
"Khm..." Suara deheman yang sengaja dikeraskan membuat perhatian dan atensi Alex teralihkan pada Arga yang melangkah masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Caesa semakin erat mencengkram jas yang Alex Ia kenakan, seolah ketakutan. Ia masih trauma atas perlakuan yang Arga lakukan padanya.
"Seharusnya Tuan tidak langsung masuk ke kamar ini," ucap Arga seraya meletakkan mangkok bubur yang mengepul asapnya. Dan ucapan pria itu bukan hanya sekedar basa-basi tapi bermakna sindiran.
Wajar, kan, seorang suami marah saat istrinya dipeluk pria lain meski itu adalah pria yang sangat istrinya cintai?
Alex tak menggubris ucapan Arga, netra biru kecoklatannya kembali menatap wajah pucat Caesa dan mengusap lembut punggung wanita tersebut dengan penuh kasih sayang.
"Tuan bisa keluar dari kamar ini, biar saya yang mengurus istri saya." Arga sengaja menekan kata istri. Seolah mengingatkan posisinya saat ini adalah suami dari istri mantan majikannya tersebut.
"Kau jangan mengatur saya! Caesa memang istrimu tapi itu hanya sementara!" sarkas Alex tegas.
Arga menundukkan kepalanya sejenak dan tersenyum tipis." Saya tahu, Tuan. Tapi, setidaknya Tuan tahu batasan. Karna bagaimana pun Caesa istri saya."
Alex mengeraskan rahangnya, seolah terpancing dengan setiap ucapan yang Arga lontarkan. Meski terdengar sopan ditelinga Alex tapi tetap saja Ia tak terima. Mau Caesa sudah terikat dengan pria lain manapun wanita tersebut tetap miliknya.
"Mas..." Suara lemah Caesa membuat emosi dalam diri Alex sedikit mereda."Sebaiknya kau keluar. Aku ingin istirahat. Aku baik-baik saja."
Caesa tersenyum menatap pria tersebut, menutupi rasa sakit yang Ia rasakan sekarang. Tidak ada gunanya mengadu pada Alex bila pada akhirnya akan terjadi berdebatan.
"Baiklah, Sayang. Jika kau kenapa-kenapa atau butuh sesuatu, langsung panggil aku atau pelayan."
Caesa mengangguk dan Alex mencium mesra kening wanita tersebut dan itu tidak luput dari tatapan Arga yang menyiratkan sesuatu. Alex melirik tajam ke arah sopir pribadinya tersebut saat akan keluar dari kamar.
Setelah Alex keluar, kini tinggal Arga dan Caesa. Wanita itu kembali membenarkan posisinya berbaring di kasur. Arga berjalan mendekat pada sang istri dan duduk sisi kasur.
"Biasakan kunci pintu."
Caesa yang mendengar itu menatap jengah pada Arga. Jujur, Ia masih tak habis pikir dengan Alex yang mempekerjakan Arga di rumah ini sebagai sopir. Bukan apa-apa, Arga datang ke rumah mereka dengan tubuh yang penuh luka dan mantan suaminya tersebut membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Dan tiba-tiba saja Alex mempekerjakan Arga menjadi sopir setelah pria itu sembuh.
Sibuk dengan lamunannya Caesa sampai tak sadar ketika tangan kekar Arga mengusap permukaan perutnya yang tertutup selimut tebal.
"Kau akan segera hamil dan mengandung anakku."
Caesa menepis kasar tangan Arga ketika sadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Dia anakku. Kau hanya menanamkan saja. Dan aku berdoa semoga aku cepat hamil. Aku tidak ingin melakukannya lagi denganmu!" ketusnya. Bercinta dengan Arga sudah membuat Ia jera. Pria itu kasar di atas ranjang atau memang tak berpengalaman dalam masalah itu? pikir Caesa.
"Ah, saya sampai lupa, saya membawa bubur untukmu. Bagaimana pun saya merasa bersalah karna kejadian tadi," ucap Arga mengambil semangkok bubur yang Ia letakkan di atas meja.
Sedangkan Caesa hanya mengernyitkan keningnya menatap bubur yang tampak masih hangat dengan taburan bawang merah dan cincangan daging ayam.
"Ayo buka mulutmu." Arga menyodorkan sendok yang penuh bubur. Sementara Caesa menatap aneh pria itu.
"Apakah kau tidak punya otak? Bagaimana bisa aku makan bila posisiku masih berbaring seperti ini!"
Arga yang awalnya ingin marah karna umpatan sang istri, kini menatap posisi Caesa sekarang.
"Maaf, saya lupa. Sini saya bantu."
"Aku bisa sendiri!"
Lagi, Caesa menepis kasar tangan Arga. Ia menolak bantuan pria itu karna masih dendam.
•
•
Seorang pria dengan pakaian santainya turun dari mobil tersebut.
"Selamat datang Tuan Andreas," ucap dua pria berpakaian hitam tersebut tanpa berani menatap, mereka begitu segan dan takut dengan pimpinan kegelapan itu.
"Apa sudah datang?" tanyanya datar dan dingin.
"Belum Tuan, mungkin sebentar lagi."
Pria yang dipanggil tuan Andreas itu mengangguk samar dan menyalakan sebilah rokok dan menyesapnya dalam.
"Ingat, kalian harus berhati-hati. Polisi bisa saja tengah mengawasi kalian dan aku tidak ingin penyeludupan barang-barang ini sampai gagal seperti dua tahun kemarin."
Ia mengingat betul bagaimana polisi melesatkan beberapa pelurunya dibagian tubuhnya. Andreas menatap lurus ke arah lautan yang ada hanya kegelapan sama seperti hatinya yang menghitam dan membeku setelah sepeninggal keluarganya.
"Kapan anda akan kembali ke rumah utama, Tuan?"
__ADS_1
"Setelah urusanku selesai. Di mana Hendrik?"
Ia baru sadar tidak ada Hendrik di pelabuhan ini untuk mengawasi anak buahnya.
"Tuan Hendrik berada di club."
Andreas memejamkan matanya sejenak. Rubah sialan itu memang tidak bisa diandalkan, pria itu terlalu mementingkan kesenangannya.
Kini, pagi hari mulai menyapa dengan sinar matahari yang mulai memunculkan dirinya dengan semerbak aroma embun di pagi hari. Dua orang tengah berkumpul di meja makan, menikmati hidangan yang tersedia di atas meja.
"Kenapa kau diam saja, ayo makan," ucap Alex menatap Caesa yang tiba-tiba menghentikan pergerakan tangannya setelah beberapa suap memasukkan makanan dalam mulutnya.
"Apa tidak bisa di batalkan saja rencana Mas pergi keluar kota?" Caesa menatap Alex yang tersenyum tipis.
"Tidak bisa Sayang. Aku harus ke sana untuk melihat perkembangan proyek yang dibangun. Aku hanya dua hari saja di sana. Dan kau tenang saja, ada Arga yang akan menjagamu."
Raut wajah Caesa langsung berubah kesal. Ia tak suka dengan pria itu, menurutnya Arga pria aneh dan kasar.
"Arga!" Suara keras Alex menggelegar dan tidak lama pria berpakaian serba itu datang.
"Ada apa, Tuan?" tanya Arga seraya melirik Caesa yang langsung membuang muka.
"Aku akan pergi selama dua hari keluar kota, tolong kau jaga Caesa dengan baik," ucap Alex dengan nada memerintah.
"Tentu saya akan menjaganya, dia adalah istri saya."
Alex menatap tajam pria tersebut. Menurutnya setelah Arga menikah dengan Caesa sikapnya mulai berubah. Marah? Tentu Ia marah dengan ucapan Arga yang seolah menyematkan Caesa sebagai miliknya.
__________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak untuk mendukung karena ini dengan memberikan like dan komen🙂
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
See you di part selanjutnya:)
__ADS_1