
27 tahun berlalu
Seorang pria yang mengenakan rompi tuxedo abu-abu dilapisi jas hitam yang mengkilap menuruni anak tangga. Sorot matanya yang tajam bagai burung elang tertuju pada wanita muda yang kini sudah berdiri di ruang tamu dengan tubuh dan raut wajah tegang ketika netra coklat berairnya bersitatap dengan iris hitam pekat miliknya.
Beberapa anak buah pria itu sudah berdiri di beberapa sudut ruangan dengan senjata yang tersisip di celananya. Bunyi langkah sepatu pria itu bagai suara yang mampu membuat jantung wanita muda itu berdegup semakin manggila.
Argio mendudukkan dirinya di single sofa dan menaikkan kedua kalinya di atas meja kaca bening di ruangan itu dengan posisi kaki menyilang. Aroma maskulin langsung menyeruak merasuk ke indra penciuman wanita muda yang sudah berkeringat dingin. Kedua tangannya bertautan sudah basah oleh keringat.
"Jadi..., ada urusan apa kau ingin menemuiku?"
Suara bariton nan basah itu terdengar jelas di kedua telinga wanita muda yang menundukkan kepalanya.
"A-aku ingin menawarkan diriku padamu, Tuan. Aku butuh uang." Wanita itu berucap dengan nada suara yang bergetar, meredam rasa takut yang tiba-tiba merambat dalam dadanya berhadapan dengan Argio.
Jika bukan karna keadaan terdesak ia tidak mungkin menjual tubuh dan keperawanan pada pria hidung belang yang sialnya sangat tampan. Argio cukup terkenal di kota ini, bukan hanya kekayaan nya, tapi pria itu juga suka bergonta-ganti wanita untuk menghangatkan ranjangnya.
Argio menatap wanita muda itu dari atas sampai bawah seperti sedang menilai. Ia menggerakkan jarinya mengikuti lekuk tubuh wanita muda itu. Dada rata, badan kurus, dan kantung mata yang menghitam, jerawat menyebar di sekitar wajah, membuatnya tak berminat. Apalagi tampilan wanita itu sangat tak menarik. Ia memang pria yang suka mencari kehangatan di atas ranjang dengan wanita berbeda-beda tapi wanita di hadapannya sekarang membuat ia bergidik.
"Tapi sayangnya, saya tidak berminat dengan tubuhmu."
Ucapan Argio membuat Naya langsung menatap pria yang memasang wajah datar itu. Kedua matanya bergulir, ucapan dokter langsung terngiang-ngiang di kepalanya tentang keselamatan ibunya yang harus segera menjalani operasi.
__ADS_1
Argio bangkit dari sofa dan hendak beranjak dari tempat itu dan tiba-tiba Naya langsung bersimpuh di hadapan Argio yang terkejut dengan apa yang wanita itu lakukan.
"Saya mohon Tuan. Saya butuh uang sekarang, terserah saya mau Tuan apakan yang terpenting berikan saya uang..."
Naya bersimpuh sambil memegang kedua kaki Argio dengan kepala tertunduk. Air mata tak sanggup wanita itu bendung, ia benar-benar membutuhkan uang dan hanya ini harapan satu-satunya.
"Saya tidak bisa!" sentak Argio menendang Naya yang langsung terjungkal kebelakang.
Walaupun mendapat perlakuan seperti itu, Naya tak pantang menyerah. Ia kembali menghalangi jalan Argio yang hendak melangkahkan kakinya ke tangga.
"Saya mohon, Tuan. Tolong saya, ini demi ibu saya."
"Memangnya ibumu kenapa?" tanya Argio.
Dengan sesegukan sambil mengusap cairan kental di hidungnya ia mulai berucap."Ibu saya harus segera di operasi..."
Tangisan Naya semakin kencang setelah mengatakan itu seolah menambah rasa kasihan pria itu padanya. Argio terdiam sejenak dan sorot matanya menatap sekali lagi wanita itu dari atas sampai bawah seperti mencari sesuatu yang menarik dari tubuh wanita itu.
"Baiklah, berapa yang kau butuhkan?"
Tangisan Naya langsung terhenti dan langsung tergantikan wajah yang berbinar cerah.
__ADS_1
"50 juta," jawab Naya sesegukan.
"Aldo, berikan uang yang diminta wanita ini," perintah Argio pada bawahannya tersebut.
"Baik Tuan Argio."
"Ikuti Aldo, dia akan memberikan uang yang kau minta tadi," ucap Argio yang diangguki Naya dengan semangat.
Wanita muda itu langsung mengikuti tangan kanan Argio.
"Ingin kau apakan wanita itu?" tanya Hendrik setelah menyimak apa yang ia lihat. Ia merasa kasihan jika Argio berbuat macam-macam pada wanita yang terlihat polos itu.
"Tentu untuk bersenang-senang," balas Argio dengan senyuman seringainya.
"Berhentilah melakukan kebiasaan burukmu itu. Jangan sampai ayahmu yang turun tangan."
Argio menatap Hendrik dengan senyuman kecil."Selama kau bisa menjaga rahasia, ayahku tidak akan tahu. Menurutku hal yang wajar aku butuh kepuasan di ranjang. Apa kau lupa, umurku sudah 27 tahunan. Dan lagipula aku membayar wanita-wanita itu."
"Dasar bocah!" umpat pria berusia 50 tahunan itu.
Cerita ini akan publish dengan judul buku yang berbeda setelah cerita di sebelah selesai. Dan ini menjadi kelanjutan dari balas dendam Merlin atas kematian Alex.
__ADS_1