
Caesa menghempas kasar tangan Arga setelah membawa pria itu menjauh dari Merlin yang marah besar setelah Arga ikut campur dalam pembicaraannya.
"Seharusnya kau tidak udah ikut campur! Kau hanya sebatas suami kontrak...dan sopir!" bentak Caesa dengan napas memburu.
Dada wanita itu bergemuruh menatap suaminya yang menampilkan wajah datar.
"Saya hanya mengatakan fakta. Dan kau seperti wanita bodoh yang diam saja saat wanita tua bangka itu mengatakan hal yang merendahkanmu." Kini, Arga membalas ucapan Caesa dengan ucapan yang terdengar panas di telinga.
"Kau___"
"Sampai kapan harga dirimu akan terus diinjak-injak olehnya? Apalagi kau dianggap mandul olehnya. Lebih baik berkata jujur dibanding hanya diam saja mendengar ucapannya tentang kekuranganmu yang sebenarnya tidak ada," sela Arga memotong ucapan Caesa.
"Cukup! Kau sudah terlalu mencampuri urusan pribadiku. Ini pilihanku dan tidak ada hubungannya dengan mu. Aku tidak peduli mommy ingin mengatakan apapun tentang diriku yang penting aku tetap bersama Alex."
Arga tertawa mendengar ucapan wanita itu. Seolah Caesa baru saja mengatakan sebuah lelucon.
"Kau terlalu dibutakan oleh cinta. Semoga saja kau cepat sadar." Arga mengusap pipi Caesa yang langsung menepis kasar tangan suaminya.
Wanita itu mendengus marah.
•
•
Di hutan yang diselimuti kegelapan malam dan suara-suara hewan malam menghiasi kesunyian, terlihat sebuah mansion besar berdiri kokoh di dalamnya. Ada banyak penjaga yang berdiri di area mansion tersebut, berjaga-jaga bila ada menyusup masuk ke dalam mansion megah di dalam hutan tersebut. Suara geramam singa terdengar jelas di dalam mansion tersebut.
"Kapan kau menetap lagi di sini dan tidak terus menyamar menjadi sopir di tempat itu?" tanya Hendrik, menatap Andreas yang mengisap rokok dengan ditemani secangkir anggur merah.
__ADS_1
Keduanya tengah duduk di dekat meja pantry. Dan terlihat ada beberapa pelayan yang mondar-mandir mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
"Aku masih menikmati peran ku di sana. Setelah kurasa semuanya selesai aku akan kembali."
"Apa enaknya di sana? Kau hanya dijadikan seorang babu di sana. Apa kau lupa pekerjaanmu di sini sudah sangat menumpuk. Dan tidak mungkin aku selalu menggantikan dirimu untuk mengurus semuanya."
Andreas menoleh ke arah Hendrik yang memberengut kesal. Seharian Ia sibuk meng-handle semua pekerjaan, sedangkan Andreas sibuk dengan hal yang tak berguna tersebut.
"Tunggu saja sebenar lagi, setelah wanita itu hamil__"
"Apa yang kau maksud setelah wanita itu hamil?" Hendrik langsung memotong ucapan Andreas dengan kening berkerut, bingung. Ia tidak pernah tahu alasan Andreas tetap berada di sana.
Andreas menyatukan kedua tangannya yang kini menyanggah dagunya. Sebuah senyuman muncul di wajah tampan pria itu.
"Kau tidak perlu tahu, yang penting aku menikmati peran ku sekarang. Aku tidak yakin wanita itu akan rela bila harus berpisah dariku."
"Terserah kau saja ingin bicara apa, yang penting kau harus turun tangan mengatasi perusahaan yang hampir dua tahun kau tinggalkan. Dan juga kau harus ingat, polisi masih melacak keberadaanmu."
Andreas memutar bola matanya malas. Rasanya kupingnya pengang bila terus membahas tentang polisi.
"Apa tidak ada pembahasan lain?" ucap Andreas menatap jengah tangan kanannya yang terus bicara.
"Ada," balas Hendrik." Tuan Roberto ingin bertemu denganmu. Sudah beberapa kali kau membatalkan pertemuan dengannya."
"Atur saja jam pertemuannya." Andreas menggerakkan tangannya pada Hendrik yang berdecih.
Pria itu kembali menegak anggur merahnya. Andreas kembali tersenyum ketika bayangan wajah Caesa kembali muncul. Sepertinya Ia sudah gila karna terus memikirkan wanita itu.
__ADS_1
"Apa wajahmu tidak rusak menggunakan ini terus?" Hendrik memperlihatkan botol kecil di tangannya sekarang.
"Kembalikan!" Andreas langsung merampas benda kecil tersebut dari tangan Hendrik."Jangan pernah menyentuh benda ini!"
•
•
Arga melirik kaca spion dalam, melihat Caesa yang baru saja memasuki mobil dan sengaja duduk di jok belakang. Wanita itu membawa sebuket bunga mawar putih, aroma bunga itu menguar dalam mobil tersebut.
"Cepat jalankan mobilnya, kita harus menjemput Alex," titah Caesa memerintah.
Arga sudah memicingkan matanya dengan hati yang bergemuruh. Meskipun begitu, Ia tetap menjalankan mobilnya meninggalkan area toko bunga tersebut.
"Bagaimana penampilan ku sekarang, apa sudah cantik?" tanya Caesa meminta pendapat suaminya.
"Hmm..."
Wanita itu semakin mengembangkan senyumannya meski Arga hanya menjawab dengan dehemannya.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)