
Jangan lupa mampir ke karya aku yang ini ya reader!^^
Caesa tersenyum menatap bayi mungil yang berada dalam kontak inkubator, dan kini dipindahkan ke ruangan tempat Ia di rawat sekarang. Setelah siuman dan mendapatkan pemeriksaan dokter, akhirnya Ia bisa melihat putra kecilnya walaupun tidak bisa menyentuhnya.
"Terima kasih, Sus," ucap Arga pada dua suster yang mengantarkan putranya ke ruangan ini.
"Sama-sama, Pak. Jika membutuhkan sesuatu silahkan tekan bel di samping di brankar," ucap salah satu suster yang diangguki oleh Arga.
Setelah dua suster keluar dari ruangan tersebut, Arga melangkah mendekat pada Caesa. Tangan kanannya terulur mengusap lembut kepala sang istri yang tak mengalihkan tatapan matanya dari bayi mungil itu.
"Dia mirip denganmu," ucap Arga. Caesa mendongak menatap suaminya.
"Tapi dia lebih dominan mirip denganmu, Mas. Apa kau sudah memberikan dia nama?" tanya Caesa serak.
Arga mengangguk."Sudah. Namanya Argio Andreas, bagaimana? Apa kau menyukainya?"
"Nama sangat bagus. Aku sangat menyukainya," jawab Caesa yang kembali menatap putranya. Sesekali bayi itu menggeliat dalam kotak kaca dan itu membuat Caesa gemas sendiri melihatnya. Tak sabar segera menyentuhnya.
"Mas..."
"Ya, ada apa, Sayang?"
Caesa terdiam sejenak sebelum kembali melontarkan ucapannya, tangannya terulur menyentuh tangan Arga dan menggenggamnya.
"Bagaimana keadaan Alex? Maksudku apa dia..." Caesa menggantungkan ucapannya.
"Dia sudah mati. Hendrik sudah menembaknya," balas Arga cepat. Raut wajah pria itu mendatar dan melepaskan genggam tangan sang istri. Namun, Caesa dengan cepat kembali meraih tangan Arga.
"Aku tidak bermaksud membuatmu cemburu. Aku hanya takut Alex kembali lagi ke sini dan menyakitiku," ucap Caesa, yang seolah tahu apa yang suaminya pikirkan tentang ucapan yang ia lontarkan tadi.
Mendadak senyuman terukir di bibir Arga. Suasana hati pria itu begitu cepat berubah.
"Dia tidak akan menyakitimu sampai kapanpun. Seharusnya dari awal aku membunuhnya."
"Mas..., jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kau menjadi pembunuh lagi. Sekarang kau jadi ayah dan harus mencontohnya yang baik pada anak kita," ucap Caesa menegur suaminya. Sementara Arga merespon ucapan istrinya dengan sebuah ciuman di kening.
"Kau kenapa?"
__ADS_1
Raut wajah Arga tampak khawatir ketika Caesa tampak meringis memegangi bagian perutnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja perutku sedikit sakit," balas Caesa seraya membenarkan posisi berbaringnya.
"Mau di panggilkan dokter?"
Caesa menggeleng." Tidak usah Mas. Wajar aku merasakan sakit, aku baru saja operasi, kan?"
Arga mengangguk membenarkan ucapan Caesa, tapi tetap saja Ia sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Sementara Caesa mengulurkan tangannya mengusap-ngusap wajah Arga. Dengan sedikit kesusahan ia mengangkat tubuhnya dan memberikan ciuman basah di bibir suaminya yang langsung merekahkan senyuman yang tersirat kebahagiaan di dalamnya.
"Aku sangat mencintaimu, Mas. Maaf karna sempat membuatmu khawatir," ucap Caesa parau. Masih segar di ingatannya sebelum menutup matanya rapat setelah menembakkan itu, Arga terlihat menangis dan meneteskan air matanya hingga mengenai wajahnya.
Tidak ada balasannya dari Arga kecuali sebuah pelukan hangat yang ia berikan pada Caesa. Ia juga sangat mencintai istrinya dan inilah yang ia tunggu-tunggu dari dulu, ungkapan hati Caesa tentang perasaannya.
"Aku juga mencintaimu. Sangat," ucap Arga.
Caesa tersenyum tipis, ia mengusap lembut punggung suaminya.
Pernikahan paksa yang terjadi akhirnya menumbuhkan cinta. Walaupun Arga dan Caesa saling menolak satu sama lain dalam hubungan paksa yang diciptakan oleh Alex. Tapi siapa sangka seiring berjalannya waktu pernikahan mereka berdua sudah berjalan selama satu tahun, menumbuhkan benih-benih cinta dan melahirkan buah cinta mereka berdua. Bayi mungil nan tampan.
•
•
Tampak seorang wanita paruh baya menangis terisak-isak di atas pusaran sang putra. Mata yang membengkak dan wajah yang pucat sudah menggambarkan bagaimana sakit kehilangan yang Ia rasakan dan pedihnya harus berdiri tegak seorang diri tanpa ada lagi yang menopangnya.
"Mommy tidak berdaya tanpamu, Nak. Kenapa kau begitu cepat meninggalkan Mommy..., sekarang Mommy tidak memiliki siapa-siapa lagi."
Setelah suaminya meninggalkan dirinya 10 tahun yang lalu, kini putranya juga ikut meninggalkannya. Membiarkan Ia menderita dan berjuang seorang diri di dunia ini. Kenapa Tuhan begitu tega memberikan ujian sesakit dan sepedih ini? Merlin tertunduk dalam di atas pusaran Alex, membiarkan air matanya melebur di atas makam putranya. Tubuh wanita paruh baya itu gemetar dengan kesedihan mendalam yang Ia rasakan.
Setelah tiga hari menghilang. Alex di temukan tak bernyawa di sebuah sungai yang tak jauh dari hutan. Polisi menganggap bahwa putranya menjadi korban pembunuhan. Dan sampai sekarang orang yang membunuh Alex belum di temukan sampai sekarang. Dan itu menciptakan dendam yang teramat dalam di benak Merlin. Ia bertekad akan menemukan pelaku dari pembunuh putranya.
"Mommy bersumpah akan mencari orang yang sudah melakukan hal keji ini terhadapmu. Dia tidak boleh bahagia dan bisa hidup tenang setelah melakukan ini," ucap Merlin yang tampak jelas kemarahan dari sorot matanya yang terus meluruhkan air mata.
Merlin meletakkan setangkai bunga mawar putih di atas pusaran Alex. Tangannya yang keriput mengusap batu nisan yang tampak kotor.
Sementara di tempat lain, seorang bayi mungil berada dalam box menatap objek di depannya. Mainan yang terus berputar-putar di atas kepala menarik perhatiannya yang tampak tertarik menatap warna yang kontras pada mainan yang mengeluarkan suara. Caesa terlihat tak henti-henti mencium tangan mungil Argio yang sesekali berusaha melepaskan genggaman tangan sang mama. Kedua tangan mungilnya lebih tertarik hendak menggapai mainan yang ada di atas kepalanya.
Dan Arga sengaja membeli box bayi yang cukup besar setidaknya mampu menampung Ia dan Caesa tidur di dalam sana.
__ADS_1
"Anaknya siapa ini? Tampannya."
Caesa mencium gemas pipi Argio yang membulat dan merona walaupun pada akhirnya bayi itu menangis kencang merasa sakit di bagian wajahnya yang ditekan cukup kencang oleh Caesa.Tapi mau bagaimana lagi, ia dibuat gemas sendiri melihat putranya. Lima tahun mengidam-ngidamkan seorang anak membuat Ia tidak bisa berjauhan dari putranya.
Jika dilihat-lihat wajah putranya sangat mirip dengan Arga. Hanya hidung dan mata yang mirip dengannya. Ia yakin, jika dewasa nanti putranya akan sangat tampan sekali.
Tidak lama, pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Arga yang langsung melempar asal tas kerjanya ke atas sofa. Raut wajah pria itu tampak lelah dan keletihan setelah seharian berperang dengan setumpuk kertas. Ia melangkah gontai dan langsung merebahkan dirinya di samping sang putra yang langsung menoleh.
"Mau aku siapkan air hangat?" tanya Caesa ketika Arga sudah berbaring. Biasanya suaminya langsung minta disediakan air hangat untuk membersihkan badannya.
"Tidak perku, Sayang. Aku sudah sangat kelelahan. Kemarilah."
Caesa mengernyitkan keningnya ketika Arga meminta mendekat. Meskipun begitu, Ia tetap menurut dan kini berpindah duduk di samping suaminya.
"Kenapa?"
"Tunggu sebentar."
Arga bangun dari rebahannya dan kini duduk menghadap ke arah sang istri. Ia mengeluarkan kotak kecil dalam saku celananya. Caesa tampak kaget kala Arga membuka kotak kecil yang berisi cincin permata.
"Ini untukmu. Seharusnya dari jauh-jauh hari aku memberikannya. Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Arga disertai senyuman kebahagiaan di dalamnya.
Caesa membekap mulutnya terkejut dengan apa yang suaminya berikan. Arga menarik tangan kanan Caesa dan menyemangatkan cincin yang kini tampak sangat indah saat sudah terpasang di jari manis istrinya.
"Kenapa menangis, hmm?"
Arga mengusap sudut mata Caesa yang meneteskan air mata.
"Aku sangat bahagia, Mas. Terima kasih banyak." Caesa langsung berhambur dalam pelukan suaminya. Ini kebahagiaan yang Ia impi-impikan dari dulu. Memiliki suami yang sangat menyayanginya tanpa menuntut apapun dan dikaruniai bayi mungil yang tampan.
"Apapun akan aku lakukan untuk kebahagianmu, Sayang."
Sementara Argio menatap interaksi kedua orang tuanya. Kedua tangannya terangkat hendak menggapai Arga.
Oek....
Tangisan Argio yang cukup kencang membuat keduanya langsung menatap sang putra. Arga maupun Caesa tersenyum menatap buah cinta mereka berdua.
"Sepertinya dia cemburu mamanya di peluk," ucap Arga tertawa. Sedangkan Caesa langsung mengangkat Argio dalam gendongannya.
__ADS_1
"Aduh anak Papa cemburuan ya, tidak suka mamanya di peluk Papa." Arga mencium gemas wajah mungil Argio. Caesa tersenyum bahagia melihat keduanya.
...🍂SELESAI🍂...