
Setelah menempuh perjalanan panjang Akbar sampai di lokasi yang di kirim Mutia.tak sabar bertemu istrinya dia turun tergesa-gesa.
Sebuah rumah sederhana dengan banyak tanaman hias di depannya Akbar melangkah masuk ke halaman rumah yang kecil.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum " Akbar dengan sopan mengetuk rumah itu, ia merasa ini bukan rumah penculiknya tapi rumah orang yang meyelamatkan istrinya
"Waalaikumsallam " terdengar suara dari dalam rumah tak lama pintu terbuka seorang nenek-nenek menghampirinya..
"Maaf ada perlu apa nak" sapanya ramah
"Saya Akbar nek, suami Mutia istri saya mengirimkan alamat rumah ini kepada saya" ujar Akbar menjelaskan
"Den Akbar, ini den Akbar ? " Nenek terkejut di raihnya wajah Akbar dan merabanya
"iya nek ini Akbar ,maaf apa saya bisa bertemu Mutia istri saya" berujar menahan geli karena sentuhan tangan keriput nenek di wajahnya
"iya den, silahkan masuk Mutia sedang istrirahat di kamar " berhenti menyentuh wajah Akbar dan mempersilahkan Akbar masuk, mengantar ke kamar yang di tempati Mutia
"Masuk den, istri mu tertidur kecapean menunggu mu datang" seutas senyum tergambar di wajah tua yang penuh kerutan
Akbar melangkah masuk dan berjongkok di tepian kasur tempat istrinya berbaring
di pandanginya wajah damai dari wanita yang saat ini sudah sangat ia cintai.
Mutia mengkerjapkan matanya saat ia merasakan sentuhan di wajahnya..mencoba membuka matanya dan kaget saat membuka mata pandangan matanya tertuju oleh sosok yang ia rindukan
"Sayang kamu sudah datang" mencoba duduk agak kesusahan karena perut yang sudah mulai membuncit
"Iya sayang aku datang untuk menjemputmu pulang " membantu istriny bangun dan duduk di sebelah istrinya memeluk erat istri tercintanya
Nenek Rohmah tersenyum bahagia melihatnya, dia mengurungkan niat untuk mengantar minuman ke dalam saat melihat dua pasang insan yang sedang melepas rindu..
"kamu kenapa bisa pulang, bukannya kamu bilang tiga hari" protes Mutia
"gimana aku akan tenang sementara istri dan anakku dalam keadaan bahaya" membelai pipi Mutia
"Aku dan anak kita baik-baik saja sayang, Alhamdulillah nenek Rohmah menolongku" ia bangun dan teringat nenek Rohmah
"Apa tadi kamu sudah bertemu nenek sayang " tanyanya
"Sudah siapa nenek itu,sepertinya aku mengenalnya " Akbar merasa tak asing dengan nenek Rohmah apalagi saat nenek memanggil den Akbar pastinya nenek kenal dekat dengan keluarganya.
__ADS_1
Mutia menggandeng Akbar keluar kamar untuk bertemu dengan nenek
Nenek sedang berada di teras mengantarkan minumam dan cemilan untuk anak buah pak Rajasa yang datang bersama Akbar..
"Nenek, nenek di mana ?" terdengar panggilan lembut dari dalam rumah
"Nenek di luar Nak " jawab nenek yang berusaha bangkit dari duduknya..
"Nek gak usah berdiri, nenek duduk aja " Mutia berjalan mendekat ke arah nenek
"kamu sudah enakkan ? " tanya nenek menghawatirkan keadaan Mutia
"Mutia udah enakan nek sepertinya anak ini tau ayahnya sudah datang " mengelus perut buncitnya dan melirik ke Akbar
satu jam lalu Mutia merasa sakit di bawah perutnya dan memilih tidur untuk mengurangi rasa sakitnya.
"den Akbar apa kabar den ?"sapa nenek
"Baik, maaf apa sebelumnya saya pernah bertemu nenek ?" tanya Akbar menyalami nenek Rohmah
"Dulu sering den,waktu nenek masih menjadi pengasuh Olivia " ujarnya pelan
"jadi nenek pengasuh Olivia ? " Akbar nampak terkejut ada kilatan amarah di matanya
Mutia langsung memeluk Akbar dan menenangkan dia tau suaminya pasti akan tersulut emosi saat mendengar nama Olivia
Nenek memulai cerita awal saat anak angkatnya menitipkan Mutia dan meminta nenek untuk membawa Mutia tinggal bersamanya,tapi nenek berubah pikiran saat melihat kondisi perut Mutia dan bertekad untuk memulangkan Mutia ke keluarganya yang ternyata pilihan nenek tepat.
"Mutia sudah menyimpan bukti ponsel yang berisikan percakapan penculikan ini den " ujar nenek menutup ceritanya
"sebentar sayang " Mutia masuk kedalam kamar dan kembali dengan sebuah ponsel yang dia gunakan untuk menghubungi Ayah.karena ponsel dia tak tau kemana
"kurang ajar Olivia kali ini tak akan aku biarkan " Akbar meremas ponsel, setelah membaca isi pesan antara Olivia dan pemilik ponsel yang merupakan ibu kandungnya..
Rahangnya mengeras,matanya merah penuh amarah, di berikan ponsel tersebut ke Anak buah papa Rajasa "Kalian urus ini semua " titahnya
"Nek terimakasih sudah menolong dan menjaga istri dan anak saya, demi keamanan nenek sementara ikutlah pulang bersama kami " ujar Akbar pelan berjongkok di hadapan nenek
"jangan begini den, nenek tidak apa-apa nenek juga sudah tau den insyaAllah nenek aman di sini " merasa tak enak
" Nek ikutlah pulang bersama Mutia nek, Mutia akan merasa tenang kalo nenek saat ini bersama Mutia " dengan wajah memelas Mutia memohon kepada nenek
" Sampe Olivia dan orangtuanya tertangkap nek " ujar Mutia
__ADS_1
Nenek menghembuskan nafasnya sejenak berfikir
" Baiklah nak, "ujarnya..
Akbar dan Mutia bersyukur nenek Rohmah mau ikut bagaimana pun juga mereka berhutang budi kepada nenek.
Setelah bersiap-siap mereka berangkat pulang ke jakarta
____________________________________
Sementara itu Olivia tengah bersantai, ia cukup puas dengan kabar yang di berikan oleh orang tuanya, dia bisa lepas dari tuduhan karena saat penculikan dia sudah kembali.
Dia tak mengetahui jika Akbar telah kembali dan keluarga Rajasa juga menutup informasi ini sampai ada bukti kuat.
Kedua orangtua Olivia saat ini sedang menikmati liburan di luar negri dari hasil uang penculikan yang di berikan Olivia, dan tak menyadari jika ponsel sang istri tertinggal.
Setelah menerima bukti dari ponsel yang di berikan Akbar anak buah pak Rajasa langsung bergerak membuat laporan dan melacak kebaradaan tersangka yang terlibat..
Saat tengah bersantai di kamarnya tiba-tiba Olivia di kagetkan dengan kedatangan asisten rumah tangganya yang tanpa permisi langsung masuk dan menginfokan ada polisi menunggu di bawah
"apaa Polisi ?mau apa mereka " tanya Olivia kaget
"gak tau non mereka ingin bertemu non " ujar asisten rumah tangga gugup
Olivia bergegas berjalan keluar menemui polisi dia berfikir mungkin polisi akan bertanya soal penculikan Mutia kepadanya karena dia berada paling terakhir bersama Mutia
" Selamat siang Ibu Olivia, kami membawa surat penangkapan anda " ujar salah satu polisi
"Apa penangkapan apa maksudnya pak " tanya Olivia mukanya sudah pucat
"Kasus penculikan yang ada rancang, silahkan ikut kami anda dapat mejelaskannya di kantor polisi " dua orang polisi wanita mendekat untuk menahan Olivia
"apa-apaan ini, tunggu pak saya harus menghubungi orangtau saya " ujarnya setengah memberontak
"Nanti bisa anda hubungi di kantor polisi " kedua polisi wanita menggiring Olivia keluar rumah
" Bi tolong bilang ke mama bi " ujar Olivia setengah berteriak kepada asisten rumah tangganya.
"baik non " bibi yang setengah berlari keluar menyaksikan nona mudanya di bawa polisi hanya bisa terdiam.
"Sial..bahkan aku gak bisa menghubungi kedua orangtua sialan itu, " gerutu Olivia dalam hati..
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Kapok loh Olivia makanya baik-baik jadi anak hehe
jangan lupa like dan vote ya kakak πππ₯°