
"Aku tidak mau, jangan paksa aku!" Caesa melepaskan genggaman tangan Alex di pergelangannya.
Melihat reaksi wanita tersebut, amarah Alex mulai tersulut, Ia mendorong kasar bahu Caesa hingga menubruk kasar ke mobil.
"Kau wanita yang tidak tahu terima kasih, Caesa! Aku sudah memberikan semuanya untukmu termasuk cinta. Tapi lihat...kau begitu mudah menjalin hubungan dengan pria lain dan melupakan aku!" sentak Alex seraya mencengkram kasar pipi Caesa.
"Sstt...sakit Mas."
Caesa berusaha melepaskan cengkraman tangan Alex di pipinya. Sekarang Alex benar-benar berubah, tidak seperti yang Ia kenal. Dulu pria itu selalu berlaku lembut padanya dan sekarang berubah menjadi pria yang kasar.
"Apa kau lupa Mas, hubungan ku dengan Arga terjadi karna kau yang memulainya. Kau yang meminta ku untuk menikah dengannya, sekarang kau menyalahkan aku ketika aku memilih ikut dengannya yang jelas-jelas statusnya sekarang suamiku..." ucap Caesa dengan lirih serta menahan ngilu di kedua pipinya yang masih dalam cengkraman Alex.
Kristal bening mulai merembes dari pelupuk mata Caesa hingga mengenai tangan Alex. Bibir wanita itu bergetar mengingat awal mula masalah ini sampai terjadi. Alex tak pernah tahu bagaimana perasaannya saat pernikahan paksa itu terjadi.
"Kau memojokkan ku dengan kata-katamu yang seolah kau adalah korban dalam masalah ini. Sedangkan aku yang jelas-jelas menjadi korban keegoisan mu, Mas. Aku tidak pernah mempermasalahkan tentang kekuranganmu yang tidak bisa menanamkan benih dalam rahimku..."
Caesa menangis tersedu-sedu di sela ucapannya yang menyakitkan hati. Perlahan cengkraman Alex di pipi Caesa mengendur, meninggalkan bekas kemerahan di wajah wanita itu. Caesa meneguk ludahnya kasar dan menghapus air mata yang semakin merembes.
"Andai kau jujur dengan kondisimu dengan mommy dan tidak memikirkan harga diri serta reputasimu, ini semua tidak akan terjadi. Pernikahan kita tidak mungkin hancur dan berakhir perpisahan seperti ini karna ide gilamu itu, Mas. Perpisahan yang meninggalkan luka diantara kita berdua..."
Setelah mengucapkan keluh kesah yang Ia pendam dalam benaknya selama ini, Caesa beranjak pergi dari hadapan Alex yang diam mematuh dengan tubuh menegang. Ucapan Caesa seperti tamparan keras baginya. Pria mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan perih dan marah pada dirinya sendiri.
Bugh!
Caesa meringis kesakitan ketika menabrak benda yang cukup keras, wanita itu terlalu cepat berlari hingga tak melihat sesuatu di hadapannya. Ia mendongak, netra coklatnya yang penuh air mata bertubrukan dengan mata hitam pekat milik Arga.
"Kau kenapa? Dan pipimu kenapa?"
Arga langsung menyentuh pipi kanan Caesa yang terlihat meringis kesakitan. Wanita itu langsung memeluk tubuh suaminya, menangis tersedu-sedu. Kedua tangannya mencengkram kemeja Arga begitu erat. Sosok Alex muncul dari balik mobil membuat alis Arga mengkerut. Alex melangkah mendekat pada keduanya dan matanya terus terotasi pada Caesa. Rasa perih semakin menjadi-jadi melihat wanita yang Ia cintai memeluk pria lain.
Arga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Caesa kala jarak Alex begitu dekat dengan mereka berdua. Ia menatap mantan majikannya itu dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Ceraikan Caesa, aku masih menuntut janji yang sudah kita berdua sepakati," ucap Alex, menepis rasa bersalahnya pada Caesa dan tetap dengan pendiriannya untuk merebut Caesa agar kembali pada pendiriannya.
Alex benar-benar menyesal atas keputusan yang Ia buat. Walaupun penyesalan nya tersebut sudah sangat terlambat, tapi Ia masih mempunyai peluang untuk kembali mendapatkan Caesa melalui Arga.
Caesa mendongak menatap suaminya, menunggu reaksi pria itu dengan permintaan Alex. Arga diam sesaat tidak langsung membalas ucapan Alex.
"Bagiku perjanjian yang kita buat sudah hangus. Aku tidak akan menyerahkannya, Caesa sendiri yang memilih ikut denganku jadi seharusnya kau tidak mempermasalahkan ini lagi," balas Arga dengan raut wajah tenang dan nada suara yang rendah. Tidak ada percikan amarah yang tergambar dari wajah tampan pria itu.
Sementara dada Alex semakin memanas dengan rasa cemburu dan amarah yang bergejolak. Dan wajah yang menegang.
"Tapi aku orang pertama yang memiliki Caesa dan aku akan merebut sesuatu yang sudah menjadi milikku dari awal!
Arga tersenyum tipis. Ia menundukkan kepalanya melihat Caesa yang masih erat memeluk dirinya tanpa ingin menatap Alex. Bagi wanita itu menatap mantan suaminya membuat luka dalam hatinya semakin menganga.
__ADS_1
"Untuk apa kau merebut Caesa yang jelas-jelas sudah memiliki status denganku. Lebih baik kau ikhlaskan dia, berapa kalipun kau menyungging tentang perjanjian kita, itu tidak akan berarti apa-apa," ucap Arga penuh tekanan setiap kata yang Ia lontarkan.
Rahang Alex semakin mengeras mendengarnya. Arga menggiring Caesa untuk kembali masuk ke dalam mobil, Ia tidak ingin berdebat dengan Alex bukan karna takut tapi melihat kondisi Caesa yang saat ini tengah hamil. Hati wanita itu begitu sensitif bila mendengar ucapan-ucapan kasar yang terlontar apalagi ini berkaitan tentang hubungan mereka berdua.
"Siapa yang memperbolehkan mu pergi? Urusan kita belum selesai."
Alex mencekal lengan Arga ketika melewatinya dan membuat langkah pria itu terhenti dan menoleh ke arah Alex, sama halnya dengan Caesa. Wanita itu sudah tak mempunyai tenaga lagi untuk kembali adu mulut ataupun berdebat masalah yang tak akan pernah usai. Tak takkan ada penyelesaian dalam masalah hati dan cinta bila diantara dua pria tersebut tidak ada yang mengalah terutama pada Alex yang kini hanya menjadi masa lalu bagi Caesa namun kekeh ingin memperjuangkan cintanya pada wanita itu.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah selesai." Arga menepis kasar tangan Alex dan kembali melangkah menuju mobil.
Alex menatap nanar mobil yang membawa Caesa mulai pergi menjauh dari pandangan matanya. Namun, sebuah seringai terbit di wajah tampan pria tersebut dengan sebuah rencana yang tersusun di kepalanya.
•
•
"Sstt...pelan-pelan sakit."
Caesa meringis kesakitan kala Arga memberikan salep pada bagian wajahnya yang terdapat luka lecet. Cengkraman Alex begitu kuat hingga meninggalkan bekas di wajahnya.
"Lain kali kau kunci mobil itu dari dalam. Jangan ceroboh seperti ini," ucap Arga yang kembali memberikan salep di wajah sang istri.
"Aku tidak tahu bila Alex tiba-tiba muncul di sana. Dan kau juga tiba-tiba meninggalkan ku di dalam mobil tanpa mengajakku," ucap Caesa dengan wajah merengutnya.
"Aku ada urusan sebentar dengan orang lain. Masih sakit?" tanya Arga ketika sudah selesai mengobati wajah istrinya.
Senyap. Mendadak dalam mobil itu menjadi hening hanya terdengar suara pengendara yang lewat.
"Bagaimana perasaan setelah bertemu dengan Alex?"
Kening Caesa mengernyit dan menatap suaminya dengan pandangan bingung. Ia tak paham maksud Arga.
"Apakah kau masih mencintai Alex?" Arga menatap Caesa dengan pandangan yang menyiratkan makna dari balik mata hitam pekatnya tersebut.
Wanita itu diam membisu dengan kepala tertunduk. Ia pun bingung dengan perasaannya saat ini. Antara membenci dan mencintai mantan suaminya tersebut.
"A-aku masih mencintai Alex. Tapi aku ingin tetap di sisimu. Mungkin terdengar egois bagimu, tapi itu yang saat ini aku rasakan sekarang dan aku tidak ingin menutupi apapun tentang perasaan ku padamu, Arga."
Arga menghela napas berat dan menangkup wajahnya kasar. Caesa melirik suaminya yang langsung diam membisu setelah mendengar ucapannya.
•
•
"Kau kenapa?" tanya Hendrik yang baru masuk ke dalam ruangan yang menjadi tempat terfavorit bagi Arga untuk menghabiskan waktu menyendiri atau sekedar mencari ketenangan.
__ADS_1
Arga hanya melirik sekilas asistennya tersebut dengan wajah malasnya yang lesu. Moodnya langsung jadi buruk setelah mendengar pengakuan Caesa tentang perasaannya pada Alex. Entah mengapa ada rasa tak terima dalam benaknya. Sebenarnya itu hal yang wajar bila Caesa belum menaruh perasaan apapun padanya, mengingat hubungan mereka berdua tak terlalu dekat, hanya sebatas suami istri yang di satukan dalam pernikahan kontrak. Tapi sekarang pernikahannya dengan Caesa bukan pernikahan kontrak lagi.
"Apa ini ada hubungannya dengan nona Caesa?" tebak Hendrik. Pria itu seolah cenayang yang bisa membaca isi pikiran orang lain.
"Sebaiknya kau keluar, aku tidak ingin diganggu."
"Baiklah, aku akan keluar tapi ada berita penting yang harus aku sampaikan."
Arga langsung merotasikan tatapannya pada Hendrik.
"Apa?"
"Besok ada rapat. Kali ini Tuan Rios ingin bertemu langsung dengan mu. Kau tahu sendirikan sudah berapa kali kau menunda-nunda pertemuan dengan tuan Rios hanya mengurusi drama tak bergunamu itu."
"Sialan kau!" Arga langsung melempar bantal yang ada di kursi sampingnya.
Sementara Hendrik tampak tertawa puas melihat wajah marah Arga. Kapan lagi Ia bisa membuat pria itu marah seperti ini.
Sedangkan di tempat lain, Caesa begitu tak tenang dan gelisah saat berbaring di kasur. Entah sudah berapa kali pandangan matanya menatap ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda Arga akan masuk ke dalam kamar ini.
"Kenapa dia tidak ke sini?" gumamnya.
Saat ini Ia ingin tidur memeluk pria itu dan merasakan usapan di kepalanya seperti yang Arga berikan saat kemarin.
Ceklek
Suara tuas pintu yang di putar membuat senyuman Caesa mengembang. Namun, senyuman itu langsung luntur ketika pelayan wanita masuk dengan membawa secangkir susu dan roti.
"Sebelum tidur Nona minum dulu susu khusus untuk ibu hamil ini."
Pelayan itu meletakkan susu dan roti gandum yang sudah di olesi coklat tersebut di atas meja dekat ranjang.
"Arga mana? Kenapa dia tidak ke sini untuk tidur?" tanya Caesa.
Kening pelayan itu mengernyit."Bukankah anda tidur berlainan kamar dengan tuan Andreas?" Pelayan wanita itu balik bertanya.
Sedangkan Caesa terdiam dengan bibir yang tertutup rapat.
_______
Hei girl! Terima kasih sudah mampir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)