
Pagi-pagi buta Caesa bolak balik masuk ke kamar mandi, memuntahkan seluruh isi dalam perutnya. Wajah pucat dan keringat dingin membasahi wajah cantik wanita itu. Caesa membasuh mulutnya, Ia mendongak menatap pantulan dirinya dari balik cermin kaca dan kedua tangan berpegangan kuat pada sisi wastafel. Lelehan air mata membasahi pelupuk mata Caesa dengan rasa mual yang menyiksa dan membuat tubuhnya melemas.
Ceklek
"Kau kenapa?"
Caesa terkejut ketika Arga masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu langsung melingkarkan kedua tangannya di tubuh Caesa yang hampir limbung ke lantai. Sama halnya dengan Caesa yang memeluk tubuh Arga.
Tanpa membuang waktu, Arga langsung mengangkat badan Caesa keluar dari kamar mandi. Dengan hati-hati pria itu membaringkan sang istri ke atas kasur.
"Tunggu sebentar," ucap Arga hendak beranjak pergi, namun pergelangan tangan pria itu langsung di cekal oleh Caesa yang menggeleng lemah.
"Te-tetap di sini, kumohon..." lirih Caesa, menatap memohon pada Arga yang langsung mengurungkan niatnya hendak pergi mencari minyak kayu putih dan mengambil air hangat.
Arga ikut membaringkan dirinya di samping Caesa yang langsung memeluk erat tubuh suaminya. Wanita itu merapatkan tubuhnya pada Arga, seolah mencari kehangatan dalam pelukan suaminya.
"Kepalaku pusing," ucap Caesa manja dan mendongak menatap Arga.
Seolah paham apa yang wanita itu inginkan, tangan kanan Arga terulur memijit pelan kepala Caesa dan tangan yang lain menjadi bantalan untuk sang istri.
"Masih mual?" tanya Arga. Tersirat kekhawatiran dari nada bicara pria itu.
Caesa mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Arga. Entah apa yang terjadi pada dirinya yang begitu mendamba ingin terus berdekatan pada Arga. Tapi yang jelas rasa mual yang Ia rasakan sedikit berkurang. Tangan kanan Arga masih setiap memijit kepala Caesa yang kembali tertidur dan pelukan wanita itu semakin erat di tubuh Arga.
•
•
Dokter Riana tengah memeriksa Caesa yang masih terbaring lemah di atas kasur. Sementara Alex berdiri di sisi ranjang dengan senyuman seringainya. Ia berharap Caesa hamil dan akan langsung Ia urus proses perceraian mereka berdua.
__ADS_1
Sedangkan Arga entah pergi ke mana setelah dokter Riana datang ke mansion ini.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Alex ketika dokter Riana selesai memeriksa Caesa.
"Selamat Tuan Alex, Nona Caesa positif hamil."
Senyuman di bibir Alex mengembang sempurna mendengar kabar bahagia yang sudah lama Ia tunggu-tunggu selama ini. Sama halnya dengan Caesa yang menampilkan raut kebahagiaan di wajah pucatnya.
"Jika ingin lebih jelas lagi mengenai kandungannya, anda bisa periksakan langsung ke dokter spesialis kandungan," sambung dokter Riana yang ikut bahagia.
"Iya, terima kasih dokter Riana."
Alex mencium kening Caesa dengan rasa syukur mendalam. Kedua tangan mereka berdua saling bertautan.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan Alex," ucap dokter Riana.
"Mari saya antar Dokter Riana," balas Alex yang melepaskan tautan tangannya dengan Caesa.
Wajah Caesa yang awalnya bahagia kini berubah suram penuh kesedihan. Cairan benih jatuh membasahi bantal yang Ia rebahi. Ia teringat dengan surat perjanjian yang Alex buat sebelum Arga menikahinya. Gelisah, cemas, dan sedih mencekik kuat perasaan Caesa sekarang.
Sedangkan di tempat yang berbeda Arga menggebrak meja penuh emosi. urat-urat menonjol di leher pria yang sedang di selimut amarah tersebut. Semua anak buah menunduk takut dengan aura menyeramkan yang menguar dari tuan Andreas.
"Kenapa kalian bisa lalai dan tidak becus mengerjakan ini semua, hah?!"
"Dan kau!" Arga menatap tajam ke arah Hendrik." Kau tahu, aku rugi ratusan juta karna barang itu hilang begitu saja!"
Arga mengacak rambutnya frustasi.
"Sepertinya ini ada campur tangan Shena, karna dia ikut terjun langsung dalam kakel ayahnya yang bekerja sama dengan kakel kita," ucap Hendrik.
__ADS_1
Kedua tangan Arga mengepal penuh emosi membara. J*lang itu terus ikut campur dan menggagalkan rencananya.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan," desis Arga dengan seringai iblisnya.
•
•
"Ayo cepat makan, jangan menolak, Sayang."
Alex berusaha membujuk Caesa yang terus menghindar ketika Ia ingin menyuapkan makanan ke dalam mulut wanita itu.
"Aku tidak mau, Mas. Aku tidak lapar."
Alex menghela napas berat."Sayang, sekarang kondisimu sedang hamil. Setidaknya kau makan untuk anak kita."
"Anak kita?" ucap Caesa mengulang ucapan Alex dengan kening berkerut.
"Iya, anak yang kau kandung sekarang adalah anak kita berdua meski ayah biologisnya adalah Arga."
Tubuh Caesa menegang mendengar kalimat yang berhasil mencubit perasaannya saat ini.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
__ADS_1
See you di part selanjutnya:)