat nya, banyak pemberitauan panggilan tak terjawab. Juga banyak nya pesan dari aplikasi hijau, atau dari pemberitauan pesan seluler. Radit membaca satu per satu pesan tersebut, dan dari deretan list pesan terdapat nama Kartik.
'Wah.. Ada apa nih, mama nya si kembar mengirim pesan begitu banyak.' Ucap Radit dalam hati.
Radit mendahulukan membuka pesan dari Kartik, pesan itu di antara nya:
-Mas bisa temuin aku di depan Rumah sakit Sej*htera.
-Anak-anak sakit, mereka butuh transfusi darah.
- Darah aku tidak cocok dengan mereka, jadi aku mohon sama kamu. Untuk memberikan darah mu untuk mereka.
- Mas... Mas, tolong balas cepat pesan ini.
Begitu kurang lebih pesan yang di kirim kan Kartik, pada Radit 2 jam lalu. Setelah membaca pesan tersebut, perasaan Radit mencelos begitu saja.
Ia begitu menyesal, mengapa tadi handpone nya di silent. Tak menunggu waktu lama Radit segera bersiap, untuk menuju ke rumah sakit sejahtera. Di lantai bawah, ia bertemu dengan bu Risa.
"Dit, mau kemana sudah rapi?" Tanya bu Risa tersenyum.
"Ini Mam, aku mau ke rumah sakit sejahtera. Si kembar sakit dan butuh transfusi darah." Ujar Raditya tersenyum.
"Loh si kembar yang sakit, kamu yang repot sih Dit?" Tanya ibu Risa penasaran.
"Lah memang Mam belum di beri tau oleh Papa, kalo si kembar anak aku?" tanya Radit kembali.
"Apa maksud kamu, kalo Si kembar itu anak kamu dan berarti mereka juga cucu mama?" Ucap bu Risa terkejut.
__ADS_1
"Iya Mam, Tika adalah wanita itu. Wanita yang dulu pernah, aku tiduri secara tidak sengaja." Ujar Radit sedikit menjelaskan.
"Ya sudah kalo begitu, Mama ikut kamu ke rumah sakit. Darah mama kan sama dengan darah mu, siapa tau si kembar membutuhkan nya." Ujar bu Risa.
"Baik lah, ayo kita berangkat. Kasihan kalo mereka menunggu lama." Ajak Radit tersenyum tipis.
Mereka pergi dengan terburu-buru, menuju rumah sakit. Sesampai nya di sana, Radit menuju Resipsionis untuk menanyakan di mana kamar mereka.
"Permisi bu. Sapa Radit pada Suster penjaga resepsionis.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster yang berjaga di Resepsionis.
"Maf bu boleh tau, di mana kamar atas nama Yusuf Ratik Alfarez (Farez) dan Yustika Putria Alfarez (Arezia)?" Tanya Radit tersenyum ramah.
Baik mohon tunggu sebentar, saya cari dulu. Ujar suster yang berjaga di resepsionis
"Baik tolong jangan lama-lama ya, Sus." Ujar Bu Risa tersenyum ramah.
Tidak lama kemudian, suster memberitaukan berapa nomer kamar dan ruangan nya.
"Baik Sus, terima kasih." Ujar Radit.
"Sama-sama." Ujar Suster tersenyum ramah.
Mereka berjalan ke kamar yang tadi di beritaukan kepada mereka. Di depan kamar, Radit melihat Kartik yang sedang menangis tersedu.
Radit dan bu Risa, segera menghampiri Kartik yang sedang menangis. Bu Risa, segera memeluk Kartik dan menenangkan nya. "Sudah tidak papa, semua pasti akan baik-baik saja. Percaya sama ibu." Ucap Bu Risa menenangkan. Kartik, menganggukan kepala nya tanda mengerti.
"Sekarang, bagaimana keadaan si kembar?" Tanya Radit tidak sabaran menunggu jawaban dari Kartik.
"Alhamdulilah sekarang sudah agak turun panas nya, namun trombosit baby Arezia menurun. Ia membutuh kan transfusi darah, dan darah aku tidak cocok dengan nya." Ujar Kartik kembali tersedu.
Radit dan ibu segera mengecek golongan darah nya, untuk mencocokan nya dengan darah baby Arezia. Dan Alhamdulilah darah mereka cocok, namun Radit tidak di perbolehkan menjadi donor darah. Alasan nya, Karena Radit baru saja sembuh dari sakit.
__ADS_1
Golongan darah baby Farez dan baby Arezia termasuk langka, hanya beberapa ratus orang di dunia. Sudah hampir 4 jam pihak rumah sakit mencari golongan darah tersebut, namun nihil.
Dan baru 1 jam yang lalu, mereka menemukan nya di rumah sakit internasional. Dokter memperingat kan, kalau keadaan baby Arezia belum sepenuh nya melewati masa kritis. Mereka harus berjaga-jaga, dan harus ada stok darah yang sama dengan pasien.
Sore hari nya demam baby Farez kembali naik, ia juga membutuhkan transfusi darah. Beruntung bu Risa bisa mendonorkan darah nya, untuk si kembar. Dan benar saja setelah baby Arezia, sekarang baby Farez yang membutuh kan nya.
Mereka di sana sampai sore hari, pukul 4 sore mereka pulang dan akan kembali pukul 9 malam. Sedang sehabis maghrib, paman Reno dam bibi Rita baru datang menjenguk. Mereka membawa makanan, untuk makan malam Kartik.
Mereka baru datang menjenguk, bibi Rita beliau baru pulang liburan dari bali bersama teman arisan nya. Sedang Paman Reno, beliau mengurusi urusan di kantor. Sesampai nya di rumah sakit, paman dan bibi segera memeluk Kartik.
"Sayang makan dulu yuk, kamu pasti dari siang belum makan kan?" Tanya Bibi Rita.
Kartik hanya menggelengkan kepala nya dan berkata. "Aku tidak lapar, Bi." ucap Kartik sendu.
"Jangan begitu, sayang. Kamu tidak kasihan, kalo nanti mereka sembuh malah gantian kamu yang sakit." Ujar bibi Rita membujuk.
Kartik berpikir sejenak, tidak lama kemudian Kartik mau memakan-makanan nya walo cuma sedikit. Pahit yang di rasa, makanan saja hampir tidak tertelan sama sekali.
Sekitar pukul 8.30 malam bibi Rita dan paman Reno, pulang ke rumah nya. Setelah mereka pulang, Radit baru datang dengan membawa camilan berupa martabak manis sama jus alpukat.
Bagaimana keadaan si kembar, Tik? Tanya Radit tersenyum tipis.
"Tadi baby Farez sempet coleps dan ia juga membutuh kan transfusi darah. Beruntung tadi ada dari tante Risa, jadi baby langsung bisa di tangani." Ujar Kartik sendu.
"Anak Coleps, kamu tidak menghubungi ku?" Tanya Radit sedikit emosi.
"Aku sudah menghubungimu, namun tidak kamu angkat. Beruntung tadi ada paman Reno dan bibi Rita, mereka yang menenangkan aku." Ucap Kartik sendu.
Radit mengecek handpon nya dan benar saja, di situ ada sekitar 5 panggilan tak terjawab. Radit menghela nafas, ia segera meminta maaf pada Kartik.
Bersambung...
Terima kasih atas semua dukungan nya, untuk karya receh ini semoga pembaca semua suka dengan alur cerita nya
__ADS_1
Mohon dukungannya untuk karya ini dengan cara like, comment, shere, vote dan gifh berupa bunga bermekaran atau Secangkir Kopi manis.