
Mata yang masih belum terbuka sempurna dan rasa kantuk yang masih mendera, Caesa menuruni anak tangga menuju ke meja makan. Meski sudah disediakan lift wanita itu tetap saja melewati tangga. Mata Caesa langsung di suguhkan oleh para pelayan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mansion ini sangat besar dan membutuhkan belasan orang untuk membersihkannya.
"Selamat pagi Nona Caesa. Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu pelayan menghampiri Caesa yang tampak mencari-cari sesuatu.
Caesa menggeleng."Di mana Arga?"
Pasalnya saat Ia terbangun dari tidur suaminya sudah tidak ada di sampingnya dan itu yang membuatnya turun ke lantai bawah ini.
"Tuan Andreas sudah pergi setengah jam lalu Nona. Dan kemungkinan akan kembali lagi ke mansion malam nanti."
Caesa mendengar itu melengkungkan bibirnya ke bawah. Tanpa mengucapkan apapun Ia berbalik badan dan kembali melangkah menuju ke anak tangga.
"Apa Nona Caesa ingin makan sesuatu? Tuan sudah berpesan untuk memberikan makanan apapun yang Nona inginkan," ucap pelayan tersebut kembali menghampiri Caesa.
Wanita itu terdiam sejenak memikirkan makanan yang saat ini yang Ia inginkan.
"Kau buatkan saja aku soup jagung. Saat ini aku menginginkan itu."
"Baiklah, akan saya buatkan."
•
•
Setelah selesai dengan sarapan paginya Caesa tampak duduk termenung di ruang makan itu. Menatap jam dinding yang cukup besar tertempel di tembok. Jam masih menunjukkan pukul 09: 00 pagi. Dan Arga masih lama kembali pulang. Rasanya sangat bosan bila mendekam dalam mansion yang besar ini tapi tidak boleh memasuki tempat-tempat yang sudah dilarang suaminya. Tadi malam Arga sudah memperingatkan dirinya untuk tidak masuk ke dalam ruangan yang sudah diberikan tanda silang merah, entah apa yang pria itu sembunyikan.
Mata Caesa mengarah pada pintu utama yang terbuka. Hembusan angin masuk ke dalam hingga Ia bisa merasakan hembusan angin tersebut. Senyuman muncul di bibir ranum wanita itu, selintas pikiran ingin keluar dari mansion ini muncul.
__ADS_1
"Nona ingin ke mana?" tanya penjaga pria yang mengenakan pakaian serba hitam dan satu pistol tersemat di pinggangnya.
"Aku ingin keluar, sebatas gerbang itu saja. Apa kau tidak lihat banyak bunga yang bermekaran di luar gerbang itu. Aku ingin memetiknya," balas Caesa dengan wajah memelasnya.
Penjaga itu menatap bunga yang di sebut Caesa. Tapi Ia ragu bila memperbolehkan wanita itu ke sana meski jaraknya begitu dekat.
"Tapi Nona___"
"Sabar ya sayang nanti bunda petikan bunga untukmu. Jangan sampai kau ileran bila keinginanmu tak terpenuhi," sela Caesa memotong cepat ucapan penjaga tersebut. Ia mengusap-ngusap bagian perutnya yang sedikit membuncit itu.
Penjaga itu menghela napas panjang.
"Baiklah, tapi hanya sebatas gerbang saja."
Caesa tersenyum dan mengangguk semangat. Wanita itu segera melangkah menuju ke arah gerbang yang di tumbuhi berbagai jenis bunga dengan warna-warna yang berbeda. Pemilik netra coklat berair itu menatap kagum pada bunga-bunga yang tumbuh lebat di sana di tambah hembusan angin segar dan pepohonan rimbun yang membuat udara semakin sejuk. Satu persatu Caesa memetik bunga yang entah apa namanya, sepertinya ini bunga liar yang tumbuh begitu saja di dekat gerbang.
Mata pria yang memiliki jambang lebat itu masih fokus menatap sosok Caesa yang masih sibuk memetik bunga. Hari ini para penjaga tidak terlalu banyak dan bisa di hitung beberapa orang yang berjaga di tempat ini. Sebagian penjaga yang lain di tugaskan untuk ke pelabuhan mengambil barang-barang yang sudah di pesan Arga.
Ya, Arga selalu melakukan transaksinya di pelabuhan, karna hanya tempat itu yang menurutnya aman dan terhindar dari polisi.
"Nona...!!"
Penjaga itu tampak panik ketika tidak melihat sosok Caesa. Hanya melihat jam tangannya seperkian detik dan tiba-tiba wanita itu sudah tidak ada lagi.
"Nona Caesa!!" Penjaga itu mendekat pada gerbang, tempat terakhir wanita itu berdiri memetik bunga.
Raut wajah panik terlihat jelas dari wajah pria itu yang sudah berkeringat dingin. Kepalanya bisa kena penggal bila wanita itu benar-benar hilang.
__ADS_1
"Hei, ada apa?" tanya salah satu penjaga yang menghampiri.
"Nona Caesa hilang. Awalnya dia ada di sini dan sekarang sudah tidak ada lagi."
"Mungkin dia masuk ke dalam hutan. Jangan panik seperti itu. Kau juga belum memeriksanya betul-betul."
Kini, beberapa penjaga sudah berpencar di beberapa titik mencari keberadaan wanita itu.
•
•
"Kau terlalu banyak membeli kue nya," ucap Hendrik kala Arga memborong semua kue yang di jual di toko dekat pinggir jalan itu.
"Ini semua aku belikan untuk Caesa, kemarin aku lihat dia sangat menyukai kue ini," balas Arga.
"Tapi istrimu tidak mungkin serakus itu. Satu potong kue sudah membuat dia kenyang."
"Masih bisa di simpan di kulkas. Sekarang cepat jalankan mobilnya. Hari ini aku sudah mengatur janji dengan dokter kandungan."
Alis Hendrik mengkerut."Ini sudah sangat malam apa dokter masih membuka kliniknya jam seperti ini?"
"Aku membayarnya cukup besar, tentu kliniknya masih buka."
"Terserah kau saja." Hendrik menghela napas berat dan fokus menyetir mobilnya dan kini jalanan sudah lengang oleh pengendara.
Mobil yang di tumpangi keduanya sudah memasuki bagian hutan dan sebentar lagi akan sampai di mansion. Kening Arga mengkerut menatap beberapa tangkai bunga berceceran di tengah jalanan.
__ADS_1