
Caesa masih tertegun menatap penampilan Arga yang benar-benar berbeda. Bukan hanya penampilannya yang berbeda tapi juga warna kulit yang terlihat putih bersih. Mata wanita itu mengarah pada tato yang terukir di samping leher Arga, memperlihatkan sebuah lambang nama dengan tulisan cina. Dan potongan rambut dengan gaya undercut, membuat pria itu semakin tampan.
"Arga?" gumam Caesa mendongak menatap suaminya.
"Iya, ini aku Arga."
Senyuman terukir di bibir tebal Arga. Kedua tangannya merengkuh pinggang Caesa dan menarik sang istri agar semakin merapat dengan dirinya. Sedangkan tatapan Caesa bergulir menatap wajah suaminya.
"Siapa kau sebenarnya, dan kenapa kita ada di sini?" tanya Caesa seraya menatap sekitar ruangan tempat Ia berada sekarang dan kembali menatap Arga dengan pandangan yang menuntut jawaban atas semua pertanyaan dalam benaknya saat ini.
Arga menghela napas berat, menundukkan kepalanya sejenak.
"Aku akan menjelaskan semuanya. Apapun pertanyaan yang kau berikan akan aku jawab. Sekarang kita sarapan lebih dulu." ucap Arga dengan tatapan teduhnya.
Pria itu menuntun Caesa ke kursi dan mendudukkan wanita itu di kursi yang bersebelahan dengan dirinya. Caesa masih bingung, Arga yang sedikit berbeda dan sekarang Ia berada dalam mansion asing ini. Tidak mungkin mansion ini milik suaminya, karna yang Ia tahu Arga hanya seorang pelayan dan sopir, batin Caesa.
Bukan Ia merendahkan suaminya, tapi itu memang kebenarannya.
"Biarkan saya yang melakukannya, Tuan," ucap salah satu pelayan ketika Arga hendak mengambilkan soup untuk Caesa.
"Tidak perlu," tolak Arga dengan raut wajah datarnya. Ia menuangkan soup yang masih panas itu dengan asap yang mengepul ke dalam mangkok.
Pelayan itu mundur dan kembali berdiri di tempatnya. Sedangkan Caesa tak mengalihkan pandangan matanya dari Arga.
"Makanlah."
Arga menyerahkan soup yang baru saja Ia tuangkan ke mangkok pada Caesa. Wanita itu dengan ragu-ragu mulai menyantap makanan yang suaminya berikan. Arga tersenyum melihatnya, senyuman yang beberapa tahun lalu ini sudah lenyap setelah kematian sang ayah.
__ADS_1
"Apapun yang wanita itu minta berikanlah meski nyawamu yang dia minta," ucap Hendrik pada kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Tentu Tuan. Kami rela melakukan apa saja demi Tuan Andreas termasuk wanita yang kini menjadi bagian hidupnya," jawabnya tegas dan penuh keyakinan. Ia sudah berjanji akan mengabdikan dirinya seumur hidup dengan keluarga Zafrel.
"Baguslah bila kau mengerti."
Hendrik beranjak dari samping kepala pelayan tersebut dan melangkah mendekat pada Arga yang sibuk memperhatikan Caesa yang begitu lahap memakan soup yang Ia berikan. Sesekali tangan pria itu terulur mengusap sudut bibir Caesa yang sedikit blepotan.
"Ada informasi buruk," bisik Hendrik di telinga Arga yang langsung menoleh pada tangan kanannya tersebut.
"Informasi apa?" tanya Arga yang juga berbisik di telinga Hendrik.
"Shena kembali berulah, wanita gila itu kembali memonopoli kikoin yang akan kita kirimkan. Kau tahu sendiri, wanita gila itu tidak akan berhenti melakukan aksinya jika kau tidak menemuinya. Aku sarankan kau temui dia daripada dia datang ke sini dan bertemu dengan Caesa," tutur Hendrik, setelahnya menjauh dari telinga Arga.
Hendrik hanya takut Shena datang ke mansion ini, dan bisa saja mencelakai Caesa apalagi bila wanita itu sampai mengetahui status Caesa sebagai istri Andreas.
"Dia sahabatku, dan juga bekerja sebagai asistenku," jawab Arga tanpa ada di tutupi tentang Hendrik.
Kening Caesa berkerut."Asisten?"
"Perkenalkan nama saya Hendrik, Nona Caesa." Hendrik sedikit membungkuk tubuhnya pada Caesa sebagai penghormatan.
Tangan Arga menyentuh tangan kanan istrinya dan mengenggamnya erat dengan tatapan hangat menatap wanita di sampingnya sekarang.
"Aku akan menjelaskan semuanya tapi tidak sekarang. Beri aku waktu, dan semoga kau betah di tinggal di sini. Ini akan menjadi tempat tinggal kita bertiga," ucap Arga seraya mengelus perut datar Caesa.
Arga benar-benar harus menyiapkan dirinya untuk menceritakan semuanya tentang dirinya pada Caesa. Tapi, untuk masalah pekerjaannya di dunia bawah akan Ia tutupi. Ia hanya menceritakan sisi terang tentang dirinya pada Caesa. Ia masih ragu dan takut istrinya tak akan menerima dirinya setelah tahu sisi gelap dirinya yang merupakan seorang kriminal dan bandar narkotika.
__ADS_1
•
•
Alex duduk bersandar di bahu brankar dengan sorot mata yang hampa penuh kekosongan, namun tersirat kesedihan dalam netra biru kecoklatan itu. Hari ini Ia akan kembali ke mansion, bukan karna keadaannya sudah pulih tapi Ia ingin segera mencari keberadaan Caesa. Sopir sialan itu benar-benar membawa pergi wanita yang sangat Ia cintai.
"Apa kau sudah melacak keberadaan Caesa?" tanya Alex ketika Kevin memasuki kamar rawat tersebut.
Pria yang mengenakan kemeja abu-abu itu menghela napas panjang. Ia menggeleng lemah. Raut wajah Alex yang sedikit berbinar dan berharap Kevin menemukan Caesa, kini harapan itu langsung pupus seperti angan-angan kosong.
"Saya sudah mengerahkan beberapa anak buah untuk mencari nona Caesa, tapi tidak sedikitpun kami mendapatkan informasi tentang keberadaannya."
"Bagaimana bisa kau tidak menemukannya! Bukankah ini pekerjaan yang sangat mudah untukmu!" sarkas Alex dengan urat-urat yang menegang di leher.
"Arga hanya pria dari kalangan rendahan yang tentunya sangat mudah bagi kalian untuk menemukannya. Dia pasti masih berada di sekitar kita, apa yang bisa pria miskin itu lakukan!"
Kevin hanya tertunduk mendengar deretan ucapan Alex yang penuh emosi dan amarah. Ucapan yang selalu merujuk pada status Arga yang merupakan orang biasa dan miskin. Sedangkan Alex hanya tahu sisi yang Arga perlihatkan bukan apa yang pria itu sembunyikan.
_________
Hei girl! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
Jangan lupa mampir ke akun tik tok @khazana_va Di sana aku banyak mengupdate visual Arga dan Caesa.
See you di part selanjutnya:)
__ADS_1