
Dengan kaki yang gemetar Arga melangkah ke arah sang istri. Ia langsung menarik Caesa dalam dekapannya. Darah mengalir dari bawah kaki wanita itu. Sedangkan Alex langsung ambruk ke lantai setelah peluruh melesat masuk ke dalam tubuhnya dibagian belakang.
"Uhuk...uhuk...Ca-caesa..." lirih Alex terbatuk-batuk bersamaan dengan cairan kental merah keluar dari mulutnya. Perlahan pandangan pria itu mulai meredup bersamaan dengan napas yang memberat.
Hendrik yang menjadi pelaku penembakan menurunkan senjatanya. Ia melangkah menghampiri Arga dan melewati Alex yang sudah tergeletak tak berdaya dengan darah segar yang terus mengalir dari mulut dan punggung.
"Sebaiknya kita bawa Caesa ke rumah sakit," ucap Hendrik yang diangguki lemah oleh Arga yang sudah berderai air mata.
Mulut Arga sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Bukan hanya Caesa yang shock ketika suara tembakkan itu tapi juga Arga yang mengira Alex sudah melesatkan peluru pada istrinya.
"Kalian semua, urus pria ini. Buang dia jauh-jauh dari tempat ini tanpa meninggalkan jejak!" Perintah Hendrik tegas pada anak buah yang mengangguk serempak.
Hendrik tak peduli Alex masih hidup atau tidak, yang terpenting nyawa istri dari sahabatnya tersebut terselamatkan.
Mobil yang Hendrik kendarai melesat sangat cepat membelah jalanan yang sepi oleh pengendara bersamaan dengan hujan turun cukup deras, membuat pandangan di jalan itu sedikit kabur karna kabut.
"Bertahan sayang, sebentar lagi kita sampai." Arga mengusap wajah Caesa yang memucat. Air mata menetes dari pelupuk mata pria itu.
Pandangan matanya mengarah pada kaki Caesa yang terus meneteskan darah. Benturan yang cukup keras di lantai membuat perut wanita itu mengalami kontraksi dan bisa saja mengalami keguguran. Kini, mobil yang Arga tumpangi sudah berhenti di depan rumah sakit yang tampak tidak terlalu banyak pasien, mungkin karna sudah larut malam. Hendrik segera keluar dari mobil dan berteriak memanggil-manggil suster maupun dokter untuk segera menangani Caesa.
__ADS_1
Dengan rasa sesak dan takut kehilangan, Arga membawa Caesa keluar dari mobil. Dua suster sudah berdiri di dekat mobil dengan membawa brankar. Arga segera meletakkan pujaan hati dalam brankar.
"Segera siapkan ruang operasi!" teriak dokter pada suster yang lain.
"Apa yang terjadi, kenapa harus langsung operasi?" ucap Arga pada dokter Rani. Dokter yang menjadi tempat Caesa selalu mengontrol kandungannya.
"Usia kandungannya sudah delapan bulan dan sekarang mengalami kontraksi hingga mengalami pendarahan. Yang terpenting anda harus mendatangi surat perjanjian," papar dokter Rani.
"Untuk apa aku mendatangi surat itu? Jika operasi merupakan jalan yang terbaik untuk Caesa tidak usah tanda tangan!" sentak Arga terbawa emosi. Entahlah, kali ini pikirannya benar-benar kacau.
"Karna kami tidak bertanggungjawab saat terjadi sesuatu dengan pasien atau bayi yang dia kandung."
"Maksudmu apa!" Arga langsung menarik kerah baju dokter Rani yang tampak terkejut dengan perlakuan pria itu.
"Tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik saja. Dokter itu tidak bermaksud membuat kau semakin khawatir. Caesa akan baik-baik saja."
Hendrik mengusap bahu Arga yang tampak diam seolah memedam kesedihan, marah, dan rasa takut yang menggumpal menjadi satu dalam dadanya.
"Aku takut kehilangan dia..." lirih Arga, mengigit bibir bawahnya menahan air mata kembali menetes.
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja. Dokter akan melakukan yang terbaik untuk Caesa. Perbanyak berdo'a."
Arga diam, tak membalas ucapan Hendrik. Ia tampak larut dalam kesedihannya saat ini. Tidak ada gunanya terlihat kuat di depan orang lain bila nyatanya Ia tersiksa akan kesedihan. Trauma atas kehilangan sang ayah sudah menjadi bayangan yang terus menghantui Arga, dan sekarang Caesa...
Sudah satu jam berlalu. Lampu di depan pintu ruang operasi itu masih berwarna merah dan tidak ada tanda-tanda seseorang keluar dari tempat itu. Arga masih setia berdiri di depan sana. Ia berharap semuanya baik-baik saja.
•
•
"Arga..." Suara panggilan seseorang membuat pria itu perlahan membukanya dan mendapati Hendrik sudah berdiri di hadapannya dengan membawa kantong kresek.
Pria itu menatap sekitar yang sudah tampak ramai suster dan para pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang.
"Apa operasinya sudah selesai?" Pertanyaan itu yang langsung terlontar dari mulut Arga, seolah pikiran tak pernah luput memikirkan keadaan Caesa.
Hendrik terdiam sejenak."Ya, operasinya sudah selesai. Selamat anakmu laki-laki, dia sangat sehat. Dokter terpaksa melakukan operasi caesar meski belum waktunya dia lahir."
Guratan kebahagiaan tampak dari wajah Arga. Ia bangkit dari kursi besi yang menjadi tempat Ia bersandar dan tidur semalaman di sana.
__ADS_1
"Lalu keadaan Caesa bagaimana?" tanya Arga dengan wajah berbinar, berharap istrinya juga baik-baik saja.
Hendrik menghela napas berat dan menundukkan kepalanya sejenak."Caesa mengalami kritis dan sekarang koma."