
Caesa tampak tak enak hati melihat raut wajah datar suaminya saat Ia bertanya seperti itu. Tapi, Ia butuh kepastian dan jawaban dari pria tersebut. Ia takut yang diucapkan pria tua yang menculiknya itu hanya kebohongan semata.
Hening. Tiba-tiba ruangan itu jadi hening beberapa saat, hingga helaan napas panjang terdengar dari Arga. Pria itu menatap sendu Caesa yang tak mengalihkan pandangannya dari suaminya, masih menunggu jawaban yang keluar dari mulut Arga.
"Iya, aku memang bandar narkoba. Dan seperti yang kau lihat aku memiliki segalanya dari pekerjaan itu."
Pupil mata Caesa membesar mendengar pernyataan dari suaminya. Mulutnya masih belum mampu mengeluarkan sepatah katapun karna masih terlalu shock.
"Walaupun begitu, pekerjaan ku bukan hanya itu saja. Aku memiliki perusahaan yang bergerak di bidang jasa."
Tentu, Arga membangun perusahaan itu untuk melindungi dirinya. Polisi tak akan mampu menangkap dan memenjarakannya bila Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang cukup besar di negara ini.
Masih dengan wajahnya yang masih shock, Caesa berucap."Jika sudah mempunyai pekerjaan lain kenapa masih melakukan pekerjaan haram itu? Itu kriminal dan aku tidak suka!"
Wanita itu tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya. Ia tidak mau Arga terus terlibat dalam pekerjaan haram itu dan bisa saja akan membahayakannya suatu saat nanti.
"Aku tidak bisa meninggalkannya Caesa. Itu bisnis yang ayahku wariskan padaku. Tidak mudah membangun itu dari awal, ayahku juga terpaksa melakukan itu untuk memberikan kehidupan yang layak untukku. Dia ingin aku tidak kekurangan apapun. Semenjak ibuku meninggalkan kami berdua dengan selingkuhannya karna ayah saat itu pengangguran. Dan itu awal mula ayah terjun ke dunia kegelapan itu untuk mencari sesuap nasi dan membiayai kebutuhan ku yang sudah mulai sekolah."
__ADS_1
Hawa panas mulai menyelimuti mata Arga. Menceritakan ini pada istrinya membuat luka lama kembali terbuka dan membuat dadanya sangat perih dan sakit. Dan Ia masih ingat jelas bagaimana ibunya menghina dan mencaci ayah sebelum memilih pergi begitu saja. Sedangkan Caesa bisa melihat raut kesedihan mendalam dari sorot mata Arga, dan itu membuat hatinya ngilu.
"Beberapa bulan ayah melakukan pekerjaan itu, perlahan pekerjaan itu mulai berkembang dan perekonomian keluarga ku mulai membaik, bahkan semakin membaik apapun yang aku ingin selalu diberikan. Hingga, saat usiaku lima belas tahun ayah pulang ke mansion ini dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh penuh darah dan luka tembakkan di mana-mana."
Arga mengusap kasar air mata merembes dari pelupuk matanya yang membanjir. Dadanya terasa seperti di cengkram begitu kuat dan rasa kehilangan yang kembali Ia rasakan. Ia sangat merindukan sosok sang ayah yang terlihat baik-baik saja yang nyatanya rapuh di dalam, seperti dirinya saat ini.
Dengan suara yang serak dan air mata yang terus mengalir Arga kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terjeda."Dan saat itu aku yang melanjutkan bisnis ini sekarang, Hendrik yang terus mendampingiku. Dia asisten dan sahabat setiaku."
Caesa tidak bisa berkata apa-apa lagi, Ia memilih memeluk suaminya, memberikan ketenangan lewat pelukan hangatnya. Air mata wanita itu juga mengalir deras, setiap kalimat yang terlontar dari mulut suaminya meninggalkan rasa ngilu dan perih dalam dadanya.
"Jangan tinggalkan aku karna pekerjaan ku ini. Aku sudah kehilangan ayahku," rengek Arga dengan suara yang terdengar serak. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Caesa. Membalas pelukan istrinya tak kalah erat.
•
•
"Arrggg...." Alex menggeram penuh emosi dan menggebrak meja sangat kuat hingga menciptakan suara yang keras. Napas pria itu memburu, wajah yang merah padam, dan keringat membasahi wajah Alex.
__ADS_1
Kondisi ruang kerja milik pimpinan Alfaroz grub itu sudah seperti kapal pecah dan sangat berantakan. Lembaran kertas dokumen bertebaran di lantai. Pecahan kaca bertebaran di lantai, dan bisa saja melukai seseorang jika menginjakkannya tanpa alas di sana.
"Caesa...!!" Suara teriakkan menggelegar Alex mengisi ruangan itu. Ia mencengkram rambutnya sangat kuat hingga kusut.
Setelah kehilangan wanita yang sangat Ia cintai, sekarang perusahaan peninggalan ayahnya sudah hampir bangkrut. Data perusahaannya sudah di curi dan di jual pada oknum yang tak bertanggungjawab. Dan karna itu membuat para konsumen menarik kembali saham mereka. Bukan hanya itu, beberapa perusahaan tidak ingin bekerja sama lagi dengan perusahaannya. Ia juga mengalami kerugian yang sangat besar.
"Caesa, aku membutuhkanmu."
Pria itu tampak menangis dalam diam. Dulu, wanita itu selalu menjadi meredam keresahan dan kegelisahannya, sekarang Ia sudah pergi meninggalkannya begitu saja. Kini, hanya tinggal penyesalan dan kesedihan.
•
•
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)