
Sinar cahaya matahari pagi membias ke wajah Caesa yang perlahan membuka matanya karna silau. Wanita itu menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya hingga terbuka sempurna. Bola mata indahnya menatap ke langit-langit kamar yang sangat berbeda dengan kamar yang Ia tempat.
Kening Caesa mengernyit kala mendapati dirinya berada dalam sebuah kamar yang begitu luas dan megah. Terdapat ukiran-ukiran gambar hewan dan tumbuhan di sisi tembok kamar bercat putih dan abu-abu itu. Aroma harum bunga lavender menyapa indra penciuman Caesa yang saat ini dibuat terpana oleh kamar yang Ia tempati sekarang.
Wanita itu meraba-raba piyama sutra yang Ia kenakan sekarang. Sepertinya seseorang sudah menggantikan pakaiannya. Caesa perlahan menapakkan kedua kaki telanjang di lantai yang terbuat dari marmer tersebut. Ia melangkah mendekat pada cermin kaca yang begitu besar, memantulkan bayangannya. Sorot mata Caesa menatap ke meja rias yang tersusun rapi make up dan alat rias lainnya di sana.
Pandangan Caesa mengedar ke setiap penjuru ruangan yang kosong, tidak ada siapapun kecuali dirinya seorang.
Sayup-sayup suara bising di luar balkon kamar mengundang perhatian Caesa yang kebingungan. Ia melangkah pelan ke arah balkon kamar yang tertutup pintu kaca bening itu.
Lagi, Caesa dibuat terpana dan takjub kala membuka pintu menuju balkon dan di suguhkan pemandangan alam yang begitu indah. Senyuman manis terukir di bibir pucatnya. Ia melangkah pendekat pada sisi balkon dan menunduk menatap ke bawa, terlihat barisan beberapa pria di sana. Kening Caesa semakin mengkerut penuh kebingungan.
"Aku sebenarnya ada di mana?" gumam Caesa, mengigit bibir bawahnya kelu.
"Nona..."
"Astaga! Kau mengagetkan ku," ucapnya terperanjat kaget mendapati seorang wanita yang mengenakan seragam pelayan sudah berdiri di belakangnya.
Pelayan wanita itu tersenyum tipis merespon keterkejutan Caesa.
"Maafkan saya Nona, jika mengagetkan anda. Saya ke sini di minta tuan Andreas memanggil anda ke meja makan untuk sarapan pagi."
"Hah? Tuan Andreas itu siapa?" Raut wajah Caesa semakin kebingungan dibuatnya.
"Mari ikut saya." Pelayan itu tak menggubris pertanyaan Caesa, tapi mengajak wanita itu ke lantai bawah.
__ADS_1
Mata Caesa bergerak liar menatap beberapa hiasan senjata api tertempel di setiap sudut tembok dengan dilindungi kaca bening agar tidak sembarang orang yang berani menyentuhnya. Tempat ini seperti istana zaman dulu yang dihias oleh lampu yang berbentuk obor.
"Lift? Kenapa tidak lewat tangga saja?" ucap Caesa menunjuk ke arah tangga.
Pelayan wanita itu menggeleng."Tuan melarang, anda sedang hamil." ucapnya mengingatkan kondisi Caesa saat ini.
Setelah mengucapkan itu tak lama pintu lift terbuka dan Caesa segera melangkah masuk bersama pelayan tersebut.
Lagi, Aroma bunga lavender menyapa indra penciuman Caesa, di dalam lift tersebut dilengkapi pengharum aroma. Tak lama pintu lift terbuka dan sudah di suguhkan oleh ruangan yang sangat megah dan mewah. Tanpa sadar, Caesa melangkah keluar dari lift dan mendekat pada jajaran makanan yang ada di atas meja makan yang tersusun rapi.
Tangan kurusnya terulur mengambil satu potong kue brownies coklat dan langsung melahapnya dengan jumlah besar. Sungguh, dari kemarin Ia ingin sekali memakan kue brownies ini.
Para pelayan yang lebih di dominasi wanita tersebut berjejer berdiri di sisi meja makan dengan 10 jengkal.
"Uhuk...uhuk..."
"Apa tenggorokannya sakit?" tanya seseorang dengan suara yang terdengar berat dan serak di kedua telinga Caesa.
Caesa mendongak dan terperangah ketika menatap wajah suaminya yang benar-benar terlihat berbeda. Wanita itu mengerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang Ia lihat sekarang. Kenapa Arga sangat berbeda, suaminya sangat-sangat tampan.
•
•
"Tenangkan dirimu, Lex," ucap Merlin berusaha menenangkan sang putra.
__ADS_1
"Aku harus membawa Caesa kembali padaku, Mom. Dia milikku..." lirih Alex, pelupuk mata pria itu berair.
Ia sangat mencintai Caesa dan tidak ingin kehilangan wanita itu. Karna keinginan memiliki anak dan demi mengabulkan keinginan orang tuanya, Ia mengorbankan Caesa menikah dengan sopirnya, dan sekarang Ia harus kehilangan mantan istrinya.
"Maksudmu apa, Lex? Mommy tidak paham?" ucap Merlin dengan raut wajah kebingungan bercampur penasaran.
"Aku meminta Caesa untuk..."
Alex mulai menceritakan awal mula Ia meminta Caesa menikah dengan Arga demi mewujudkan keinginan Merlin, hingga Caesa memilih ikut dengan Arga setelah positif hamil. Dan lebih parah lagi, Caesa meninggalkan nya saat perusahaannya mengalami masalah yang pelik. Alex juga mengungkapkan tentang kondisinya saat ini yang mengalami kemandulan.
Merlin yang mendengar penjelasan Alex tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya terbungkam dengan tubuh yang menegang kaku. Penjelasan yang putranya lontarkan menjadi tamparan keras bagi Merlin. Ia yang selalu menyalahkan Caesa karna tak bisa hamil, dan ternyata putranya yang bermasalah.
"Gila kau, Lex! Mommy memang menginginkan cucu tapi bukan berarti Caesa harus menerima benih pria lain. Kenapa kau tidak mengatakan kondisimu dari awal, Lex? Hiks...."
Merlin membengkap mulutnya, meredam isak tangisnya. Anak yang Ia bangga-banggakan dan akan memberikan Ia cucu sebagai pewaris, hanya pria mandul.
"Tolong Mom, tolong minta Kevin untuk mencari keberadaan Caesa. Aku tidak bisa tanpa dia..." ucap Alex serak, penuh permohonan pada Merlin yang masih shock.
Bagaimana pun Caesa sudah menjadi separuh nyawanya. Ia rela mengorbankan perasaannya dan menahan cemburunya demi mewujudkan keinginan dan menutupi kondisinya yang mandul pada semua orang.
__________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
See you di part selanjutnya:)